Buku “Kembalinya Khilafah”: Inilah Jalan kembalinya Islam

662

Menjelang buku ini terbit, umat Islam baru saja usai merayakan Idul Fitri 1437 H, perhatian kaum Muslim seluruh dunia tertarik ke Turki. Media massa di segala penjuru dunia gencar mewartakannnya  gara-gara terjadi percobaan kudeta.   Sebuah kudeta yang gagal, meski telah menimbulkan banyak korban. Hampir 200 orang meninggal, lebih dari 1000 orang terluka, dan hampir 3000 orang ditangkap, kebanyakan dari kalangan militer yang mencoba melakukannya. Di negeri ini, kudeta militer seolah memang telah menjadi salah satu kelaziman. Sejak 1960 telah terjadi sebanyak lima kali kudeta, dan kali ini, Juli 2016, hanya berlangsung beberapa jam saja dan gagal. Rakyat Turki memenuhi jalanan menghadang tank-tank militer, dan menghalaunya untuk kembali ke barak.

Bagi umat Muslim negeri Turki memang istimewa. Di sanalah selama sekitar 700 tahun  Islam pernah berjaya di bawah panji Daulah Utsmani, dengan  wilayah kekuasaan yang  meliputi tiga benua. Meskipun kebanyakan umat Islam hari ini mengenalinya hanya secara samar-samar. Saat ini lebih banyak yang melihatnya dari sisi wisata belaka, karena kemegahan masjid-masjid dan  keindahan negerinya. Umat Islam Indonesia, misalnya, berziarah ke Turki sebagai bagian dari “Umrah Plus”.  Anak-anak pelajar mengenal Turki melalui sebuah nama yang  diajarkan sebagai “tokoh pembaharu dan modernisasi Turki”, Mustafa Kemal Attaturk. Kemal Attaturk, seorang perwira militer, anak keturunan keluarga Yahudi Salonika itu, ditampilkan sebagai hero, Pemimpin Revolusi, yang mengubah Turki Utsmani menjadi sebuah republik.

Kembalinya khilafah sampul promo

Republik Turki secara resmi dinyatakan berdiri pada 3 Maret 1924, yang berarti juga resmi berakhirnya  Daulah Utsmani. Sebuah kesatuan politik, tata pemerintahan Islam, yang didirikan oleh Osman Ghazi (memerintah selama 45 tahun, 1281-1326 Masehi), dan telah berlangsung selama sekitar 7 abad lamanya, pun terhenti. Sejak itu, Republik Turki lebih dikenal sebagai sebuah negara sekuler, yang terus memodernisasikan dirinya.

Panggilan salat, azdan, dalam bahasa aslinya bahasa Arab, pun pernah dilarang dan diganti dengan bahasa setempat. Sedemikian jauhnya kebencian terhadap Islam  bahkan pengenaan fez, kopiah merah berkuncir khas Turki, diharamkan. Diganti dengan topi ala barat, bersamaan dengan jas, dasi, dan rompi (la gilet!)!

Kemalisme, yang juga dikenal dengan sebutan Atatürkisme atau Enam Anak Panah, menjadi  ideologi pendirian Republik Turki tersebut. Enam pilar fundamental dari ideologi tersebut adalah: Republikanisme (bahasa Turki: cumhuriyetçilik), Populisme (bahasa Turki: halkçılık), Nasionalisme (bahasa Turki: milliyetçilik), Sekulerisme (bahasa Turki: laiklik), Statisme (bahasa Turki: devletçilik), dan Reformisme (bahasa Turki: devrimcilik). Kemalisme tiada lain adalah pembersihan politik, sosial, budaya dan agama yang dirancang untuk memisahkan negara Turki baru dari pendahulu Utsmaniyahnya dan menerapkan cara hidup yang diwesternisasikan,  termasuk pendirian demokrasi, kesetaraan sipil dan politik untuk wanita,  serta dukungan negara terhadap ilmu pengetahuan dan pendidikan sekuler.

Kemalisme ini, atau pada intinya adalah sekulerisme itu,   membawa perubahan cara berpikir dan berperilaku masyarakat Muslim Utsmaniyah, kepada perilaku yang dilandasi oleh humanisme dan rasionalisme, yang pada gilirannya membawa perubahan pada tatanan sosial dan politik di Turki. Wahyu Ilahi digeser, digantikan oleh konstitusi, yakni hasil pemikiran manusia sendiri. Tata pemerintahan yang semula menggunakan model pemerintahan perorangan dengan dasar wahyu, yakni Al Qur’an dan Sunnah, yakni sultaniya dengan amirat-amirat lokalnya, digantikan oleh sistem pemerintahan yang didasarkan kepada sistem ciptaan manusia sendiri. Kelas politisi dan birokrasi menggantikan para amir dan jajarannya.

Memori umat Islam tentang Daulah Utsmani sebagai tempat yang terdekat dari jarak waktu ketika syariat Islam ditegakkan sangatlah lemah. Meskipun minat dan gairah umat Islam, serta kerinduan kembalinya syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari, tidak pernah padam. Maka, setidaknya oleh sebagian umat Islam, 3 Maret diperingati sebagai tanggal saat runtuhnya Daulah Ustmani. Namun itu hanya formalitas dan puncak dari gunung es saja. Sebab proses menua dan membusuknya kekhalifahan Islam terakhir ini telah berlangsung selama sekitar 50 tahun lamanya, sebelum resmi dinyatakan bubar pada tanggal 3 Maret (1924) tersebut.

Hanya saja tak banyak umat Islam yang mencoba memahami secara lebih dalam soal sebab-musabab runtuhnya daulah tersebut. Perhatian hanya pada permukaan, dan terutama terfokus pada masa-masa akhir saja, sejak kemunculan tokoh Mustafa Attaturk. Apa yang sebenarnya terjadi selama 50 tahun terakhir tersebut? Gerakan militerkah yang melumpuhkan daulah? Adakah faktor lain yang membonceng sekulerisme hingga meluluhlantakkan seluruh pondasi daulah yang sebelumnya, selama ratusan tahun, kokoh tegak berdiri?

Di sinilah pentingnya buku Kembalinya Khilafah buah karya Shaykh Dr Abdalqadir as Sufi ini.

“Survei singkat dari jatuhnya Kekhalifahan ini adalah sebuah bacaan sejarah yang membuka wacana untuk pemulihan kembali. Kekhalifahan tidak hanya fundamental bagi Islam, tapi juga merupakan fondasi penting dari kekuatan Islam.

Konsep yang diidealisasikan mengenai Khalifah sebagai seseorang yang pantas memimpin merupakan pengalihan isu dari Syiah untuk menjamin tugas itu tidak pernah dilaksanakan karena selalu diklaim bahwa orang tertentu tidak akan cukup baik untuk memenuhi kualifikasi sebagai pemimpin. Sama halnya dengan orang Arab yang mengklaim bahwa tugas itu hanya milik suku Quraish, tidak memiliki kekuataan mutlak, sementara kesejarahan otoritas Daulah Utsmani lah yang merupakan argumen yang terkuat.”…

“Tujuan dari buku ini adalah untuk menegaskan hal yang tak terelakkan bahwa kekalahan kita adalah di tangan para lintah darat, bukan di tangan militer. Tidak ada pasukan yang dapat bertahan menghadapi pasukan Islam tetapi juga tidak ada riba yang dapat bertahan terhadap deklarasi perang dari Allah dan Rasul SAW. Buku ini adalah risalah mengenai rasa takut dan penuh harap.”