Badan PBB Peringatkan: “Ancaman Ledakan Krisis Utang Negara.”

317

Jika ekonomi  global memasuki krisis ekonomi  di masa mendatang ini maka yang akan  terjadi adalah  sebuah  epik  ledakan utang negara.  Terjadinya akan dalam sekala massif dan berkepanjangan. Demikian  ekonom Badan Perdagangan di PBB (UNCTAD) memprediksi.

“Ketika modal mulai mengalir keluar, dimulailah  bahayayang sangat nyata  kita memasuki fase ketiga dari krisis keuangan yang dimulai dengan rontoknya  pasar perumahan Amerika Serikat pada akhir tahun 2007 lalu,  sebelum menyebar ke pasar obligasi di negara-negara Eropa,” menurut  laporan tahunan PBB Konferensi Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) PBB, yang barusan diluncurkan.

Menyusul krisis 2008-2009, negara-negara berkembang menghadapi gelontoran  kredit murah. Proses itu dipanaskan oleh program pelonggaran kuantitatif, yang tiada lain pencetakan uang kertas baru,  di negara-negara maju, yang memerlukan penyaluran
NYSTE“Lonceng alarm telah berdering  akibat ledakan tingkat utang perusahaan di negara-negara berkembang, yang sekarang ini telah melebihi  25 triliun dolar AS. Menurut UNCTAD  Spiral deflasi yang  merusak tidak dapat dikesampingkan.

Di bawah kondisi perlambatan GDP secara  global kemungkinan utang-utang tersebut  tidak akan dapat dibayar. Harga-harga berbagai komoditi strategis juga masih akan mengalami kontraksi.

Setelah kontraksi ekonomi 2008-2009 negara-negara berkembang, termasuk negara berkembang besar seperti Brazil, Rusia dan Afrika Selatan, masih berjuang untuk kembali ke tempo pembangunan ekonomi sebelumnya. Sementara negara maju masih harus bergulat denagn berbagai kemunbgkinan krisis di sektor keuangannya sendiri.