Awas, Jebakan Cicilan Emas!

512

Dalam kaca mata uang kertas harga emas, tentu saja, terus meningkat dari waktu ke waktu. Maka  membeli emas, sebagaimana membeli barang dan jasa apa pun, semakin mahal bahkan tak terjangkau bagi sebagian orang. Lantas apa jalan keluarnya?

Sama dengan cara membeli barang yang lain solusi yang diberikan oleh para bankir/rentenir adalah membelinya secara mencicil atau mengkredit. Membeli secara kredit berarti  ada tambahan harganya, entah disebut  sebagai “margin”, “biaya administrasi”, atau jelas-jelas sebagai “bunga”. Intinya semuanya sama saja, yaitu  ada penambahan harga dengan berjalannya waktu, yang tiada lain ini adalah riba yang haram hukumnya.

Perhatikan produk Mulia (Murabahah Logam Mulia untuk Investasi Abadi), penjualan logam mulia yang pernah ditawarkan oleh Perum Pegadaian kepada masyarakat di bawah ini.  “Kelebihan” yang ditawarkan adalah cara  pembayarannya yang dapat dilakukan dengan mencicil, dengan  jangka waktu fleksibel. Tetapi, dalam kenyataannya, ini bukan jual beli, melainkan utang berbunga, dengan agunan logam mulia.

Coba kita bedah  produk Mulia ini (di pasar tentu ada juga peroduk lain sejenis Mulia ini).

Contoh Simulasi Pembelian MULIA (contoh per tanggal 25 Maret 2010).  Nasabah membeli 1 keping emas seberat 5 gram dengan kadar 99,99% (asumsi harga 5 gram = Rp. 1.708.500), maka:

Untuk Pembelian Tunai : harga+% margin+administrasi

= Rp 1.708.500 + (Rp 1.708.500 x 3 %) + Rp 50.000

= Rp 1.708.500 + Rp 51.255 + Rp 50.000

= Rp 1.809.755

Kalau saja transaksi berhenti sampai di sini, maka ini adalah jual beli biasa, yang memang dapat disebut sebagai Murabahah (kecuali adanya tambahan biaya administrasi yang tak lazim). Dalam jual beli pengambilan margin keuntungan adalah halal, dalam Murabahah margin itu disebutkan. Hanya saja meskipun transaksi ini dibolehkan (untuk sementara kita lupakan bahwa alat tukarnya adalah uang kertas) ada kejanggalan di sini, yaitu mengapa harus ada tambahan “biaya administrasi”, yang besarnya Rp 50.000?  Lebih baik beli di toko emas saja, yang tidak membebani “biaya administrasi”.

Untuk pembelian cicilan, bisa memilih, dengan jangka waktu minimal 6 bulan dan maksimal  24 bulan. Margin keuntungan bila tunai 3% dan seterusnya adalah 1 %/bulan, contoh untuk masa 12 bulan, margin 12 %. Perhitungannya menjadi sebagai berikut:

Pembelian Angsuran 6 bulan : harga + % margin

= Rp 1.708.500 + (Rp 1.708.500 x 6 %)

= Rp 1.708.500 + Rp 102.510

= Rp 1.811.010

Dibayarkan dengan:

Uang Muka 25 % = Rp 1.811.010 x 25 % = Rp. 452.752

Administrasi = Rp 50.000

Total Pembayaran Awal = Rp. 502.752

Sisa = Rp 1.811.010 – Rp 452.752 = Rp 1.358.257

Angsuran/bulan = Rp 1.358.257,5 : 6 = Rp. 226.376/bulan

Dari dua simulasi perhitungan di atas dengan mudah kita melihat adanya dua harga berbeda, yaitu harga pembelian tunai dan harga pembelian kredit. Perbedaan harga ini akan bertambah lagi kalau skema kreditnya menjadi 9 bulan, atau 12 bulan, begitu seterusnya. Marginnya pun ditetapkan semakin besar dengan berjalannya waktu. Jadi, jelaslah  bahwa Produk Mulia ini bukan jual beli, bukan Murabahah, melainkan utang berbunga – dan emas yang dinyatakan diperjualbelikan itu diperlakukan sebagai agunan.

telor-emas

Bagaimana kalau cicilan itu tidak berbunga, sebagaimana ditawarkan oleh sementara toko emas, bisakah transaksi ini diterima secara syariat? Dalam skema cicilan ini seseorang dapat membeli emas, sedikit demi sedikit, dengan kelipatan 1 gr, dan baru dicetak ketika pembeli memintanya kepada si toko sesudah terakumulasi sampai berat tertentu.

Misalnya Anda membeli emas sepekan atau sebulan  sekali, masing-masing 2 gr, selama lima kali transaksi, maka terkumpul sebanyak 10 gr. Harganya mengikuti harga pasar pada setiap transaksi dilakukan, hingga harganya berbeda setiap kali. Tidak ada bunga, baik secara nyata atau disembunyikan, dan katakanlah juga tidak ada biaya administrasi lainnya. Transaksi demikian ini tetaplah mengandung masalah karena tidak dilakukan secara tunai, dalam arti ada uang ada barang, cash and carry.

Jadi transaksinya tetaplah kredit, yang sangat riskan, karena salah satu pihak (pembeli atau penjual) dapat berlaku curang. Dan ini haram hukumnya, karena tidak dilakukan dari tangan ke tangan.  Sebab transaksi tunda ini juga tidak bisa dikatakan sebagai utang-piutang yang  dibolehkan, sebab angkanya berubah-ubah. Sedangkan emas, pada dasarnya, adalah uang itu sendiri.

Jadi, kalau memang bermaksud menukarkan uang kertas yang hanya bernilai fantasi ini dengan aset riil, yakni emas, tukarkanlah semampu Anda, sesuai dengan satuan terkecil yang ada, yaitu 1 gr atau 2 gr, dan seterusnya. Belilah secara bertahap, secara tunai, ada barang ada uang. Tidak perlu dikaitkan dengan dimensi waktu, dan mengkhawatirkan semakin lama semakin ‘’naik harganya’’, dan karena itu mendorong Anda untuk membeli dengan cara kredit atau cicilan. Ini adalah bagian dari psikosis industri riba yang sengaja  ditumbuhkan.

Memang, konsekuensinya semakin kecil satuan berat emas yang Anda akan peroleh ini  semakin tinggi biaya tambahannya, yaitu biaya cetaknya. Untuk mengatasi persoalan ini pilihlah bentuk emas yang meminimalkan biaya cetak, yaitu koin Dinar, dengan satuan terkecil yang ada saat ini adalah 0.5 Dinar, atau 2.125 gr (22 karat). Sebelumnya memang pernah dicetak satuan lebih kecil lagi, yaitu 0.25 Dinar, dengan berat 1.065 gr, tapi pencetkan koin kecil ini kemudian dihentikan karena biaya cetak yang tidak efisien.

Kalau dengan satuan emas terkecil yang ada itu pun masih tak terjangkau, solusinya adalah tukarkanlah rupiah Anda dengan koin Dirham perak. Dengan pilihan yang beragam, mulai dari 5 Dirham, 2 Dirham, 1 Dirham, 0.5 Dirham. Nilai tukarnya pasti terjangkau bagi semua orang.  Dan sangat keliru kalau Anda berpikir :  ‘’Saya harus memiliki emas.’’ Sebab ada pilihan koin p[erak.