Awal (Nomokrasi) dari Akhir (Demokrasi)

290

Negara modern, dengan sistem demokrasi, dan dengan sebutan umumnya Republik, bukanlah Republik sebagaimana yang dikenal di masa kejayaan Romawi. Republik masa modern adalah Republik tanpa pondasi-pondasi pokoknya, yakni pemberlakuan Hukum Kodrati (Hukum Ilahi), dan kendali pemerintahan di tangan Senat.

Sebagaimana ditunjukkan lebih lanjut dalam buku Runtuhnya Demokrasi ini, negara modern yang bermula setelah Revolusi Perancis, merupakan hasil pengambilalihan kekuasaan paska pembusukan monarkhi Perancis, oleh satu kelas elit baru yang muncul, yakni kelas bankir. Melalui teknologi finansial, dengan penciptaan uang kertas dan utang publik, dan penciptaan kelas baru lain di bawahnya yang mereka kendalikan, yakni kelas politisi, melalui sistem rekrutmen baru yang tak dikenal sebelumnya, yang kini kita sebut sebagai Pemilihan Umum (Pemilu).

Dalam kurun sekitar 300 tahun, sejak berdirinya Bank of England, 1694, melalui teknik yang canggih dan penuh perhitungan, kekuasaan secara perlahan telah beralih, dari kelas politisi sepenuhnya kepada Oligarki Bankir. Model kekuasaan personal, di tangan raja, dalam bentuk monarkhi, mulai dipreteli dalam sebutan baru Monarkhi Konstitusional. Utang piutang yang semula bersifat privat, antara sang raja dan para bankir, ditransformasikan menjadi utang publik. Massa rakyat menjadi agunannya. Pajak adalah jaminan terbayarnya utang-piutang berbunga tersebut.

Revolusi Perancis, sekitar satu abad kemudian, mengubahnya lebih lanjut, monarkhi sama sekali tak dikehendaki, melahirkan Republik, tapi dalam versi baru, bukan Republik asli ala Romawi. Republik tinggal nama. Sebuah kelas baru di atas, Oligarki Bankir, secara evolutif mengambil alih kekuasaan dari balik layar. Para politisi menjadi kasim yang dikebiri. Parlemen, sepenuhnya, berisi “Kelas Pembicara”, sesuai sebutannya parler, kaum bayaran yang tugasnya hanya berbicara, membentengi dan melindungi kelas tuannya, Oligarki Bankir. Wahyu ilahi disingkirkan, diganti dengan nalar. Konstitusi menggantikan Kitab Suci.

Hari ini, demokrasi telah runtuh. Kedaulatan negara tinggal ilusi belaka. Dua pondasi pokok kekuasaan negara, yakni kekayaan dan tentara, tidak lagi tersedia. Keduanya berada dalam genggaman lain di luar dirinya. Capaian akhir dari sistem politik menindas ini adalah masyarakat dengan dua kelas: kreditur (Oligarki Bankir yang memperbudak) dan debitur (massa rakyat yang diperbudak). Utang piutang bukan lagi hubungan sosial, melainkan menjadi hubungan politik. Massa rakyat yang dihasilkannya adalah massa jinak yang terperangkap dalam nihilisme. Tipologi “manusia terakhir” dari Nietzsche. Virtua, nilai-nilai kebajikan dan kesatrian serta kehormatan, futuwwa, telah pula hilang. Orang-orang yang muncul dalam tampuk kepemimpinan dalam masyarakat adalah ruwaibidhah, yang tak layak memimpin. Kaum elit medioker ini hanya akan membawa massa yang dipimpinnya kepada kehancuran.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya. Para pendusta dipercaya sedangkan orang jujur dianggap berdusta. Pengkhianat diberi amanah sedangkan orang yang amanat dituduh khianat. Dan pada saat itu, para Ruwaibidhah mulai angkat bicara.”
Atas pernyataan Rasul SAW itu seorang Sahabat bertanya: “Siapa itu Ruwaibidhah?’
Nabi SAW menjawab, “Orang dungu yang berbicara tentang urusan orang banyak.”

