Bagaimana Riyal Saudi dari Perak Menjadi Kertas?

615

Mata uang Kerajaan Saudi Arabia adalah riyal. Tentu saja bentuknya kertas, dan impuls digital, serta koin logam untuk recehannya. Sama saja dengan mata uang negara lain mana pun saat ini.

Tapi, banyak yang tidak tahu, bahwa riyal aslinya adalah mata uang yang terbuat dari  perak. Satu riyal adalah perak seberat  11.6 gr. Lalu, bagaimana kisahnya,  uang perak  berubah menjadi mata uang kertas dan pulsa elektronik belaka? Dengan kata lain dari mata uang nyata menjadi mata uang fiat?

Ini yang perlu Anda ketahui.  Untuk sampai kepada bentuk terakhir sebagaimana yang kita kenal hari ini, uang kertas mengalami perubahan seiring perjalanan zaman, setidaknya dalam tiga tahap dan bentuk yang berbeda.

Tahap pertama, uang kertas muncul sebagai kuitansi atau bukti utang, yang dikeluarkan oleh satu pihak (dalam hal ini pandai emas dan perak), yang dapat ditebuskan kembali menjadi koin emas dan perak milik yang bersangkutan. Karenanya uang kertas ini disebut sebagai promissory note. Dalam hukum Islam janji utang ini dikenal sebagai dayn. Janji utang, sebagaimana telah dibahas sebelumnya, tidak dapat dipakai sebagai alat jual-beli, karena pembayaran dengan dayn atau janji utang berarti tidak kontan. Pada satu titik pengeluaran janji utang itu oleh pemerintah diberikan sebagai hak monopoli kepada satu pihak saja, yaitu bank sentral.  Maka, janji utang yang semula bersifat privat (antara pemilik harta dan pihak yang mengeluarkannya) kini menjadi publik, dipaksakan berlaku umum.

Tahap kedua, para bankir yang sekarang telah memonopoli itu secara sepihak mengubah uang kertas itu, dari bentuknya sebagai janji utang, menjadi nota bank, yaitu ketika uang kertas tidak lagi bisa ditebuskan kembali menjadi koin emas atau perak, milik seseorang. Meskipun setiap kali mencetak uang kertas bankir (ketika itu) masih tetap menjaminnya dengan emas batangan. Inilah yang disebut sebagai sistem standar emas.

Di Amerika ini dimulai tahun 1933, sesudah negeri ini mengalami depresi ekonomi hebat, dan rakyat Amerika dilarang memiliki emas batangan, kecuali dengan cara membelinya dengan harga lebih mahal. Setiap troy ounce (31.1 gr) emas ketika dirampas oleh bank sentral AS (1933) dibeli seharga 20 dolar AS, ketika uang kertas dolar AS baru diterbitkan (1934) rakyat Amerika yang hendak memiliki emas harus membayarnya kembali seharga 35 dolar AS/troy ounce. Di Indonesia uang rupiah pertama, yaitu ORI  (Oeang Republik Indonesia) yang diterbitkan oleh BNI 46 pun  merupakan uang  berstandar emas. Pemerintah menjamin bahwa setiap Rp 10 yang dikeluarkan oleh BNI 46 setara dengan 5 gr emas.

Tahap ketiga, adalah ketika kaitan antara emas dan uang kertas dicabut, yakni sejak tahun 1971. Maka, bank sentral dapat mencetak uang kertas dengan sekehendaknya, tanpa harus memberikan dukungan komoditas apa pun. Sepenuhnya uang kertas menjadi uang fiat, yang memiliki nilai dan diterima sebagai alat tukar, sepenuhnya karena dipaksakan melalui undang-undang tentang uang.  Perlu diketahui bahwa bank-bank sentral ini bukan bagian dari pemerintah, tetapi perusahaan-perusahaan swasta.

Hubungan antar-uang kertas pun, misalnya antara dolar AS dan rupiah, antara rupiah dan euro, atau antara ringgit dan rubel, dan sebagainya, tidak lagi ditetapkan oleh pemerintah, melainkan mengikuti kemauan para pedagang uang (valuta asing). Ini disebut  sebagai sistem kurs mengambang. Jadi, seluruh sistem finansial dan moneter saat ini sepenuhnya dikendalikan oleh para bankir dan spekulan uang.

Dolar AS telah berubah bentuk dari janji utang menjadi uang kredit. Ini didahului dengan tindakan pemerintah AS merampas emas dari rakyat Amerika atas permintaan para bankir, 1933. Setahun kemudian, 1934, uang baru pun diterbitkan, tidak lagi dapat ditebus dengan koin emas

Tindakan serupa kemudian juga dilakukan oleh  Arab Saudi, 1961. Gambar   ini menunjukkan dua jenis riyal Saudi  yang telah berubah bentuk dari janji utang menjadi uang kredit. Ini didahului dengan tindakan pemerintah Saudi  menerbitkan ”hajj receipt” sebagai ”uji coba” beberapa tahun sebelumnya. Semula uang riyal merupakan janji utang (dayn) di manay setiap riyal  kertas dijamin dengan koi perak seberat 11.66 gr (kemurnian 91.7%).  Sesudah dilepas dari koin perak (1961), uang riyal kertas ”bodong” ini kemudian di-pegged  atau diikat dengan ”mata uang” IMF (International Monetary Fund) yang disebut sebagai Special Drawing Rights (SDR). Dalam praktek keseharian nilai kurs riyal diikat dengan kurs yang tetap terhadap dolar AS, dengan nilai 3.75 riyal setiap dolar AS.

