Bagaimana Perkembangan Penerapan Dinar Dirham Saat Ini?

5703

Sejauh ini sudah berapa banyak orang bertransaksi dengan Dinar dan Dirham?

Secara persis kita sudah tidak bisa ketahui lagi, karena sudah mulai menjadi kelaziman di berbagai tempat dan peristiwa. Dinar emas  dan, terutama Dirham perak, telah berputar di arena Pasar-Pasar Muamalah yang acap dilakukan di berbagai tempat. Di Tanjung Pinang, Sultan Huzrin Hood dari Kesultanan Bintan Darul Masyhur (KBDM), telah mendirikan Pasar Sultan yang rutin buka setiap Sabtu. Di situ masyarakat berjual beli dengan Dirham. Zakat juga dibagikan secara rutin di KBDM.

Model Pasar Sultan di KBDM kini diteladani di Kemangkunegerian Tanjung Pursa Darussalam (KTD), Kalimantan Barat,  yang berada dalam otoritas Kiyai Mangku Negeri Morkes Effendi, juga menyelenggarakan Pasar Muamalah pekanan, yang buka setiap Ahad. Meski baru saja dimulai prospek dan sambutan muslimin di Ketapang sangat bagus. Secara sporadis komunitas pengguna Dinar Dirham di berbagai tempat juga  masih acap menyelenggarakan pasar muamalah, dengan Dinar Dirham sebagai alat tukarnya.

Penggunaan Dinar dan Dirham sebagai mahar, kado, dan sedekah juga semakin populer. Ini adalah jalan awal bertransaksi dengan Dinar dan Dirham.

Bagaimana  grafiknya dalam beberapa  tahun ini?

Kita tidak terlalu merisaukan grafik, naik, turun ataupun stagnan. Sebab Dinar dan Dirham bukanlah tujuan kita. Tujuan kita adalah mengajak umat Islam mengembalikan sunnah yang hilang, yakni muamalah. Maka proses pembel ajaran dan pengamalannya secara benar menjadi lebih penting daripada hasilnya.

Meskipun, kota-kota peredaran Dinar dan Dirham masih meluas, di seluruh Indonesia, termasuk Aceh dan Papua. Jumlah koinnya tidak bisa diketahui lagi karena sudah berputar layaknya mata uang. Yang bisa kita jadikan indikator adalah jumlah jumlah zakat yang dibagikan kepada mustahik, yang terus meingkat dari tahun ke tahun. Sejak 2009, sekitar 20 ribu Dirham perak zakat mal telah dibagikan kepada masyarakat dhuafa, di berbagai kota di Indonesia.

Pemahaman umat Islam untuk membayarkan zakat malnya hanya dengan Dinar dan Dirham diharapkan akan terus meningkat di masa depan.

 

Apa untungnya menggunakan Dinar dan Dirham?

Keuntungan langsungnya adalah daya beli masyarakat yang menjadi sangat kuat dan terus menguat. Ketika pertama kali diedarkan, pada akhir 2009 lalu, 1 Dirham perak senilai sekitar Rp 30.000, hari ini sekitar tujuh tahun  kemudian, nilai Dirham perak telah menjadi Rp 70.000/Dirham perak. Jadi, kalau menggunakan rupiah harga-harga selalu naik, dus masyarakat menjadi lebih miskin, dengan Dirham perak harga-harga turun. Tahun 2000 harga semen adalah Rp 20.000/zak, 1 Dinar emas (waktu itu Rp 400 ribu) bisa dapat 20 zak semen. Hari ini harga semen adalah Rp 70.000/zak, naik 350%. Tapi, dengan Dinar emas, hari ini 1 Dinar (Rp 2.1 juta) bisa dapat 30 zak, jadi harga semen justru turun 50%!

Keuntungan kedua, masyarakat tidak tergantung kepada kondisi perkonomian nasional maupun global. Segala gonjang-ganjing, krisis finansial, dan sebagainya, tidak mempengaruhi kondisi masyarakat pemakai Dinar dan Dirham.  Sebab, Dinar dan Dirham, adalah aset riil, uang kertas atau sistem finansial dunia saat ini, berupa surat utang, uang kertas itu akan kembali kepada hakekatnya sebagai selembar kertas tak bernilai.

