Amal Madinah: Cetak Biru Jalan Kembalinya Islam

867

Saya ingin memulai catatan ini dengan merujuk pada Shayh Dr Abdalqadir As-Sufi yang menyatakan bahwa ’Islam bukanlah sebuah idealisme.. Islamnya Rasulullah SAW telah tercapai, telah diletakkan, telah terjadi, telah berlangsung, telah bertahan dan kemudian tersapu bersih (Root Islamic Education, 1993:15). Ini menegaskan bahwa Islam, sebagai sebuah jalan hidup, pernah merupakan sebuah kenyataan eksistensial. Bahwa dalam seratus tahun terakhir ini kenyataan eksistensial yang kita alami adalah berbeda sama sekali, dan dalam waktu bersamaan eksistensi Islam telah lenyap, merupakan realitas. Maka, upaya untuk mengembalikannya jelas bukan sebuah mimpi, sebab sejarah belum berakhir, sampai ajalnya tiba kelak.

pasar madinaBagi umat Islam sendiri itu bermakna bahwa keadaan saat ini – tata cara kehidupan zaman modern ini – telah semakin jauh dari realitas Islam yang paling otentik. Islam yang paling otentik, tentu saja, adalah pengalaman paling awal, paling murni, paling dekat dengan Rasul SAW. Pengalaman ’paling awal’ dan paling terjaga kemurniannya adalah pengalaman tiga generasi pertama, yakni generasi Sahabat, generasi Pengikut (Tabi’in), dan generasi sesudah Pengikut (Tabii’t-Tabi’in). Persoalannya adalah: bagaimanakah kita mendekati Islam otentik ini? Maka yang kita perlukan adalah sebuah cetak biru, bukan sekadar klaim ’golongan saya’ dan ’golongan saya’-lah yang merepresentasikan Islam otentik tersebut.

Untuk menemukan jawaban atas persoalan ini umat Islam, pertama-tama, haruslah memahami dahulu dua fenomena ini sekaligus: punahnya eksistensi Islam di satu sisi dan berlangsungnya eksistensi lain, yang asing bagi Islam, di sisi lain. Eksistensi yang asing bagi Islam yang kini praktis menjadi cara hidup seluruh umat manusia di bumi ini, Muslim atau bukan, tiada lain adalah kapitalisme.

Kapitalisme dan reaksi Umat Islam

Kapitalisme adalah sistem yang dibangun di atas fondasi riba dan menjadikannya sebagai doktrin absolut. Dalam perspektif ini sosialisme pun adalah kapitalisme dalam versi lain, yakni kapitalisme negara. Sebab kapitalisme dalam negara modern telah ditetapkan dalam konstitusi, dengan elemen utamanya sistem bank sentral dengan uang kertasnya, kredit berbunga, dan pemajakan paksa.  Saat ini praktis tidak ada satu pun negara modern yang bukan negara kapitalis – dengan sistem demokrasi atau sosialis atau lainnya. Konstitusi merepresentasikan dogmatisme hukum negara modern ini yang semuanya sama di muka bumi ini, menopang kapitalisme sebagai cara hidup.

Dengan tesis dasar ini maka yang absen dari kehidupan, dan menjadikan situasi saat ini sebagai ’kaum Muslim tanpa Islam’, adalah aspek civic affairs dari Islam.   Dalam dua abad terakhir ini proyek kapitalisme adalah menundukkan Islam pada sisi ini. Islam ditolerir, diarahkan – dengan cara diperbarui – oleh kapitalisme, dan disisakan sebagai esoterisme. Islam dibebaskan, lebih tepatnya dikungkung, hidup hanya di mushola dan masjid-masjid, serta ranah pribadi semata. Syariah hanya diterima untuk hal-hal privat: perkawinan, kelahiran dan kematian, serta urusan waris-mewariskan harta. Selebihnya, urusan-urusan publik, pemerintahan dan perdagangan, sepenuhnya harus tunduk kepada kapitalisme. Sekularisasi ini adalah jasa besar liberalisme Islam bagi kapitalisme.

Sementara itu reaksi dari sebagian umat Islam lain, yang pada akhirnya hanya berbeda varian saja, adalah fundamentalisme yang berujung pada dua jalan buntu. Jalan buntu pertama adalah radikalisme – yang di antaranya terjebak dalam terorisme – dan berakhir pada nihilisme. Jalan buntu kedua adalah islamisasi kapitalisme, yang berakhir dengan produk kapitalisme par excellence, bank Islam dengan turunannya (pasar saham Islam, kartu kredit Islam, obligasi Islam, dst). Di sini yang Islam dan yang bukan tidak lagi dapat dibedakan, kecuali pemakaian kata sifat ’Islam’ itu semata. Dalam konteks ini termasuk gagasan untuk mengislamisasi negara, tiada lain, adalah jalan buntu jebakan kapitalisme belaka.

