Beredar Sudah, Buku “Fiqih Riba”. Jangan Gentar, Tapi Sadar

834

Buku terbaru Pustaka Adia, Fiqih Riba, terjemahan karya seorang yuris Pakistan, Prof Imran Ahsan Khan Nyazee, telah beredar dan mulai bisa diperoleh. Harganya Rp 70.000 atau 1 Dirham perak.  Buku ini sangat penting dan membahas persoalan yang juga sangat penting, riba dan penyimpangannya.

Bagi sebagian kalangan buku ini sudah membuat gentar bahkan sebelum beredar.  Jangan gentar, tapi tersadar.

Hari ini kita hidup di tengah sistem riba. Sedangkan riba adalah perbuatan maksiyat, menentang perintah Allah SWT dan Rasul-Nya SAW, dengan akibat kezaliman luar biasa yang ditimbulkannya. Kebanyakan anggota masyarakat tidak lagi menyadari, tidak memahami, bentuk dan wujud riba itu, dan bahwa dirinya dan keluarganya terlibat di dalamnya, langsung maupun tidak langsung.

Nabi SAW mengatakan: riba ada 72 pintunya, dan dosa sekecil-kecilnya dari ribaadalah  lebih buruk dari 36 kali berzina, atau setara dengan menzinahi ibu sendiri.

Buku ini menjadi penting karena didasarkan kepada pendapat para ulama faqih terdahulu, ketika riba belum menjadi sistem, dan sepenuhnya mendasarkan pembahasannya berdasarkan nash al Qur’an dan Sunnah.  Buku ini menjadi penjelas yang terang benderang untuk membedakan pemahaman tentang riba menurut fuqaha itu dibandingkan dengan yang dipraktekkan saat ini, utamanya oleh perbankan syariat.

Perbankan syariat adalah penyimpangan.

Dalam buku ini ditunjukkan sumber penyimpangannya, yang dibenarkan oleh sejumlah ulama modernis, yang dimulai dengan penyimpangan definisi atau batasan riba itu sendiri. Dimulai oleh satu orang, Rashid Rida, yang mengikuti gurunya, Muhammad Abduh. Kini, ribuan jumlahnya, orang-orang yang mengikuti kekeliruan dan penyimpangan ini, ditengahi oleh kepentingan yang sangat jelas: bisnis perbankan (syariat).

Ibarat sebuah roket, yang hendak menuju bulan, tapi sedikit saja menyimpang dari arah tujuan semula di landasan,  semakin jauh meluncur semakin jauh ia dari tujuan. Bukan di  bulan, akhirnya roket  itu sampaidi di planet lainnya. Hanya gara-gara menyimpang  nol koma nol derajat di landasan pacunya.

Demikianlah perbankan syariat dan segala turunannya semakin hari semakin jauh dari ketentuan fiqih dan syariat Islam.  Dalam kalimat Shaykh Umar Vadillo hasil dari penyimpangan ini adalah bukannya mengislamkan kapitalisme, tetapi mengkapitalismekan Islam.

Maka, buku ini sangat penting, dibaca dipahami dan diamalkan isinya, baik oleh para ilmuwan dan ulama, maupun masyarakat awam, khususnya yang berkecimpung di bidang keuangan dan perbankan (syariat).