Keuntungan ketiga, dengan adanya Dinar dan Dirham, umat Islam dapat menjalankan bebagai ketetapan syariat secara benar, misalnya dalam membayar zakat, membayar mahar, menetapkan hudud dan diyat, untuk utang piutang dan jual beli, dan sebagainya.

 

Dalam praktek bagaimana transaksi dengan Dinar dan Dirham?

Hamipir tak ada bedanya dengan bertransaksi dengan uang kertas, kecuali yang dberikan sebagai alat tukar, bukanb sekedar kertas tak bernilai (kecuali angka nominal di atasnya), tetapi berupa koin emas dan koin perak. Standar nilainya ditentukan oleh beratnya, yaitu 4.25 gr emas ntuk 1 Dinar dan 2.975 gr perak untuk 1 Dirham. Hanya, memang, untuk saat ini, nilai emas dan perak itu masih “diukur” dengan uang kertas juga, karena keduanya masih diperdagangkan sebagai komoditi di pasaran, belum sebagai uang sepenuhnya. Jadi, nilai tukar Dinar dan Dirham pun, saat in, masih dinisbahkan kepada rupiah. Untuk pertengahan Mei 2016  ini 1 Dirham adalah Rp 70.000, 1 Dinar Rp 2.100.000.

Dengan nilai tukar seperti itulah Dinar dan Dirham dipakai dalam transaksi. Mirip penggunaan valuta asing saja. Jadi, kalau mau membeli sebotol madu, misalnya, yang harganya Rp 60.000, dan pembeli membayar dengan koin 1 Dirham, penjualnya kan menyerahkan sebotol madu dan uang kembalian, pakai rupiah, sebesarp Rp 10.000. Ada juga cara lain, yakni belanja dalam paket. Di Bekasi pernah ada sebuah toko yang menjal produk “serba sedirham”, bentuknya paket – bisa gula, beras, susu, tepung, minyak goring, dsb. Pokoknya dipaskan belanjanya adalah 1 Dirham perak, atau koin yang lebih kecil dari itu, 0.5 Dirham/paket.

Nanti, kalau sudah menjadi kelaziman, dan tidak lagi dinisbahkan dengan uang kertas, maka nilai tukar Dinar dan Dirham hanya diukur dengan komoditi lain, entah makanan, sandang, papan, dan sebaginya.

Apa kelemahannya selama ini ?

Tidak ada kelemahannya, hanya belum ada kelengkapannya, yakni alat tukar recehan, yaitu fulus. Secara tradisional fulus ini terbuat dari tembaga, tapi bisa juga terbuat dari kertas. Fungsi fulus adalah sebagai alat tukar untuk transaksi kecil, bayar parkir, beli permen dan krupuk, jajan anak-anak, dan sejenisnya. Fulus ini berbeda dari Dinar dan Dirham, karena tidak terkena hukum zakat dan tidak bisa dipakai untuk membayar zakat. Sifatnya juga lokal. Fulus di Jakarta tidak laku di Kuala Lumpur, dan begitu sebaliknya. Belum hadirnya fulus juga membuat pemahaman masyarakat tentang sistem moneter dalam syariat Islam tidak dimengerti, termasuk oleh para ulama kita.

Jadi, Dinar emas itu untuk transaksi besar-besar seperti jual beli mobil, rupmah, elektronik, mebel, dll. Dirham perak untuk transaksi harian, untuk konsumsi sehari-hari; fulus untuk transaksi recehan. Uang kertas sama sekali tidak dikenal dalam sistem moneter Islam.

Selkain itu sarana dan prasarana mekanisme transfer, bayar membayar, penitipan, yang seyogyanya disediakan oleh lembagayang namanaya Wadiah belum tersedia. Berbeda dengan penyediaan Dinar dan Dirham yang bukan usaha bisnis, Wadiah ini adalah peluang bisnis bagi siapa saja yang bisa menyediakan jasa tersebut. Terbuka luas.

