Aman Tanpa Pintu, Bersih Tanpa Tong Sampah

409

Seperti  kota-kota lain di Jepang, Sapporo, ibu kota Prefektur Hokkaido, Jepang bagian utara, tertata apik, rapi, dan sangat bersih.  Padahal  justru tidak mudah kita menemukan tong sampah di seantero kota. Tapi hampir tak ada kita temukan selembar bungkus permen sekalipun tercecer di jalanan.  Tak  ada tanda-tanda bekas orang meludah atau membuang ingus.

Bangunan perkantoran, toko-toko, bangunan besar maupun kecil, serta rumah-rumah dan apartemen,  tidak ada berpagar, atau kalaupun berpagar, cukup rendah saja, dan gerbangnya pun dibiarkan tiada berpintu.  Pertanda tingkat keamanan yang prima. Dalam peringkat dunia Jepang adalah negeri  no 3 teraman, sesudah Singapura dan  Luksemburg.

Stasiun-stasiun kereta api dan kereta api bawah tanah juga  tak berpintu. Gerbang elektronik disiapkan untuk calon penumpang memasukkan tiket KA pada saat datang maupun pergi. Tapi semuanya dibiarkan terbuka, tanpa pintu. Dan tak ada satu orang pun nampak menerobosnya. Semua tertib, memasukkan kercis, saat masuk dan keluar stasiun.

Meskipun begitu jangan coba-coba berbuat curang dengan menerabas gerbang tanpa pintu tersebut. Dengan tiba-tiba akan keluar “daun pintu” secara otomatis, menghadang sang penerabas.

Bukan cuma itu. Seluruh kota dibuat begitu ramah bagi kaum difabel, termasuk kaum tuna netra yang tak banyak jumlahnya. Seluruh trotoar, fasilitas umum, dibuat dengan fasilitas khusus bagi mereka, dengan jalur khusus , dan hanya berhenti sampai di ujung peron KA saat mereka naik gerbong!

Pemandangan dan keadaan ini sungguh terbalik dengan di Jakarta ataupun Indonesia pada umumnya. Begitu banyak tong sampah, tapi sampah justru berceceran di mana-mana.  Bahkan tong-tong sampah itu sendiri menjadi bagian dari kesemrawutan!

Stasiun KA semua telah  berpintu,  juga dengan gerbang elekronik, justru banyak yang menerbosonya, dan  menumpang kereta tanpa berkarcis.  Rumah dan bangunan tidak hanya harus berpintu kuat-kuat, tapi masih juga dilapisi teralis, didobeli dengan gembok besi, tidak menyurutkan para pencuri.

Jadi, yang kita lihat di Jepang  adalah kualitas manusianya.  Falsafah yang mereka anut, dan bisa diterapkan, adalah semua orang adalah baik kecuali sedikit  orang yang jahat. Karena itu, gerbang dibiarkan terbuka, kecuali bagi yang mencoba-coba menerabasnya, secara otomatis daun pintu akan mencegatnya. Tong sampah tak diperlukan, karena manusianya adalah pembersih, disiplin, dan tak suka menyampah.

Sementara di Jakarta falsafah sebaliknya yang kita terapkan: semua orang adalah jahat, kecuali sedikit yang baik. Gerbang stasiun KA harus berpintu, dikunci rapat, kecuali bagi yang mau membayarnya.

Ini PR besar bagi kita untuk membentuk manusia dengan futuwwa, manusia-manusia dengan integritas dan karakter pribadi yang bajik.