Dengan Wakaf Kita Bebaskan Diri dari Riba

622

Sebuah peristiwa terjadi di kalangan Bani Najjar sebagaimana diriwayatkan oleh Anas r.a. Rasulullah SAW minta mereka untuk membangun sebuah masjid. Setelah pembangunan selesai, Rasul SAW bertanya kepada Bani Najjar:

“Berapakah harga dinding-dinding itu?”

Mereka menjawab, “Tidak, ya, Rasulullah. Kami tidak menginginkan biaya itu diganti, itu adalah untuk Allah SWT.”

Jadilah bangunan masjid itu wakaf dari keseluruhan warga Bani Najjar.

Wakaf secara  gotong royong inilah yang oleh para fukaha kemudian disebut sebagai wakaf syuyu’i.

Jadi, dalam ‘amal para Sahabat dan pengikutnya di Madinah, yang kemudian juga jadi pola umum dalam masyarakat Muslim berikutnya, kita mengenali ada tiga jenis wakaf.

Jenis yang pertama adalah yang dilakukan oleh seseorang untuk kepentingan umum (wakaf khaeri).

Jenis kedua  adalah wakaf  yang dilakukan oleh seseorang lainnya demi sanak dan kerabatnya (wakaf ahli).

Jenis  ketiga, sebagaimana yang dilakukan oleh Bani Najjar di atas, wakaf diberikan secara  bergotong-royong oleh banyak orang untuk kepentingan lebih banyak orang lagi (wakaf syuyu’i).

Pada ketiga jenis wakaf itulah kita mendapatkan gambaran utuh peranan wakaf sebagai salah satu pilar utama muamalat. Ketika hukum syariat berlaku dan ditaati umat Islam dalam kehidupan sosial dan politik, dan bukan cuma dalam urusan-urusan pribadi (seperti salat, puasa, dan berhaji), sebagaimana umumnya dilakukan kaum Muslim sekarang, kita menyaksikan tata dan pola kehidupan yang berbeda. Ketika muamalat dijalankan sesuai dengan aturan dan hukumnya, perdagangan  yang halal berjalan wajar, sedekah subur,  kehidupan sosial pun relatif makmur, sementara riba  merupakan perilaku menyimpang yang dipraktekkan secara memalukan oleh segelintir orang.

Kini, kita melihat yang sebaliknya terjadi, perdagangan mati, sedekah paceklik, dan kemiskinan merajalela. Riba, sebagaimana disinyalir oleh Rasulallah SAW sendiri menjadi keumuman, hingga ‘bahkan mereka yang tidak mau makan riba pun terkena debunya.’

Ketika muamalat berjalan, wakaf gotong-royong (wakaf syuyu’i), menjadi pola  jariah  hampir setiap orang tanpa memandang bidang pekerjaannya. Orang-orang Muslim pada umumnya adalah orang-orang merdeka, tergabung dalam paguyuban-paguyuban usaha (syirkat), sebagai pedagang mandiri maunpun berkongsi dalam suatu kemitraan dagang (qirad atau mudharabah), atau menjadi petani, pekebun atau peternak. Hanya sedikit orang, hampir-hampir merupakan perkecualian, berstatus sebagai ‘orang terikat karena bayaran’, yang kini kita sebut – secara  ironis, dengan bangga –  sebagai ‘profesi’ itu.  Dalam sistem riba sekarang, lagi-lagi, keadaan sebaliknya yang terjadi:  orang-orang merdeka adalah perkecualian, selebihnya adalah ‘kaum profesional’, untuk tidak menyebutnya sebagai ‘kawula bayaran’ yang menyedihkan.

Apa makna dan implikasi dari dua keadaan berkebalikan itu?

Ketika muamalat dijalankan setiap orang adalah tuan bagi dirinya sendiri, dan semuanya adalah pemegang aset, maka sedekah jariah subur-makmur.  Ketika muamalat mati, dan riba merajalela, hampir semua orang mengabdi pada seorang tuan,  dan hanya di tangan sedikit tuan-tuan inilah  aset berada. Perdagangan mati dan sedekah jariah menjadi kelangkaan.

Bukankah bahkan untuk memiliki  sebuah aset pribadi, sebuah rumah super mini Tipe 21, kebanyakan kita saat ini harus membelinya – secara cicilan selama 15-20 tahun – dari segelintir tuan-tuan tersebut? Apalah lagi hendak berwakaf?

Maka, wakaf gotong-royong adalah satu pintu masuk bagi kita untuk mengembalikan praktek mumalat, dan  memperkecil ruang gerak riba.  Wakaf  tunai yang kita kumpulkan beramai-ramai, sedikit-demi sedikit, kita kembalikan  menjadi aset-aset syuyu’i –  pompa bensin, pergudangan, pertokoan, wisma penginapan, dll –   yang kemudian surplusnya kita jadikan  penopang kesejahteraan sosial.  Seluruh kaum Muslim harus melakukannya dari sekarang, meski baru anak cucu kita yang akan menikmati hasilnya.

Salah satu model yang Baitul Mal Nusantara (BMN) dan Kesultanan Bintna Darul Masyhur (KBDM)  tawarkan adalah kita bangun kawasan-kawasan  terpadu berbasis wakaf ini, dalam program Wakaf  Imarah (BMN). Saat ini ada du atempat di Tembeling dan di Toapaya, Pulau Bintan.

Maka, ayo, sisihkanlah sebagian harta Anda, sumbangkan untuk program  Wakaf Imarah ini melalui Baitul Mal Nusantara (BMN)