Mengapa selama ini belum massif?

Perubahan sosial yang sejati itu memerlukan waktu dan proses, tidak bisa instant, seperti membangun citra pejabat atau partai politik. Ini memerlukan pemahaman, apalagi ini menyangkut perubahan cara berpikir dan bertindak masyarakat. Dari lahir sampai besar kita sudah dimanipulasi dengan kebohongan massal. Di kalangan ulama saja masih banyak yang tidak mengerti, bahkan tidak sedikik yang menghalang-halangi, meskipun mereka setiap hari menemukan Dinar dan Dirham dalam kitab-kitab mereka.

Tapi, ini hanya soal waktu. Gerakan kembalinya Dinar dan Dirham kini tengah berlangsung di mana-mana, bukan cuma di Indonesia. Sudah seperti bola salju yang akan terus membesar. Kalau Anda belum ikut hari ini, besok atau lusa pasti akan mengikutinya.

Apa tantangannya?

Tantangan terberat adalah bayang-bayang diri sendiri. Banyak orang yang saat ini belum ikut akibat dihantui oleh persoalan-persoalan yang ada dalam kepalanya sendiri: misalnya pertanyaan nanti emas dan peraknya tidak cukup, nanti dicuri orang, nanti repot membawa-bawa koinnya, nanti tidak bisa untuk ekspor dan impor, dan seterusnya. Ini semua persoalan yang sama sekali tidak kita jumpai di lapangan.

Kalangan masyarakat jauh lebih mudah memahami dan menggunakannya. Percaya atau tidak, justru di kalangan (sebagian) ulama kita lah hambatan itu ada. Kepada  Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, pernah diajukan agar memberikan dukungan atau fatwa tentang Dinar dan Dirham, tapi MUI merespon dengan negatif, alias menolak memberikan dukungan. Begitulah kenyatannya.  Meskipun Muhammadiyah cukup mendukung, walaupun belum turut menjalankan secara institusional.

Din Syamsudin dg Dirham

Soal pemahaman yang keliru tentang Dinar dan Dirham juga jadi masalah. Anggapan bahwa Dinar dan Dirham adalah alat investasi, ditabung, disimpan-simpan, untuk kemudian dirupiahkan kembali, masih banyak dianut masyarakat. Iniharus diluruskan. Dinar dan Dirham bhukan alat investasi. Bukan untuk dirupiahkan lagi. Dinar dan Dirham untuk menggantikan uang kertas. Kita harus bertransaksi denga keduanya.

Apakah akan kian popluer dan apa indikasi dan arah ke sana?

Kecenderungan untuk kembali menggunakan emas dan perak sebagai alat tukar itu berlangsung di seluruh dunia, kalangan Islam maupun bukan. Beberapa negara bagian Utah, AS,  sudah kembali melegalkan emas dan perak sebagai uang. Sudah ada empat kesultanan yang mencetak Dinar dan Dirham, meski dengan kemajuan yang berbeda dan belum menggembirakan. Kesultanan Sulu, Filipina Selatan, Kesultanan ternate, Kesultanan Kasepuhan, dan Kesultanan Bintan. Kemangkunegerian Tanjungpura dalam waktu ke depan juga  tengahmerencanakan untukmencetak Dinar dan Dirham.

Gerekan kembali ke emas dan perak diserukan berbagai kalangan di dunia, justru khususnya nonmuslim. Umat Islam harusnya jauh lebih maju dan jelas, karena memiliki Dinar dan Dirham. Dengan Dinar dan Dirham kekayaan akan merata ke semua golongan. Gerakan ini akan terus berlangsung, tidak akan berhenti, dan tidak bisa dihentikan. Mereka yang tidak mengikutinya, atau menolaknya, akan digilas oleh roda sejarah dan fitrah.

Kehancuran sistem uang kertas, karena merupakan kebatilan, sudah diambang pintu.