riyal-metamorfosa

Sebagai uang fiat, melalui sistem perbankan, uang kertas sekarang ini bahkan tidak lagi selalu diperlukan, karena mengalami transformasi berikut menjadi impuls elektronik. Dengan kartu kredit, kartu debit, ”kartu flash”,  transaksi di mesin anjungan  uang (ATM) dan  m-banking, transaksi dilakukan sepenuhnya dengan byte elektronik. Keterlibatan uang kertas yang diterbitkan oleh bank sentral menjadi sangat kecil, boleh jadi tak sampai 10%, dari seluruh transaksi maya ini. Selebihnya, 90% lebih, hanyalah gelembung riba. Pada tahap ini, sistem riba telah sampai pada tahap akhirnya, setelah terus-menerus   menggelembung, sampai di satu titik nanti  akan meledak.  Sekarang kita lihat sekali lagi posisi uang kertas ini dari kaca mata syariat Islam.

Di muka telah diuraikan tentang batasan riba, yang akan memperjelas posisi uang kertas, uang fiat dan segala turunannya, serta sistem perbankan, yang menjadi motor penggeraknya. Uang kertas pada dasarnya dapat dilihat baik sebagai aset (’ayn) maupun sebagai janji utang (dayn). Maka, pilihan posisinya adalah sebagai berikut:

Kalau fakta bahwa uang kertas adalah dayn diterima, yang berarti ia merupakan janji pembayaran atas sejumlah ’ayn (aset), maka uang kertas tidak dapat dipakai dalam pertukaran dan larangan ini berdasarkan pada dua alasan:

  1. Dayn tidak dapat dipertukarkan dengan dayn. Uang kertas ditukar dengan uang kertas adalah ’utang dibayar utang’, yang haram hukumnya.
  2. Dayn atas  emas dan perak tidak dapat dipertukarkan dengan emas dan perak. Ini sangat jelas, benda tak bernilai tidak dapat ditukarkan dengan benda bernilai.

Dalam kenyataannya saat ini uang kertas bahkan sudah bukan berfungsi sebagai janji utang atau dayn lagi, sejak kaitannya dengan emas yang menopangnya dicabut, sejak 1971. Maka, satu-satunya posisi uang kertas atau uang fiat yang dapat kita terima adalah sebagai benda niaga (aset atau  ’ayn).

Kalau posisi uang kertas sebagai ’ayn diterima maka nilainya adalah seberat kertasnya, bukan sebesar angka nominal yang dituliskan di atasnya. Kalau nilainya ditambahkan,  sebagai nilai nominal, melalui paksaan hukum, maka nilainya telah dikacaukan dan transaksinya, menurut syariah, adalah batil.  Uang kertas, menurut syariah, tidak dapat digunakan sebagai alat tukar/pembayaran.

Di atas sudah diutarakan, bahwa dalam pertukaran barang sejenis, dalam konteks ini uang atau alat pembayaran lainnya,  berlaku ketentuan yang padanya dilarang adanya dua unsur riba, baik karena penundaan (selisih waktu) maupun penambahanan (selisih nilai). Uang fiat mengandung dua riba ini sekaligus, karena tidak ada nilai intrinsik yang dikandungnya dan janji pembayaran, yang berarti penundaan pembayaran, yang dikandungnya yang tidak lagi akan pernah ditepati, karena ketiadaan komoditas (emas) yang menjaminnya.

Imam Malik dalam Muwatta, Buku 31 tentang Transaksi Bisnis, butir 34, meriwayatkan  Sunnah berikut:

Yahya meriwayatkan kepada saya dari Malik dari Nafi’ dari Abdullah ibn Umar bahwa Umar ibn Khattab berkata,  ’Jangan menjual emas dengan emas kecuali setara dengan yang setara dan jangan menambahkan sebagian atas sebagian lainnya. Jangan  menjual perak  dengan perak kecuali setara dengan yang setara dan jangan menambahkan  sebagian atas sebagian lainnya. Jangan menjual emas dengan perak, yang  salah satu darinya ada di tangan dan yang lainnya dibayarkan kemudian. Bila seseorang meminta kamu untuk menunggu pembayaran sampai ia pulang kerumahnya, jangan tinggalkan dia. Saya takutkan rama’ padamu’. Rama’ adalah riba’.”

Ini sejalan dengan hadits dari Rasul SAW yang sudah dikutip sebelumnya. Hanya, perlu ditambahkan di sini, bahwa dayn atau  promissory note,  atau janji pembayaran, itu sendiri halal hukumnya, bila dipakai secara privat. Maksudnya janji utang ini hanya mengikat dua pihak yang berkontrak (utang piutang). Janji utang tidak boleh digunakan sebagai alat tukar yang bersifat publik. Hal ini sangat penting diketahui karena ada pihak yang mengatakan bahwa dayn itu, bahkan yang berbentuk sejenis dengannya yang dikenal dengan sebutan sukuk, bukan saja telah dikenal sejak masa nabi, tetapi juga digunakan sebagai alat tukar atau uang.