Aktivis dan Intelektual Jogya Bahas Sultaniyya

560

Aktivis Jogya Membahas SultaniyyaPara aktivis dan intelektual kumpul-kumpul itu suatu yang biasa. Tapi, kumpul-kumpul para aktivis dan intelektual di Jogya kali ini agak tidak biasa. Bukan karena tempatnya yang asri, dan bikin betah para peserta, yakni di rumah kebun Pak Angkasa Syahrudin dan Bu Isnaini binti Achmad, suami istri aktivis kemasyarakatan, yang lokasinya tak jauh dari Goa Selarong, Bantul, melainkan karena topik yang dibahas: Sultaniyya.

Amir Zaim Saidi memberikan pengantar, menjelaskan sistem negara fiskal yang telah uzur, dan alternatifnya, Sultaniyya, dengan syariat Islam sebagai landasannya. Hadirin dating dari berbagai latar belakang, ada mantan anggota DPRD, dosen, pengacara, wartawan, pedagang, dan anggota ormas. Turut dalam diskusi antara lain mas Suparman Marzuki, mantan Ketua Komisi Yudisial. Iniberlangsung Ahad sore, 24 Januari 2016.

Negara fikcal adalah sistem politik modern yang diciptakan oleh para bankir, dengan operator kelas politik baru yang diciptakan melalui mekanisme pemilihan yang juga baru diadakan. Ini dimulai setelah Revolusi Perancis. Watak dasar Negara fiskal adalah kezalimannya dalam menghilangkan kebebasan warga, pembebanan pajak, jerat hutang berbunga yang tiada berkesudahan. Sistem ini, tidak lain, adalah sistem riba.

Amir Zaim menawarkan alternatif model tata pemerintahan yang labih adil dan berorientasi kepada kesejahteraan rakyat, yakni Sultaniyya, dengan dasar syariat Islam sebagai landasan hukumnya. Dengan Islam maka riba diharamkan. Kapitalisme tidak akan terjadi. Dan kekayaan akan merata. Pajak juga merupakan praktek yang diharamkan.

Karena tema Sultaniyya ini relatif baru maka masih terdengar asing di telinga para peserta. Setidaknya sebuah pilihan lain telah disampaikan, dan menjadi pekerjaan rumah para peserta, untuk mendalami dan memahaminya. Salah satu rujukan yang bisa dibaca adalah buku Di Ambang Runtuhnya Demokrasi: Menyongsong Kembalinya Sultaniyya di Nusantara, karya Amir Zaim Saidi.