Gagasan ’Negara Islam’, dengan segala turunannya (partai Islam, parlemen Islam, demokrasi Islam, Perda Islam, dst), berakar dari ketidakmengertian total para pendukungnya atas konsep negara modern (baca: Capitalist State) sebagai sebuah tirani ribawi. Di sisi lain mereka juga tidak memahami watak tatanan masyarakat Islam yang sepenuhnya berdasarkan pada fitrah.   Rasulallah SAW menegaskan, ’Al-Islam dien al-fitrah.’ Pada perilaku penduduk Madinah Al Munawarah-lah kita dapat menemukan jalan fitrah tersebut.

Amal Madinah sebagai Cetak Biru    

Di sini tidak untuk menguraikan Amal Madinah secara memadai. Maka, hal terpokok yang dapat disampaikan, sekaligus mengkontraskan pengertian antara cara hidup fitrah dan kapitalistik adalah, meminjam definisi Shaykh Umar Vadillo, Islam adalah ’pemerintahan tanpa negara dan perdagangan tanpa riba’. Pada dasarnya tatanan kehidupan inilah yang diwujudkan di Madinah, oleh tiga generasi pertama Islam.   Lantas cetak biru apa yang dapat kita gunakan untuk kembali ke sana?

Ibn Taymiyyah menyatakan pentingnya kembali ke Madinah sebagai titik temu, tempat yang bebas dari perselisihan dan dari segala bentuk penyimpangan (bid’ah). Ia merujuk ke Imam Malik, yang sepenuhnya mendasarkan diri kepada perilaku dan pengalaman hidup yang dilestarikan oleh tiga generasi pertama Madinah, sebagai tradisi yang tak berubah-ubah. Inilah, sesungguhnya, pelestarian dan pewarisan pola perilaku yang menjadikan Islam sebagai kenyataan hidup mewujud untuk pertama kalinya. Metode Maliki adalah induk semua madhhab (Ummul Madhhab). Jalan Malik bukan saja akan membawa umat Islam kepada sumber terbaiknya, tetapi juga akan menyatukannya.

cover RIE lowres

Shaykh Abdalqadir As-Sufi menunjukkan alasan mengapa metode ini paling tepat untuk mendekati Islam otentik. Peran madhhab bukan semata sebagai suatu pendekatan pengambilan keputusan hukum. Kekeliruan kebanyakan umat Islam saat ini adalah memandang madhhab semata-mata sebagai kumpulan keputusan hukum, kompilasi aturan-aturan, yang mencakup beragam aspek kehidupan dan ibadah yang statis. Padahal, tiap madhhab menghasilkan suatu realitas sosial-politik tertentu.

Penerapan madhhab Hanafi, misalnya, sangat bersesuaian dengan realitas politik elitis, birokratik dan legalistik, sebagaimana ditunjukkan dalam fenomena Daulah Moghul dan Utsmani. Sementara madhhab Maliki menghasilkan suatu dinamika otoritas politik di satu sisi, yakni Amir, dan otoritas yudikatif di sisi lain, yakni para Fuqaha. Hal ini menghasilkan perimbangan kekuasaan antara entitas politik, Amirat di satu sisi, dan pengendalian atas dasar syariah oleh fuqaha di sisi lain, secara fitrah. Kedua otoritas berbasis pada komunitas. Sebaliknya, sama sekali ditinggalkannya madhhab saat ini – buah dari esoterisme – menghasilan suatu realitas politik ’Muslim tanpa Islam’ di atas. Mencampakkan madhhab berarti mencampakkan pengambilan keputusan hukum, pelaksanaan keputusan tersebut, dan otoritas politik di atasnya, secara sekaligus. Ringkasnya: mencampakkan madhhab berarti mencampakan syariah, dan mengasimilasikannya ke dalam kapitalisme.

Mereplikasikan Amal Madinah, dengan Metode Maliki sebagai cetak birunya, dengan demikian bukan saja urgen, tapi menjadi mungkin. Dalam prakteknya Metode Maliki telah berhasil ditempuh untuk merestorasi aspek civic affairs Islam secara efektif. Kembalinya Amirat, dan Sultaniyya dalam tingkatan yang lebih tinggi dan luas, penerapan muamalat dengan pemakaian koin dinar emas dan dirham perak, dipraktekkannya kembali penarikan zakat sesuai rukunnya, di berbagai belahan bumi saat ini (dari ujung Eropa Selatan, Granada, ke ujung Selatan Afrika, Cape Town, sampai di kawasan timur di Asia, Nusantara), telah menandai terbukanya kembali pintu gerbang Madinah Al Munawarah.

Dan Islam akan kembali tegak di muka bumi ini. Dengan izin dan kehendak Allah SWT.

SHARE
Next articleKisah Toko “5Sodara”