Begini Cara Sunnah Takaran Zakat Fitrah Ditetapkan

515

Rasulullah SAW mewajibkan umat Islam menutup Ramadhan dengan membayarkan zakat fitrah. Berbeda dari zakat mal yang diwajibkan hanya kepada orang kaya saja, dikenakan atas harta tertentu dengan nisab tertentu, baik  dengan haul setahun atau tidak, zakat fitrah merupakan zakat jiwa. Setiap Muslim, sepanjang memiliki kelebihan makanan pada hari terakhir Ramadhan, wajib berzakat fitrah. Termasuk para hamba sahaya  dan anak-anak.

Ibnu Umar r.a meriwayatkanRasul SAW  mewajibkan zakat fitrah berupa satu sha’ kurma atau satu sha’ sya’ir atas budak dan orang merdeka, laki-laki dan perempuan, anak-anak dan orang dewasa dari kaum muslimin. Ini dengan dasar takaran  sha’-nya Nabi SAW.” (HR Bukhari).

Kesamaan antara zakat mal dan zakat fitrah adalah keduanya harus dibayarkan dalam bantuk ‘ayn (aset nyata, komoditas), bukan dengan dayn (nota hutang atau voucher). Dalam hal zakat fitrah kewajiban dan alat untuk membayarnya adalah produk pangan. Syekh M Arsyad Al Banjari dalam kitab fikihnya yang masyhur, Sabil al-Muhtadin, menyebutkan kewajiban zakat fitrah itu adalah pada qut.  Artinya “makanan yang mengenyangkan”, baik makanan pokok, maupun bukan. Syekh Al Banjari menyebutkan, “Dan wajib keadaan fitrah itu daripada jenis qut yang ghalib [lazim] pada tempat yang difitrahi ia.”

Di kalangan Salaf, yakni tiga generasi pertama di Madinah, perintah Nabi SAW di atas dipraktekkan secara lebih fleksibel, tapi tetap dibayarkan dengan makanan.  Imam Malik  meriwayatkan  pembayaran fitrah selain dengan kurma dan sya’ir, yaitu  dengan gandum, keju, dan kismis.  Abu Sa’id al Khudri berkata, “Kami mengeluarkan zakat fitrah satu sha’ barley [sejenis gandum], atau satu sha’ gandum,  satu sha’ kurma, satu sha’ keju, atau satu sha’ kismis.  Jelas bahwa zakat fitrah  diwajibkan pada makanan dan dibayarkan dengan makanan. Tidak terkait dengan harta atau uang.

Soal kedua  yang perlu dipahami secara tepat adalah soala takarannya.  Yakni sha’ yang diperintahkan Nabi saw adalah sha’ Madinah. Itu berdasarkan perintah  Nabi SAW.”Timbanglah dengan timbangan (wazan) Mekah dan takarlah dengan takaran (mikyal ) Madinah”.  “Sha’-nya Nabi SAW” dalam kata-kata Ibn Umar di atas Yakni  sha’ yang oleh Nabi SAW disebut sebagai ‘takaran Madinah’, yakni 4 mudd. Satu mudd adalah setangkup dua tangan orang dewasa.  1 sha’ adalah 5 1/3 ratl. Bila disetarakan dengan takaran modern, yakni liter,  setara sekitar 2.035 liter, dan bukan dalam kilogram.

Pada zaman Nabi SAW, dan masa-masa sesudahnya, ada tiga takaran (sha’) yang beredar di masyarakat, yakni sha Madinah (2.035 liter), sha Baghdad atau Mesir (2.5 liter) dan sha Damaskus (3.6 liter). Maka, yang kita harus ikuti adalah yang merupakan sunnah, yakni sha’ Madinah (2.035 liter), sebagaimana diterapkan di masa generasi salaf dan direkam oleh Imam Malik.

Penetapan sha’ Madinah sebagai sunnah itu pernah melewati pembahasan antara Imam Malik dan Imam Abu Yusuf, murid Imam Abu Hanifah, dan pendiri madhhab Hanafi.

Abu Yusuf bertanya kepada Imam Malik tentang sha’, takaran volume yang terkait dengan berbagai ketetapan fiqih, dan Imam Malik menjawab, ‘’Lima dan seperiga ratl.’’

Abu Yusuf berkata, ‘’Apa dasar Anda untuk menyatakannya demikian ?’’

Malik berkata kepada beberapa orang yang ada bersamanya, ‘’Pergilah dan ambil sha’ yang kalian punya.’’

Maka banyak penduduk Madinah, baik dari keluarga Muhajirin maun Anshar, datang, dan setiap orang membawa sha’ dan berkata, ‘’Inilah sha’ yang saya  warisi dari ayah saya, yang mewarisinya dari ayahnya, yang mewarisinya dari ayahnya yang merupakan salah satu Sahabat Rasul SAW.’’

Malik berkata, ‘’Pengetahuan yang tersebar seperti ini dalam pendapat kami lebih dapat diandalkan ketimbang hadits.’’

Dan Abu Yusuf menerima pendapat Imam Malik.

Dari  peristiwa ini, selain soal substansi ketentuan takaran zakat fitah,  kita juga dapat memahami bahwa dengan hadits (laporan verbal tekstual) kita tidak bisa mengakses sunnah. Dan sebagai dalil tidak semata berupa teks, tapi juga perbuatan, amal, dalam hal ini amal ahlul Madinah. Dan bahwa amal ahlul madinah lebih otoritatif ketimbang hadits.