Bersedekah di Kala dan di Tengah Musibah

309

Belum lupa kita akan  bencana yang lebih besar yang datang beruntun di berbagai daerah, utamanya tanah longsor di banjarnegara, yang masih terbayang Kinbi banjir dan tanah loignsoir kembali melanda saudara kita di Garut, Jawa Narat.  Memang korban tewas dan kerugian harta benda tidak sebesar  gempa Sumatra Barat yang lalu  makan korban tewas melebihi 525 orang. Atau Tsunami Mentawai yang  makan korban, sekurangnya 315 meninggal dan lebih dari 400 hilang.

Tapi, selalulah, spontan  mobilisasi atas bantuan kemanusian dilakukan oleh berbagai pihak. Spontan pula masyarakat Indonesia, yang  terbukti   selalu pemurah, memberikan berbagai bantuan, uang maupun barang. “Tanggap Musibah”, “Peduli Tsunami”, “Mentawai Menangis”, “Peduli Garut”, dan seribu satu jenis slogan lainnya, bermunculan di media massa.

Tanpa mengurangi prasangka baik akan ketulusan semua pihak yang bergerak spontan ini, kecuali sedikit penyalahgunaan oleh segelintir orang yang akan selalu terjadi, serta tanpa mengurangi rasa duka kita kepada keluarga korban, ada baiknya kita  mengambil jarak atas musibah ini. Di luar kerja keras para sukarelawan serta  kemurahatian para dermawan, reaksi lain yang banyak kita lihat tiap-tiap ada musibah, adalah  aneka penjelasan dari para ‘ilmuwan’ tentang asal-muasal dan sebab-musabab musibah ini.

Gempa kali ini berskala sekian Skala Richter, dengan pusat gempa sekian puluh kilometer di bawah laut, dengan posisi geografis sekian, disebabkan oleh pergeseran lempeng tektonik, dan seterusnya.  Lalu, bantuan dan sedekah pun disalurkan, para korban dibantu dan disantuni. Sesudah itu kembali biasa, sampai nanti, tanpa disangka-sangka, guncangan baru, musibah baru, menerpa kita kembali. Siklus aksi-reaksi ini pun menjadi rutinitas biasa.

Adakah yang salah dengan ‘rutinitas’ semacam itu?

Tentu saja tidak, tetapi ada yang kurang di situ: tafakur.

Marilah kita bertanya: mengapa musibah terus melanda kita?

Mengetahui data seismograf gempa bumi tentu  perlu, tetapi tak ada gunanya, bila tidak  memberikan dampak apa pun pada kita, sebagai insan, yang mengalaminya.  Artinya  menjadi lebih penting untuk merenungkan dan mengerti mengapa Allah SWT mengirimkan ‘agennya’, berupa gempa (dengan data seismograf seperti apa pun, tidaklah penting kembali), juga Tsunami yang meluluhlantakkan.

Allah SWT mengajarkan kepada kita bahwa pada tiap  peristiwa ada makna di sebaliknya.  Apalagi peristiwa tersebut adalah sebuah guncangan dahsyat, yang membuat kita sebagai makhluk tak berdaya.  Marilah kita tempatkan seluruh kejadian kosmos maupun individual kita, baik yang mengalami langsung maupun yang melihatnya dari kejauhan,  sebagai kenyataan bahwa kita tengah  terhempas dalam peristiwa yang menghadapkan kita, di setiap tempat dan di setiap saat, dengan keagungan dan keindahan Allah SWT,  di satu sisi. Di sisi lain, kita juga dihadapkan kepada kekuasaan dan kemahaperkasaan Allah SWT, atas konsekuensi segala tindakan dan kelakuan kita.

Tidak ada kuncen yang sakti mandraguna, yang boleh jadi merasa harus tidak meninggalkan tempat, karena dipotret sebagai manusia ”roso”, tanpa sadar, mengiktui hawa nafsuya sendiri sebagai korban mitos yang dibangun oleh media massa atas sosok dirinya, akhirnya hangus terpanggang.  Seperti halnya pemeran tokoh Superman, yang sebagai tokoh fiktif sakti mandraguna, tetapi dalam realitasnya akhirnya mati setelah bertahun-tahun lumpuh total, ”hanya” karena terjatuh dari kuda. Ada makna ilahiah di balik peristiwa kasat mata ini.

Ingatlah bagaimana kisah kaum Tsamud, sebagaimana diceritakan dalam Surat Syam, dibinasakan.  Dalam Surat As Syam (di ayat 14-15), disebutkan  ”Lalu Allah meratakan mereka (dengan tanah). Dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu”. Perhatikanlah ketetapan Allah yang Mahaperkasa ini, ’tidak takut terhadap tindakan-Nya itu.” Meski meluluhlantakkan lebih dari 200 ribu nyawa sebagaimana terjadi di Tsunami Aceh, apalagi ’cuma’ 500-600 orang di Sumatra Barat atau Kepulauan Mentawai. Apalagi ”hanya” 20 jiwa seperti di Garut.

Garut Banjir

Kaum Tsamud dibinasakan karena membangkang pedoman yang dibawa oleh  Rasulnya.  Dalam ayat ini Allah SWT menggunakan kata ”rabbu-hum”, menunjukkan ’Ke-Tuhan-annya’, dan Dia tak peduli dengan konsekuensi tindakan-NYA.  Camkan benar-benar. Allah SWT  meluluh-lantakkan Kaum Tsamud  karena dosa mereka. Dari sini dapat ditarik pengertian bahwa dalam kesatuan eksistensi bumi, sebuah tindakan yang salah karena didorong oleh sikap membangkang akan mendatangkan tindakan Allah. Resapi firman itu, ‘dan mereka diratakan dengan tanah.’ Ini berarti bahwa bumi, dalam tabiat kepatuhan fitrahnya sesuai dengan penciptaan kejadian, menghancurleburkan mereka.  Atas perintah Allah SWT.

Dengan kata lain, gempa bumi, Guncangan Besar, Az Zalzalah, dalam bahasa Al Qu’ran, haruslah kita pahami sebagai agen belaka. Di balik fenomena alam ini adalah makna  relasi kita dengan Allah SWT, yang telah memberikan pedoman melalui Rasul dan Risalahnya, serta memberitahukan konsekuensi-konsekuensi atasnya. Pada kepatuhankah kita atasnya atau pembangkangan, seperti Kaum Tsamud?

Maka, di tengah kesibukan kita menolong, di tengah kepiluan kita yang masih hidup, saatnya pula kita bersedekah sambil bertafakur.  Agar sedekah kita tidaklah sia-sia. Sebab apa yang berlaku pada Kaum Tsamud, juga berlaku pada kita. Dan, pembangkangan umum apakah yang kini kita terapkan? Salah satunya adalah larangan memakan riba! Inilah yang sepatutnya kita sadari, riba telah menjadi sistem, dan cara hidup kita hari ini.  Paceklik, banjir dan badai, kegersangan, adalah tanda-tanda yang diberikan oleh Rasul SAW apabila  masyarakat telah mengingkari timbangan dan takaran. Dan wujud paling nyata, paling curang tetapi halus, paling menindas, tetapi paling menguntungkan segelintir orang, adalah dipraktekkannya riba.

Maka, menjadi kewajiban kita semua, untuk bertaubat, memahami segala bentuk  praktek riba, dan mulai meninggalkannya. Pemakaian kembali Dinar dan Dirham, serta Fulus pada saat sudah beredar nanti, akan memudahkan masyarakat memahami kembali kerjahatan riba, sambil secara bertahap meninggalkannya.

Agar kita tidak  menjadi seperti kaum Tsamud.