Cara Agar Muslim Keluar dari Liang Biawak Ahli Kitab

680

Karena peristiwa Tsunami di Aceh beberapa tahun lampau masyarakat menemukan koin-koin emas, Dreuham, yang merupakan mata uang Bangsa Aceh, dalam jumlah cukup besar. Di Tel Aviv, di California, juga pernah ditemukan koin-koin emas dalam jumlah besar. Ini  memperlihatkan banyak pertanda bagi kaum beriman dan bertaqwa. Koin-koin emas adalah  alat tukar sejati, uang yang beredar dari tangan ke tangan, melalui transaksi, yang berlaku di masa itu, ketika manusia masih mentaati perintah Allah SWT: menggunaan emas – dan pasangannya perak – sesuai fitrahnya.

Tidak pandang agama atau keyakinan masing-masing, fitrah adalah fitrah, mengikuti Rububiyah, manusia ditakdirkan mencintai emas dan perak, sebagaimana mencintai harta yang lain. Tapi Allah SWT, dan Rasul-NYA SAW, kemudian mengatur, memberikan hukum, kepada dua benda mulia ini, tentang keharusan mengedarkannya, ketetapan satuan beratnya, prasyarat halal haram di dalam pertukarannya, batas pemilikan dan penyimpanannya, kewajiban zakat atasnya, dan seterusnya.

Sampai pada suatu titik, sekelompok pembangkang, para bankir – semula dari golongahn Yahudi, diikuti kaum Kristiani – merasa memiliki kekuasaan melebihi Allah SWT – sebagai sebentuk kesyirikan – menyatakan bahwa emas dan perak tidak lagi memiliki fungsi dan peran sebagaimana ditetapkan Tuhan.

“Saya pun bisa memberikan nilai, pada secarik kertas – bahkan hari ini hanya pada bit komputer –  sebagaimana Tuhan memberikan nilai pada emas dan perak”. Dan, kembali dengan menentang Allah SWT, mereka menimbun-nimbun emas dan perak itu demi  kepentingan mereka sendiri.  Kepada kita disodori secarik kertas, yang mereka katakan, “Ini serupa dengan emas!”  Sedangkan Allah SWT melarang penimbunan emas dan perak itu.

Dan kita, secara membabi buta, menerima tipu muslihat ini.

Dan perlahan tapi pasti, umat Islam – bakan para ulamanya pun – masuk ke dalam liang biawak yang sama. Setapak demi setapak, pengamalan hukunm dan ketentuan Allah SWT dan Rasul-NYA terhadap emas dan perak ditinggalkan. Dan, mengikutinya, sebagian demi sebagian, hilang pula pengetahuan dasar – dan fitri – atas keduanya.

Bahkan, hari ini, para ulama itu, dengan percaya diri menyatakan, “O.. ya…emas dan perak sudah tidak lagi berlaku sebagai uang. Kini yang berlaku adalah kertas, maka ketantuan Allah SWT dan Rasul-NYA SAW, tidak lagi bisa diterapkan. Kita ikuti saja apa yang berlaku hari ini…”

Tapi kebenaran tetaplah kebenaran, meski telah terkubur ratusan, bahkan ribuan tahun. Penemuan koin-koin emas di atas, dalam waktu yang terus-menerus, adalah pemberi peringatan, bahwa emas adalah emas, kertas adalah kertas. Mata kepala, yang dilengkapi dengan mata bathin, akan dengan mudah memahaminya.

Lebih-lebih, sejak dua dekade lalu, sejumlah umat Islam di berbagai tempat di dunia ini, bahu-membahu, telah  kembali mencetak dinar dan dirham. maknanya kembali meletakkan keduanya sesuai fitrahnya, sebagai alat tukar yang harus beredar, berpindah dari tangan ke tangan. Hanya dengan satu alasan: mentaati perintah Allah SWT dan Rasul-NYA SAW. Kembalinya Dinar dan Dirham didahului dengan penegakkan Amar Islam, melalui para amir dan sultan. Umat Islam harus kembali berjamaah, dan memilih satu di antara mereka sebagai Ulil Amri, amir atau sultan.

penemuan-koin-emas-kuno

Wahai Muslim, bukalah mata bathinmu, agar mata kepalamu dapat melihat dan memahami semua ini dengan jernih. Semua petunjuk dan pertandanya telah Allah SWT berikan. Kembali taatilah perintah-NYA, melalui ketaatan kepada Rasul-NYA, melalui ketaatan kepada para amir dan sultan yang menjalankan syariat-NYA. Tegakkan muamalah. Gunakan Dinar dan Dirham dalam transaksi sehari-hari.