Begini Cara Jual beli Yang Halal

429

Cara Jual Beli Yang HalalDalam tulisan “Memahami Riba Secara Sederhana” telah disinggung sedikit masalah jual beli ini. Dalam transaksi jual beli dibolehkan adanya penambahan nilai, tapi diharamkan adanya penundaan. Jadi jual beli itu harus tunai atau kontan, dan boleh mengambil selisih beli dan jual, alias keuntungan. Tapi, kalau dibayarnya beberapa kali, atau dicicil, boleh dilakukan asal tidak mengubah harga menjadi lebih tinggi.

Sekarang kita akan lebih dalami lagi hukum jual beli ini dengan penjelasan yang lebih rinci.

Dalam syariat Islam jual beli disebut sebagai bai’un. Syekh Muhammad bin Qosim Al-Ghazy, dalam kitabnya, Fathul Qorib, menyebutkan bahwa secara bahasa bai’un bermakna “muqobalatu syai’in bi syai’in.” Artinya jual beli itu merupakan akad serah terima sesuatu dengan sesuatu yang lain.

Pengertiannya dalam sya’ra adalah “tamliku ‘ayn maliyyatin bimuawadhotin biidhnin syariatin au tamliku manfaatin mubahatin ‘allata’bidi bithamanin malliyatin”. Artinya adalah memiliki sesuatu harta (‘ayn) dengan mengganti harta (mal) atas dasar izin syara’ atau memiliki suatu manfaat (jasa) yang halal dan yang demikian itu harus melalui pembayaran bernilai harta pula.

Ada hal mendasar yang harus dipahami dari definisi syara’ yaitu bahwa jual beli adalah harta ditukar dengan harta lain atau suatu manfaat. Salah satu harta yang dipertukarkan, tentu saja, berfungsi sebagai alat tukar atau uang. Dalam istilah fiqihnya harta yang berupa alat tukar harulah berupa ‘ayn, harta lain sebagai komoditi disebut mal atau manfaatin dalam hal jasa.

Perhatikan bahwa dalam definisi jual beli ini tidak disebut-sebut jenis uang atau alat tukar tertentu. Hanya dikatakan sebagai ‘ayn atau aset riil. Mengapa?

Karena Allah SWT dan Rasulnya mengharamkan pemaksaan dalam jual beli, termasuk pemilihan alat tukarnya. Rukun pertama jual beli adalah ‘aantaradin minkum”, suka sama suka. Kalau dalam kenyataannya Dinar emas dan Dirham perak merupakan alat tukar yang paling lazim dan banyak dipakai sepanjang sejarah Islam, itu karena pilihan sukarela, bukan dipaksakan oleh pemerintahan. Kalau tidak ada Dinar atau Dirham, gandum, kurma, padi, garam, jagung, dan komoditi-komoditi lain yang dapat berfungsi dan lazim diterima sebagai alat tukar, bisa menjadi uang.

Kata kunci lain yang harus dimengerti dari definisi di atas adalah keharusan kehalalan transaksi maupun barang yang ditransaksikan. Kata “biidhnin syariatin” di atas mengecualikan transaksi yang dilarang, yaitu riba. Dan sudah dijelaskan dalam tulisan sebelumnya, riba timbul karena penundaan (an nasi’ah) dan penambahan (al fadl). Penggunaan alat tukar selain ‘ayn, adalah dengan lawannya, yaitu dayn, yang merupakan nota utang atau kuitansi atas suatu ‘ayn – semcam voucher yang mewakili barang tertentu, berarti tidak tunai. Batil jual belinya.

Itu sebabnya uang kertas tidak sah sebagai alat tukar, karena merupakan ‘nota hutang bank’ (banknote) yang bahkan sudah tidak ada ‘ayn-nya lagi. Dulunya uang kertas itu kuitansi yang mewakili sejumlah emas atau perak. Pembayaran dengan dayn itu termasuk dalam rumusan ‘berjual beli barang yang tidak ada barangnya” (‘aynin ghoibatin’). Kita bisa mengatakannya sebagai jual beli “tidak kontan”.

Sampai di sini kita sudah memahami dua rukun halalnya jual beli: suka rela dan kontan. Ada kebebasan memilih alat tukar, sepanjang memiliki nilai riil, merupakan aset nyata, atau ‘ayn. Yang paling praktis dan baik bertindak sebagai alat tukar atau uang adalah Dinar emas atau Dirham perak.

Selain sukarela dan kontan jual beli itu harus setara dalam nilai. Nabi SAW mengatakan:

Transaksi pertukaran emas dengan emas harus sama takaran dan timbangannya, dari tangan ke tangan (kontan), kelebihannya adalah riba; perak dengan perak harus sama takaran dan timbangannya, dan dari tangan ke tangan (kontan), kelebihannya adalah riba; tepung dengan tepung harus sama takarannya dan timbangannya, dan dari tangan ke tangan (kontan), kelebihannya adalah riba; korma dengan korma harus sama takaran dan timbangannya, dan dari tangan ke tangan (kontan), kelebihannya adalah riba; garam dengan garam harus sama takaran dan timbangannya, dan dari tangan ke tangan (kontan), kelebihannya adalah riba.”

Dari hadits ini dengan jelas dikatakan jual beli harus “sama takaran dan timbangannya”, artinya setara dalam nilai. Baik itu untuk benda-benda atau harta yang sejenis, seperti emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, dll, yang itu berarti adalah pertukaran (sarf), sebagaimana yang dimaksud dalam hadits di atas.

Demikian juga untuk transaksi dua jenis harta yang berbeda jenis, misalnya ayam dengan perak atau sayuran dengan gandum, yang itu artinya jual beli. Nabi SAW menyatakan: “Pertukaran emas dengan perak boleh sesuka-sukamu, tetapi harus kontan”. Kesetaraan nilainya, tentu saja, tergantung hukum yang berlaku di pasar yang kita kenal sebagai supply dan demand. “Sesuka-sukamu,” kata Nabi SAW.

Demikianlah penjelasan ringkas tentang jual beli yang halal: atas dasar suka rela, kontan, dan setara dalam nilai. Jadi, jual beli itu menurut syairat Islam, harus merupakan transaksi barter yang disepakati penjual dan pembeli, baik barangnya (atau jasanya), alat tukarnya, maupun kesetaraan nilainya.

“Berjual beli” dengan uang kertas, apalagi turunannya, karena itu tidak termasuk transaksi jual beli yang diizinkan, melainkan termasuk riba. Uang kertas itu tidak punya nilai kecuali klain hukum saja, merupakan nota hutang yang tidak akan pernah dtunaikain (oleh bank sentral), serta keberadaannya dipaksakan dan dimonopoli.

Alat tukar terbaik dalam jual beli yang halal adalah Dinar emas dan Dirham perak. Mulailah memilikinya dan menggunakannya dalam berbagai transaksi sehari-hari. Secara lebih rinci Hal Ihwal Uang dan Alat Tukar Menurut Syariat akan dibahas dalam tulisan berikut nanti.