Biaya Kuliah IPB Seharusnya Naik Hanya 150%, Bukan 69.000%

948

Baru-baru ini di kalangan alumni IPB (Institut Pertanian Bogor) terjadi kegalauan besar karena ada sekitar 400 Calon Mahasiwa Baru (CAMABA) Angkatan 53, yang masuk tahun ajaran 2016 ini, terancam gagal masuk IPB. Penyebabnya “sederhana” saja, tidak mampu membayar biaya kuliah, yang pada kelas tertingginya, mencapai sekitar Rp 25 juta/tahun. Bagi orang tua kebanyakan, uang Rp 25 juta/tahun, yang artinya perlu Rp 100-125 juta untuk sampai lulus jadi sarjana, sangatlah besar. Wajar sampai ada 400 orang Camaba terancam tak mampu bayar.

Sebagai alumnus IPB, saya lalu membandingkan dengan besarnya biaya yang harus saya keluarkan pada saat saya masuk IPB, tahun 1981 lalu.  Waktu itu besarnya SPP adalah Rp 36.000/tahun.  Jadi, selama kurun sekitar 35 tahun ini, telah terjadi lonjakan biaya yang teramat besar. Dari Rp 36.000 menjadi Rp 25.000.000. Ini berarti perlipatan sebanyak sekitar 695 kali lipatnya! Atau dalam persentase sebesar  sekitar 69.000 persen. Melihat angkanya saja liuer, bukan?

Segera saya konversikan angka-angka itu ke dalam Dinar emas. Pada tahun 1980/81 nilai Dinar emas adalah sekitar Rp 7.600, karena harga emas pada waktu itu sekitar Rp 1.900/gram.  Maka, biaya kuliah saya di IPB, setara sekitar 5 Dinar emas. Bagaimanakah setelah 35 tahun berlalu?

Pada 2016 ini nilai 1 Dinar sekitar Rp 2.100.000. Biaya kuliah di IPB Rp 25.000.000/tahun. Ini berarti setara dengan sekitar 12 Dinar emas. Artinya, dibandingkan dengan biaya 35 tahun lalu, yang 10 Dinar itu, terjadi kenaikan hanya 7 Dinar. Atau, dalam persentase, naik sekitar 150 persen saja. Bandingkan dengan kenaikan dalam rupiah yang mencapai 69.000 (enam puluh semiblan ribu)  persen! Atau 1.5 kali lipat dalam Dinar emas dibandingkan dengan 695 kali lipat dalam rupiah! Dengan rupiah, emas, dan kurang lebih kegiatan perkuliahan, yang sama.

Atas dasar perhitungan seperti itulah, dalam satu Grup WA, alumni IPB saya kemukakan (dengan perhitungan kasar, yang dikoreksi dengan data lebih tepat di sini), betapa perlunya kita  kembali menggunakan Dinar emas (dan dirham perak). Secara empiris selalu terbukti penggunaan Dinar emas akan sangat bermanfaat, mencegah inflasi. Sementara uang kertas, terbukti sangat bermasalah, memiskinkan masyarakat. Dan, dengan mengacu kepada Dinar emas, inflasi itu bukan tidak bisa dicegah. Inflasi adalah pengelabuan bagi tindak perampokan dari para pencetak uang kertas. Ini akibat dari sistem riba yang kita anut hari ini.

Tapi ada yang menakjubkan dari peristiwa besar, bukannya kecil, ini: tentang bukti yang saya ajukan atas  problem uang kertas versus Dinar emas tersebut, yakni tak ada satu pun anggota Grup WA itu, yang banyak di antaranya bergelar profesor, doktor, master, dan sudah pasti minimal sarjana, lulusan IPB, mengerti dan memahaminya. Tak ada satu pun reaksi atasnya. Kecuali tentang hal yang sama sekali tidak substantif.

IPB

Satu tanggapan yang muncul adalah: ‘Alangkah bagusnya kalau Dinarnya disedekahkan buat membantu Camaba yang kesulitan”!  Sedang soal pokoknya, pengelabuan dan perampokan oleh sistem uang kertas, merajalelanya sistem riba, dan bahwa penggunaan Dinar emas akan mencegah pemiskinan,  sama sekali tak ada yang merespon. Begitu sulitkah untuk membedakan, dan mengerti, kenaikan 1.5 kali versus 694 kali? Antara 150 persen versus 69.000 persen?

Di media massa, di awal Ramadhan ini, kemudian memang terbetik berita: Himpunan Alumni berhasil mengumpulkan dana Rp 1.1 milyar, sedekah para alumni, untuk membantu kesulitan Camaba di atas. Tentu sedekah ini bermanfaat. Setidaknya mengatasi masalah jangka pendek, meski, hanya bisa menutupi setahun pertama untuk 40 orang. Sekitar 10 persen saja dari keperluan. Atau, sebenarnya, hanya 2.5% saja untuk keperluan sampai lulus sarjana. Hampir tak berarti. Sementara, tahun-tahun ke depan, bisa dipastikan biayanya, dalam rupiah, akan naik lagi.

Jadi, ibarat mengobati suatu penyakit, cara alumni IPB dalam mengatasi masalah ini sama sekali tidak mengatasi masalah.  Ibaratnya hanya menempelkan tensoplast pada permukaan koreng dari kaki yang membusuk akibat penyakit diabetes yang sudah  sangat parah.  Tapi, ketika diberikan cara mengatasi masalah yang bisa mengikis habis akar masalahnya, jangankan menerima, nampaknya mau “menengok” pun tidak.

Di situ lah saya suka merasa sedih.