Anggaran Kurang, JKW-JK Geber Pengadaan dan Penggunaan Utang

434

Tanggal 20 Oktober 2016 Pemerintah Jokowi-JK akan memasuki tahun ketiga masa pemerintahannya dalam kondisi kekuangan  dana yang tidak sehat. Dana yang dibutuhkan pemerintah jauh melebihi kemampuan pemerintah mengadakan dana atau  defisit anggaran.

Untuk mengisi kekurangan dana pemerintah harus menarik utang Rp 371,56 Trilyun di tahun 2016 ini dan diperkirakan naik Rp 17,4 Trilun menjadi Rp 389 Trilyun di tahun 2017. Selain nambah utang, Pemerintah juga motong anggaran, mulai Maret 2016 anggaran belanja di potong sampai Rp 133,8 Trilyun. Menteri Keuangan yang lama pernah memperkirakan pemotongan itu bisa naik sampai Rp 290 Trilyun jika pendapatan pajak dan non pajak terus melorot seperi saat ini.

Nah, selain dua jurus di atas, ada satu tindakan lagi yang diambil pemerintah, “Mempercepat pengadaan (front loading)  utang dengan penumpukan di muka dan mempercepat  pemanfaatan dana utang (pre-funding) tersebut,” ujar Dr Sigid Kusumawidagdo, seorang praktisi keuangan di Jakarta.

Pengamat ini memberi contoh; bila ada kebutuhan dana 1000 dalam setahun ( Januari sampai Desember. maka 75 atau 80 % diadakan bulan ketiga atau keempat.  Front- loading dilakukan pemerintah di tahun 2016.  Kebutuhan dana utang sebesar tp 273, trilyun.  Di bulan April utang dalam dan  luar negeri yang sudah ditarik Rp 212,2 Trilyun.  Kebijakan ini dilakukan karena kekawatiran akan naiknya suku bunga pinjaman atau turunnya nilai rupiah.

Sedang contoh pre-funding utang yang dianggarkakan untuk ditarik dan digunakan tahun depan digunakan lebih cepat tahun ini,  agar jalannya program pemerintah tidak terhenti karena kehabisan dana.  Di akhirtahun ini pemerintah merencanakan menggunakan dana sebesar Rp 50 Trilyun dari dana utang yang direncanakan untuk tahun 2017 untuk membiayai operasional pemerintah sampai awal 2017 (Januari-Pebruar), Pra-Pendanaan juga akan menggunakan Saldo Anggaran LebIh (SAL) yang ditargetkan Rp 19,01 Trilyun.

UTANG JKW

Dengan “akrobat’ keuangan Front-Loading dan Pre-Funding ini utang pemerintah cepat melambung.  Kadang menimbulkan pertanyaan; utangnya tambah banyak , tetapi mana hasilnya?

Karena utang itu banyak tetapi digunakan untuk proyek-proyek yang memakan waktu penyelesaian 3-5 tahun dan sering terlambat atau macet. Padahal pembayaran utang, terutama bunganya sudah berjalan. Kondisi ini seperti taksi yang terkena macet tetapi taksi meternya berjalan terus.

“Karena terlalu banyak yang akan dilakukan pemerintah dan kurangnya pengendalian diri serta tidak ada prioritasi yang jelas, padahal penerimaan negara turun cukup drastis maka keuangan negara dalam keadaan  cukup kritis dalam jangka pendek,” Dr Sigid menyimpulkan.