Di AS Banyak Remaja Terpaksa Jual Diri Demi Makan

713

Ini tentu sebuah kabar yang mengejutkan. Di AS para remaja mulai berputus asa, akibat kemiskinan dan kelaparan, banyak yang terlibat dalam kejahatan dan prostitusi.

Para peneliti dari Urban Institute, sebuah kelompok penelitian kebijakan ekonomi dan sosial yang berbasis di Washington, bekerja sama dengan Feeding America – sebuah LSM jaringan ‘bank’ makanan, mengungkapkannya awal pekan ini.   Penelitian ini berjudul “Bagaimana Kerawanan Pangan Mempengaruhi Remaja.”

Para peneliti membuat dua kelompok fokus,satu laki-laki, satu perempuan – di 10 komunitas termiskin di seluruh Amerika, termasuk di kota-kota besar seperti Chicago dan Los Angeles, serta di beberapa kota pedesaan. Para peneliti mewawancarai 193 anak laki-laki dan perempuan berusia 13 sampai 18, Semua anonim, penelitian dilakukan selama tiga tahun.

Hasilnya? Sungguh memprihatinkan.

Para remaja dipaksa oleh keadaan menjadi dewasa secara lebih cepat.Dan, saat menghadapi kerawanan pangan yang parah, remaja  mulai merasakan berat tanggung jawab orang dewasa. Namun, lapangan kerja terbatas bagi mereka, jalan pintaslah jadi solusinya.

Remaja di semua 10 lokasi studi banyak cerita tentang bagaimana mereka sendiri atau teman-teman mereka telah melakukan kejahatan kecil seperti mengutil, atau pelanggaran yang lebih serius seperti menjual obat, dalam rangka mencari uang untuk beli makanan. Para remaja mengakui “menjual tubuh mereka” atau “seks untuk uang” sebagai cara untuk mendapatkan sesuatu untuk dimakan.

Kebanyakan praktek “seks untuk makanan” ini tidak menampakkan sebagai prostitusi, karena pelaku tidak menerima uang secar alangsung, tapi sekadar ditraktir atau diberi makanan. Namun, tidak sedikit anak-anak remaja muda ini, menjajakan tubuhnya melalui brosur atau selebaran.

Remaja Ngemis

Fenomena ini, tentu saja, adalah wajah dari sistem kapitalisme yang zalim. Segelintir orang berkuasa dan menguasai kekayaan, sementara mayoritas warga, dalam kemiskinan.