Dalam konteks yang berbeda dengan model Siklus Polybius, Ibn Khaldun dalam Muqadimah, juga telah menunjukkan bahwa peradaban tak ubahnya seperti organisme yang memiliki masa hidup. Sebuah peradaban lahir, tumbuh dan berkembang, lantas menjadi dewasa, dan pada suatu titik, mengalami kemunduran. Secara alamiah otoritas pemerintahan pun, dari generasi ke generasi, akan kehilangan keterikatan Asabiyyah-nya serta akibat dari kehidupan bermewah-mewah, bercokolnya Epikurianisme dalam istilah Ferguson, mengalami kemunduran dan pembusukan. Dan, secara alamiah pula, ketika sebuah peradaban telah membusuk dan mati, peradaban yang lain akan lahir dan berangsur menggantikan peradaban lama tersebut.

Mengikuti pola siklus kehidupan peradaban sebagaimana dijelaskan oleh Polybius dan ibn Khaldun, dengan penjelasan panjang lebar, buku Runtuhnya Demokrasi ini menyatakan bahwa kita tengah hidup dalam masa akhir dari peradaban yang telah berlangsung selama sekitar lima abad, dan awal dari sebuah peradaban baru.

Era Republik (palsu) memasuki masa akhirnya, Era Pangeran memasuki masa awalnya. Kita bisa mengenalinya dari berbagai peristiwa, sebagaimana akan dijelaskan dalam isi buku ini, yang menunjukkan runtuhnya dua fondasi sistem modern ini, yaitu sistem finansial (kapitalisme riba) dan sistem politik yang mendukungnya (demokrasi).

Shaykh Dr. Abdalqadir as-Sufi menegaskan: “Runtuhnya secara total sistem finansial yang saat ini tengah kita saksikan membawa keniscayaan pada runtuhnya sistem politik yang bakal tak terpulihkan.”

Dari reruntuhan ini, sesudah melewati masa jeda, periode interim, akan bangkitlah kembali kekuatan ekonomi-politik yang sesuai dengan fitrah manusia. Dan ini adalah kebalikan dari sistem riba, model tata pemerintahan fitrah, yang juga memiliki dua struktur dasar: (1) Kekayaan yang didasarkan pada alat tukar yang memiliki nilai sejati/intrinsik, yakni mata uang emas dan perak, dalam pasar paska runtuhnya sistem riba. (2) Kekuasaan yang didasarkan pada pemerintahan personal, yakni Pangeran yang dalam puncak segala urusan, memimpin dengan musyawarah, secara terbuka, dan berdasarkan kepada kepercayaan.

Sesudah demokrasi terbitlah nomokrasi. Restorasi peradaban ini, pembentukan nomos baru, masa depan yang lebih adil, menjadi tugas para pamimpin baru di luar sistem demokrasi.

Ian Dallas menyatakan,

“Yang diperlukan adalah satu orang yang tercerahkan untuk menyambungkan dalam satu gerakan harmonis kristalisasi yang mengumpulkan beberapa orang sejenisnya, sebagaimana pasir besi bergerak bersama dan secara organis muncul dalam pola geometrik yang kompleks. Masing-masing pada gilirannya akan memiliki memori cinta yang agung.

Akan selalu ada seorang inisiator…Saling mengakui dan bersatu dalam kristalisasi harmoni yang tak terencana dan tak terduga ini adalah dasar sesuatu yang disebut oleh Ibn Khaldun sebagai Asabiyyah, berpadunya persaudaraan elit, mengangkat situasi manusia kepada sesuatu yang lebih tinggi, sesuatu yang bercahaya. ”

Repeat after me: it is all, all contained in me. Now I must act. It will be short, but the interim is mine. – Ian Dallas (2010)

Nukilan dari Prolog buku Runtuhnya Demokrasi (Pustaka Adina, terbit Juli 2018)