Buku Pemandu Restorasi Islam

940

Sekitar 25 tahun lalu, tepatnya pada 1995, Shaykh Dr Abdalqadir as Sufi bertemu muka dengan rombongan delegasi politisi Muslim dari Kelantan, Negara Bagian di Malaysia, di sebuah tempat, di Swizterland.  Kelantan adalah satu dari Sembilan Negara bagian di Malaysia yang paling kental dengan aspirasi Islam, dan tempat satu-satunya negara bagian di negeri jiran yang didominasi oleh Partai Islam Se-Malaysia atau PAS.

Selebihnya, kita tahu, Malaysia selama puluhan tahun dikuasai oleh koalisi partai nasionalis,  Barisan Nasional (BN), dengan unsur utamanya United  Malays National Organization (UMNO).  Baru pada pilihan raya 2018, untuk pertama kalinya koalisi partai oposisi, dengan come back-nya Tun Mahathir Mohammad, memenangkan pemilu. Namun, posisi PAS tetap sama, sebagai partai independen yang tak tetap kecil.

Dalam temu muka ini Shaykh Abdalqadir memberikan wejangan dan wacana  dalam berbagai hal pokok dan penting tentang politik dan Islam. Seperempat abad kemudian, pada 2018 – yang berarti telah memasuki seperlima dari abad ke-21 –  hal-hal pokok dan mendasar itu bukan saja semakin relevan tapi juga makin penting dipahami oleh umat Islam, khususnya para pemimpin dan aktivisnya. Bukan saja bagi yang ada di negara bagian Kelantan, tapi di semua tempat. Karena itu dokumen tersebut diterjemahkann ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan untuk kalangan umum.

Setelah ditambah dengan satu tulisan lain dari Shaykh Abdalhaq Bewley dokumen tersebut diterbitkan sebagai buku ini dengan diberi judul  Restorasi Islam, Diskursus bagi Politisi dan Aktivis Muslim.

Kata restorasi bermakna “pengembalian atau pemulihan kepada keadaan semula”.  Islam adalah realitas eksistensial nomokrasi  yang pernah berlaku, dan membentuk peradaban manusia yang jaya, selama ratusan tahun, tapi kemudian digerogoti, dikalahkan, dan disapu bersih, oleh peradaban lain. Sebuah peradaban modern, yakni demokrasi yang dilandasi oleh humanisme rasional ateisitik,  yang bertolak belakang dengan nomokrasi Islam yang    dilandasi oleh iman dan wahyu Ilahi, telah menggantikannya.

Upaya restorasi, tentu saja, hanya akan dapat dilakukan bila kita memahami akar masalah penyebab runtuhnya realitas ekistensial Islam itu.  Keruntuhan yang terutama berlangsung dalam kurun satu abad terakhir ini. Dalam wacana yang cukup singkat Shaykh Abdalqadir telah mencakup sejumlah hal pokok dan mendasar mulai dari ranah politik, finansial, fiqih, sampai kepada adab dan tasawuf.   Dalam kurun satu abad terakhir ini keseluruhan pondasi Islam dalam berbagai ranah ini telah runtuh. Shaykh Abdalqadir menguraikan akar penyebab keruntuhannya dan menunjukkan peta jalan untuk  menyelesaikannya.

Dalam dokumen yang ringkas ini, apalagi semula berasal dari wacana melalui suatu ceramah, tentu saja banyak hal mendetail dan teknis tidak tercakup di dalamnya. Untuk mendapatkannya pembaca dapat menelaah  banyak buku-buku yang kemudian ditulis oleh Shaykh Abdalqadir as Sufi, yang sebagian telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Pusataka Adina (lihat www.pustakaadina.com). Untuk mengantarkan kepada pengajaaran Shaykh ABdalqadir yang begitu luas dalam buku ini disertakan tulisan Shaykh Abdalhaq Bewley yang meringkaskan pokok-pokok ajaran Shaykh Abdalqadir as Sufi, yaitu  “Pemurnian Kembali Fiqih Islam: Perkenalan atas Ajaran-ajaran Shaykh Dr Abdalqadir as-Sufi”.

Dengan peta jalan yang telah diberikan sebagai panduan, menjadi tugas kaum Muslimin, khususnya para politisi dan aktivisnya untuk mewujudkannya dalam amal. Rasulullah shalallahualaihi wa sallam telah mengatakan:  “Al dien al mu’amalah.” Dien adalah tindakan, perilaku, bukan konsep atau teori.   Shaykh Dr Abdalqadiras Sufi menegaskan, “Pembelajaran Islami haruslah bermuara kepada pengamalan yang kemudian membawa kepada Amr (Governance)”.

Pengetahuan tanpa pengamalan adalah lumpuh. Bahkan bisa jatuh kepada keadaan “perkataan tanpa perbuatan” yang sangat dibenci oleh Allah SWT.