Dengan Kertas Anda Dipermiskin, Dengan Emas Diperkaya

500

Hari ini uang kertas telah dianggap sebagai satu-satunya alat tukar yang sah. Tapi kebiasaan buruk ini sesungguhnya belum lama. “Baru” sekitar tiga abad lamanya, itupun semula masih ditopang dengan emas atau perak. Uang kertas tanpa topangan emas berulah berumur sekitar 50 tahun.

Kebiasaan yang lebih baik, dan jauh lebih lama dipraktekkan, adalah penggunaan koin emas dan pasangannya koin perak, sebagai alat tukar. Emas dan perak telah teruji oleh watu, ribuan tahun lamanya, dan lintas peradaban. Setiap kali kita bisa buktikan, sejak penggunaan kertas menjadi kebiasaan, masyarakat – termasuk Anda tentunya- dipermiskin setiap saat. Sedengkan emas akan memperkaya.

Perhatikan data yang relatif mutakhir berikut ini.

Pada 1997, 1 Kg telor ayam seharga Rp 2.000. Pada 2018, 1 Kg telor ayam yang sama seharga Rp 25.000.

 

Sadarkah tuan dan puan itu bermakna dalam 21 tahun ini Anda dipermiskin 12.5x lebih miskin? Anda boleh berkilah “ya tapi gaji saya kan juga naik.” Baik, sila hitung, apakah yang dulu gaji Anda Rp 1 juta, hari ini telah menjadi Rp 12.5 juta? Dan yang saat itu bergaji Rp 12.5 juta hari ini telah menjadi Rp 156.25 juta? Setara dengan tingkat pemiskinan yang ditimbulkannya?

Sekarang lihatlah data berikut: pada 1997, 1 dinar Rp 90.000. Pada 2018 1 dinar Rp 2.5 juta.

Pada 1997 1 dinar dapat dibelikan 45 Kg telor. Pada 2018, 1 dinar dapat dibelikan 100 Kg telor. Maknanya Anda diperkaya 2.22x. Bukan dipermiskin 12.5x seperti halnya dilakukan oleh rupiah kertas!

Jelas bukan, kertas memiskinkan, sedang emas memperkaya. Maka, mulai tinggalkan uang kertas, ganti dengan dinar emas.