Berjumpa Sultan Banten, Sultan Syarif Muhammad ash-Shafiuddin

555

Pada tahun 2009 lalu Shaykh Dr Abdalqadir as Sufi menugaskan saya untuk menjumpai para sultan di Indonesia agar menyampaikan pesan bahwa kita tengah berada dalam zaman yang tengah berubah. Sistem kapitalisme sekuler, yang didasarkan kepada humanisme-ateistik, dengan model ekonomi ribawi, terbukti telah gagal menyejahterakan manusia dan dalam proses awal keruntuhannya. Pasca keruntuhan sistem ini akan lahir, dan harus disiapkan, kembalinya model kehidupan yang sesuai dengan fitrah dan rububiyah: kedaulatan hukum Allah SWT dan Rasul-NYA SAW, yang akan tegak di bawah para pemimpin sejati, yakni para sultan.

Dengan para Sultan ini maka syariat Islam bisa dijalankan, uang emas dan uang perak, serta perunggu dapat dicetakkembali, baitul mal didirikan, zakat ditarik dan dibagikan, puasa dan haji dapat dijalankan dengan perlindungan dan titah sultan. Pasar-pasatr kembali diselenggarakan. Wakaf dihidupkan. Ringkasnya di bawah para sultan umat Islam dipersatukan dalam amr, dan ibadah dan muamalah dapat kembali disandingkan dalam kehidupan.

Dalam kurun 8 tahun itu saya berkeliling, menjumpai para sultan, dan mengajak mereka untuk kembali menjalankan hak dan kewenangan Sultaniya. Ada yang menyambut hangat maupun dingin. Tapi beberapa di anjtara bahkan telah memulai menjalankannya. Koin emas dan perak telah kembali dicetak oleh beberapa sultan. Yang terbaru adalah Sultan Huzrin Hood dari Kesultanan Bintan dan Kyai Mangku Negeri Morkes Efendi dari Mangku Negeri Tanjung Pura.

Kemarin, bersama rombongan fuqara Amirat Indonesia, kami menemui Sultan Syarif Muhammad as Shafiudin, Sultan Banten, menyampaiakn dan mengajak hal yang sama: menegakkah sunnah Rasul SAW kembali. Beliau menyambut baik, dan akan menindaklanjutinya.

Semoga ALlah SWT memudahkan upaya Sultan Banten dan jajarannya. Aamiin.