Zaim Saidi

Lahir pada tahun 1962 di Parakan, sebuah kota kecil di kaki-kaki Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro, Jawa Tengah, Zaim Saidi menempuh pendidikan tinggi formal di Institut Pertanian Bogor (1986) dan Sydney University (1997). Lepas kuliah ia aktif di beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), khususnya Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Walhi, Yasmin, Dompet Dhuafa, dan PIRAC. Aktivitasnya di LSM ini telah mengantarnya mengunjungi belasan negara di lima benua, mulai dari Amerika Serikat sampai Zimbabwe.

Semasa aktif tersebut Zaim banyak menulis kolom di harian dan majalah umum, khususnya HU Republika dan majalah Swasembada dan Tempo. Kolom-kolomnya kemudian dibukukan dengan judul Secangkir Kopi Max Havelar: LSM dan Kebangkitan Masyarakat (Gramedia, 1995), Konglomerat Samson Delilah: Menyingkap Kejahatan Perusahaan (Mizan, 1996), dan Balada Kodok Rebus (Mizan, 1999). Sedang tesisnya dari hasil belajar di Sydney University diterbitkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Soeharto Menjaring Matahari (Mizan 1998).

“Krisis Moneter” yang menghempas perekonomian Indonesia, dan mengakhiri Rezim Orde Baru (1998), telah mengantarkan Zaim ke pemahaman dan aktivitas yang lebih mengakar. Ia mulai menyadari bukan sekadar ada yang salah dengan sistem ekonomi politik yang berlangsung, melainkan sistem itu sendiri yang salah. Perekonomian modern, dan sistem politik yang menunjangnya, dilihatnya sebagai pengejawantahan sistem riba yang batil dan rapuh.

Zaim pun mulai mensosialisasikan pemakaian kembali dinar dan dirham sejak 1999, dengan inspirasi mata kuliah “Ekonomi Politik Internasional” yang pernah dipelajarinya di Universitas Sydney yang ketika itu baru saja ia selesaikan. Ialah yang untuk pertama kalinya mengangkat model alternatif yang berbeda sama sekali: dengan menyelenggarakan Seminar Nasional “Dinar Solusi Krisis Moneter”, 1999 di Jakarta. Bukan cuma berwacana, Zaim mulai membuka Wakala Adina (2002), yang merupakan tempat pengedaran Dinar emas dan Dirham perak, pertama di Indonesia.

lebaran-2015

Pada tahun 2005-2006 Zaim Saidi kemudian belajar lebih jauh tentang muamalat dan tasawuf langsung pada Shaykh Umar Ibrahim Vadillo dan Shaykh Dr Abdalqadir as Sufi, sambil melakukan penelitian di Dallas College, Cape Town, Afrika Selatan. Hasil studinya ini ditulis dalam buku Ilusi Demokrasi: Kritik dan Otokritik Islam (Republika, 2007). Selain aktif mengajak umat Islam kembali mengamalkan muamalat, dengan memakai dinar dan dirham, Zaim juga telah menulis beberapa buku lain, yang terkait dengan muamalah dan politik Islam:

  1. Lawan Dolar dengan Dinar (2001)
  2. Kembali Ke Dinar: Tegakkan Muamalat, Tinggalkan Riba (Pustaka Adina, 2003)
  3. Tidak Islamnya Bank Islam (Pustaka Adina, 2003) direvisi menjadi Tidak Syariahnya Bank Syariah (Delokomotif, 2013)
  4. Ilusi Demokrasi: Kritik dan Otokritik Islam (Republika, 2007)
  5. Euforia Emas (Pustaka Adian, 2011)
  6. Stop Wakaf Cara Kapitalis (Delokomotif, 2012)
  7. Jejak Nusantara di Afrika Selatan: Dulu dan Kini (Pustaka Adina, 2012)
  8. Di Ambang Runtuhnya Demokrasi: Menyongsong Kembalinya Sultaniyya di Nusantara (Pustaka Adina, 2013)

Saat ini Zaim Saidi memimpin Amirat Indonesia, yang terus mengupayakan kembalinya syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari umat Islam. Untuk itu ia mendirikan Wakala Induk Nusantara (WIN) yang mengkordinir wakala-wakala di seluruh Indonesia. Lalu menggerakkan Baitul Mal Nusantara (BMN) untuk penarikan dan pembagian zakat mal dalam dinar dan dirham, serta mendorong terbangunnya jaringan pengguna Dinar Dirham di Nusantara. Sejak 2009 secara periodis menyelenggarakan Pasar Muamalah, kadang disebut sebagai Festival Hari Pasaran (FHP), di mana masyarakat berjual beli dengan Dirham perak, di pasar terbuka, yang tanpa sewa, tanpa pajak, dan tanpa riba.

Sejak 2004 ia mendirikan penerbitan Pustaka Adina sebagai salah satu media syiar dan dakwahnya. Sejumlah buku, karya asli maupun terjemahan, telah diterbitkan melalui Pustaka Adina. Pada 2013 ia memulai Sekolah Muamalah, yang secara reguler mengadakan kajian pekanan, untuk membahas berbagai masalah muamalah dan siyasah. Metode yang digunakan adalah mengkaji kitab-kitab tertentu secara tuntas, bagian per bagian, hingga tamat sebelum berganti dengan kitab lain.

Zaim Saidi menikahi Dini Damayanti (1994) dan dikaruniai lima anak: Sahira Tasneem, Addina Akhtar, Anisa Zahra, Zidny Ilman, dan Maula Zakaria.