Dengan Segitiga Sijori Merajut Nusantara

710

Dengan jumlah hanya 15% dari seluruh penduduk Republik Singapura, kaum Muslim di Singapura, hanylah minoritas. Tetapi, dengan mendefinisikan identitas mereka sebagai Muslim Nusantara, maka bersama Muslim lain di wilayah ini, Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Sulu, dan Patani, maka kedudukannya menjadi mayoritas. Muslim Singapura harus selalu melongok keluar, dan melepaskan diri dari isolasi negara fiskal.

Demikian salah satu pokok perbincangan Amir Zaim Saidi dan Amir Danish bersama beberapa fuqara Singapura lainnya, pekan lalu. Ada empat sayap utama yang diperbincangakan sebagai jalan untuk merajut masa depan Muslim di Nusantara ini, dengan melampaui sekat-sekat artifisial, yang memecah belah umat Islam.

NusantaraSayap pertama adalah siyasah, dengan kembali menegakkan amar Islam melalui restorasi kepemimpinan Muslim. Dalam hal ini disepakati untuk bersama-sama mendukung pengembangan Kesultanan Bintan Darul Masyhur, yang menyatukan setidaknya tiga wilayah terdekat, yakni Indoneia, Singapura dan Malaysia. Bolehlah meminjam jargon Sijori (Singapura, Johor dan Riau) dalam titik awal merajut Nusantara ini.

Sayap kedua adalah muamalah, dengam mengembangkan jaringan perdagangan dan usaha komersial lainnya, termasuk menghidupkan kembali karavan dagang, qirad dan syirkat, serta penggunaan mata uang yang syari dan universal, yakni dinar emas dan dirham perak. Jaringan pengguna dinar dan dirham akan direvitalisasi. Wakala di Singapura kembaIi akan digairahkan.

Sayap ketiga adalah penggalakan sedekah, penarikan dan pembagian zakat, serta merestorasi wakaf. Dalam konteks ini setiap jamaah Muslim, di bawah kepemimpinan amirnya masing-masing, perlu menghidupkan baitul mal, serta mendirikan yayasan-yayasan sosial,.

nusantara 2Sayap keempat adalah perluasan tarbiyah, pengenalan dan penerapan Amal Madinah, pengajaran syariah yang tidak hanya terbatas pada soal ibadah, tapi juga muamalah dan siyasah. Bersamaan dengan pengajaraan syariah juga digalakkan pengajaran tentang haqeqat. Dengan keduanya maka tiga pilar pokok kehidupan Muslim, yakni Islam, Iman dan Ihsan, akan berjalan secara bersamaan.

“Satu hal penting lain, adalah mengembalikan tradisi dan identitas Melayu sebagai bagian dari eksitensi dienul Islam di Nusantara. Hilangnya kemelayuan akan membawa hilangnya dienul Islam,” ujar Amir Zaim Saidi. Ia memprihatinkan kenyataan bahwa para pemuda-pemudi Muslim di Singapura, khususnya, yang lahir tahun 1990asn dan sesudahnya telah mulai kehilangan kemampuan berbahasa melayu. Bahasa adalah realitas. Hilangnya bahasa hilang pula realitas yang bersamanya. Di masa lalu Islam dan Muslim di Nusantara adalah realitas Melayu. Tanpa bahasa Melayu dan kemelayuan, bakal hilanglah realitas Islam dan Muslim Nusantara.