Buku Cerdas Heideger for Muslim

511

Apa yang kita harapkan, sebagai seorang Muslim, dari telaah tentang Heidegger?

Dia bukan seorang Muslim, jadi kita tidak akan mencari darinya jawaban tentang apa itu Islam. Apa yang dapat Heidegger bantu untuk kita ialah memahami cara berpikir yang mendominasi kita saat ini: filsafat dan saintisme.

Heidegger mengatakan cara berpikir kita saat ini membawa kesalahan yang melekat pada dirinya sejak semula. Dia menamai kesalahan tersebut: “keadaan lupa akan Ada” (forgetfulness of Being). Heidegger menyatakan bahwa filsafat tidak dapat memikirkan Kebenaran.

Mengapa Heidegger penting untuk kita? Sebab kita semua telah dididik untuk berpikir dengan cara berpikir di atas. Satu-satunya cara pikir yang saat ini tersedia di sekolah-sekolah dan universitas-universitas kita, yakni cara pikir sains, cara pikir teknologi, teologi, psikologi, sosiologi, antropologi, dan seterusnya. Heidegger bahkan menyatakan filsafat telah tamat riwayatnya, dan sains tidak berpikir.

Lantas apa jalan keluarnya? Heidegger meninggalkan sesuatu yang belum terselesaikan. Buku ini akan menunjukkan, sesudah Heidegger menutup kedai filsafat, hanya Islam yang dapat mengambil alih. Satu-satunya takdir terakhir bagi pemikiran dunia Barat, bahkan dunia Barat itu sendiri, ialah Islam. Dengan membaca buku karya dua Muslim Eropa ini kita dapat memetik buah yang sangat lezat: kita akan bisa menghayati keagungan dien kita dengan segala keajaiban-keajaiban yang luar biasa dengan peluang terbebaskan dari segala kabut omong-kosong dan khurafat yang meliputinya saat ini.

Heideger for Muslim

Bersiaplah untuk sebuah petualangan besar yang akan membebaskan kita menikmati secara lebih mendalam keberislaman kita.

Buku ini sendiri berasal dari dua risalah yang berbeda yang ditulis untuk keperluan berbeda pula.

Bagian I yang membahas sisi gelap Renaisans, yang merupakan titik awal modernisme, semula merupakan makalah ceramah penulisnya, Haji Abdalhaqq Bewley, yang disampaikan di depan publik di Norwich, Inggris.

Bagian II yang membahas pandangan-pandangan filosof Jerman, Martin Heidegger, semula berasal dari materi-materi kuliah yang diberikan penulisnya, Shaykh Umar Ibrahim Vadillo, di depan mahasiswanya sepanjang Semester I, di Dallas College, Cape Town, Afrika Selatan.

Atas izin keduanya dua risalah ini disatukan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kemudian diterbitkan sebagai buku ini. Untuk melengkapinya sebuah catatan dari penyuntingnya, Zaim Saidi, yang acap menghadiri kuliah kedua penulis selama ia berada di Dallas College (2005-2006).