Abu Laits, Ulama Milyarder yang Tak Pernah Bayar Zakat

2973

Penarikan zakat atas penghasilan bulanan yang saat ini cukup marak, yang dikenal sebagai Zakat Profesi, adalah bid’ah yang tidak pernah ada dalam ajaran dan amalan umat Islam terdahulu.  Ini sepenuhnya gagasan, ide, atau opini kaum modernis.  Tidak ada dalam syariat Islam.

Nalar penggagasnya dalam menyatakan bahwa hasil profesi dikategorikan sebagai jenis harta wajib zakat hanya berdasarkan kias (analogi) atas kemiripan (syabbah) terhadap karakteristik harta zakat yang telah ada, yakni: model memperoleh harta penghasilan (profesi) mirip dengan panen (hasil pertanian), sehingga harta ini dapat dikiaskan pada zakat pertanian berdasarkan nisab (653 kg gabah kering giling atau setara dengan 522 kg beras) dan waktu pengeluaran zakatnya (setiap kali panen). Tentu saja ini janggal. Petani adalah kaum merdeka. Pegawai adalah orang gajian.

Kejanggalan kedua,  dalam menetapkan besarnya kewajiban zakat, tidak mengikuti zakat pertanian, tapi dengan zakat harta simpanan, hanya karena  harta yang diterima sebagai penghasilan berupa uang, sehingga jenis harta ini dapat dikiaskan pada zakat harta (simpanan atau kekayaan) berdasarkan kadar zakat yang harus dibayarkan (2,5%). Padahal, gaji tidak harus berupa uang bukan? Bisa digaji dengan beras atau kedele atau lainnya.

Di sini ingin dikemukakan bukti bahwa penghasilan tidak pernah dizakati.  Seorang ulama besar, Imam al-Laits, yang  juga termasuk pengusaha sukses yang amat dermawan. Karena itu, meski menjadi pengusaha sukses, Imam al-Laits tidak pernah menjadi kaya-raya sehingga tidak pernah membayar zakat.

Muhammad bin Ramh menceritakan, “Setiap tahun omset bisnis Imam al-Laits lebih dari 80.000 dinar (sekitar Rp 186 miliar/tahun dalam kurs 2017). Namun, beliau tidak pernah membayar zakat. Pasalnya, sebelum mencapai satu tahun (haul), hartanya sudah habis ia infakkan dan sedekahkan. Begitu seterusnya.” (An-Nawawi, Tahdzîb al-Asmâ’ wa al-Lughât, 2/73).

Berikut beberapa bentuk kedermawanan Imam Laits, menurut sejumlah riwayat.

Qutaibah bin Said menuturkan bahwa Imam al-Laits selalu bersedekah setiap hari untuk 300 fakir miskin.

Imam al-Laits juga gemar bersedekah kepada para ulama, salah satunya Imam Malik. Setiap tahun ia biasa mengirim hadiah sebanyak 100 dinar (sekitar Rp 230 juta) untuk Imam Malik.

Suatu saat, Imam Malik menulis surat kepada Imam Laits bahwa ia memiliki utang yang harus dilunasi. Segera Imam Laits membalas surat Imam Malik sambil memberikan secara cuma-cuma uang sebanyak 500 dinar atau sekitar Rp 1 miliar (Al-Jâmi’ fî Rasâ’il ad-Da’wiyyah, 128-129).

Yahya bin Bakr, berkata: Aku pernah mendengar ayahku berkata, “Al-Laits pernah mengutus tiga orang untuk menyedekahkan hartanya sebanyak 3000 dinar kepada tiga orang, masing-masing mendapatkan 1000 dinar (sekitar Rp 2,3 miliar), yaitu: Ibnu Luhai’ah, Malik bin Anas dan Qadhi Manshur bin Ammar.”

Saat pergi haji, Imam al-Laits singgah di Madinah. Saat itu Imam Malik mengirim beberapa lembar roti basah dari gandum di atas nampan. Setelah menyantap habis hidangan itu, Imam al-Laits lalu mengembalikan nampan tersebut dengan menaruh uang di atasnya sebanyak 1000 dinar (sekitar Rp 2,3  miliar) sebagai hadiah untuk Imam Malik.

Pada suatu ketika, Khalifah Harun ar-Rasyid memberi Imam Malik uang sebanyak 500 dinar. Mengetahui itu, Imam Laits tidak mau kalah. Ia kembali memberi hadiah Imam Malik berupa uang dengan jumlah dua kali lipat, yakni 1.000 dinar (Al-Irbili, Wafiyât al-‘Ayân wa Anbâ’ Abnâ’ az-Zamân, 4/10).