Bank of Japan Terapkan Bunga Negatif. Sesuai Syariah?

306

Pertengahan Februari 2016 lalu Bank of Japan resmi berlakukan kebijakan bunga negatif. Dengan kebijakan ini Bank Sentral, mengenakan biaya bank 0,1% untuk dana yang diparkir dalam perbankan. Tujuannya, secara teoritis, adalah untuk mendorong bank agar lebih banyak meminjamkan uang dan dunia bisnis lebih terdorong untuk berinvestasi.

Namun, belum juga berlaku lama, kebijakan ini telah menyebabkan turunnya daya beli yen dan anjloknya harga saham. Dalam 11 hari sejak pengumuman dewan BOJ, indeks Nikkei telah jatuh 8,5%, meskipun kemudian rebound, sementara yen kembali telah naik 6,5% terhadap dolar AS.

“Ini semakin jelas bahwa Abenomics adalah macan kertas,” kata Seiya Nakajima, kepala ekonom di Kantor Niwa, sebuah biro konsultan, mengacu pada kebijakan Perdana Menteri Shinzo Abe, yang membiarkan pelonggaran dan reformasi moneter.

Dengan tindakannya ini, BOJ menjadi Bank Sentral kelima yang menerapkan kebijakan bunga negatif. Sudah beberapa lama perbankan komersial di Jepang telah menerapkan bunga 0% bagi para penabung deposito. Akankah dengan beban baru dari bank sentral di atas kemudian dibebani dengan “bunga negatif” juga?

Sementara kaum Muslim pendukung perbankan acap menjadikan kebijakan bunga 0% ini sebagai “sesuai syariah”. Tentu saja ini sangat keliru. Makna bunga 0% adalah bahwa perbankan “menghukum” para pemilik uang. Uang mereka dimanfaatkan oleh para bankir, disewa-sewakan, yang menyebabkan inflasi dan kemerosotan daya beli uang masyarakat, sambil terus dibebani biaya-biaya.

yen dompet

Di sisi lain, kebijakan bunga negatif Bank Sentral, akan mendorong para bankir untuk mencetak kredit sebanyak-banyaknya, atas nama “investasi”, yang itu berarti pencetakan uang baru yang tiada henti. Masyarakat makin jauh dijebak utang berbunga. Akibatnya mempercepat inflasi dan mnurunkan daya beli masyarakat. Pemiskinan semakin luas dan cepat terjadi.

Bank adalah bank. Bankir adalah rentenir. Apa pun tindakannya hanya untuk menjerat masyarakat ke jurang riba.