Emas dan Perak Pasti Cukup Sebagai Alat Tukar

2844

Banyak orang yang mengatakan bahwa emas dan perak tidak akan mencukupi bila dipakai sebagai uang atau alat tukar. Apalagi dalam sekala global, untukperdagangan internasional. Ini karena ketidakmengertian orang-orang tersebut tentang beberapa hal. Penjelasan berikut semoga membuat orang yang tidak mengerti ini menjadi mengerti, dan tidak meragukan lagi bahwa ketentuan Allah dan Rasulnya, salallahu’alaihi wassalam, sudah pasti yang terbaik.

Sudah banyak artikel yang disampaikan tentang emas dan perak ini, tapi memang tidak secara khusus membahas soal jumlah emas dalam kaitan dengan “ekonomi dunia”. Sebab isu ini sebenarnya tidak relevan dalam muamalat. Dalam muamalat, pertukaran hanya akan terjadi antarsumber daya alam saja. Jadi, mana bisa sumber daya alam ditukar dengan sumber daya alam yang lain, yang semuanya tersedia, tidak mencukupi? Ini hanyalah soal nilai tukar saja dari setiap sumber daya alam tersebut.

Khusus mengenai isu “jumlah emas dan perak tidak akan cukup”, ini muncul karena kekurangmengertian, bahwa alat tukar dalam Islam sesungguhnya bukan cuma emas dan perak saja. Selain emas, ada perak, dan semua benda yang lazim dipakai sebagai alat tukar, bisa dipakai sebagai uang asal bisa distandarisasi. Rasul SAW menyebutkan, sebagai contoh saja enam komoditi: emas, perak, gandung, syair, kurma dan garam. Kalau di Jawa gabah biasa jadi alat bayar, dan cukup lazim juga digunakan sebagai alat tukar – misalnya menukar jasa pemanenan, yang di jawa disebut sebagai bawon.

Selain itu, “uang” saat ini tidak mencukupi karena sekitar 97% -nya untuk membayari sesuatu yang tidak ada, yakni “buble” saja. Dalam Islam, gelembung ekonomi ini, kita sebut sebagai riba. Ekonomi riil saat ini cuma sekitar 3% dari total “ekonomi” yang ada saat ini. Maka, berapapun sumber daya alam yang ada saat ini tidak akan cukup untuk membiayai “ekonomi”. Karena “ekonominya” melawan fitrah, mengingkari bahwa sumber daya alam itu terbatas, yakni nilai dari sesuatu yang intrinsik pada sumber daya alam itu dipalsukan menjadi fantasi, pada angka nominal di atas uang fiat. Uang kertas sepenuhnya adalah Riba.

Maka, dengan sistem uang kertas, kalau di dunia ini ada lima buah bumi pun, apalagi cuma satu, kalau saja bisa dan ada yang menjualnya, pasti akan bisa dibeli dengan uang kertas. Karena nilainya bahkan bisa dibubuhkan hanya dengan coretan pada selembar kertas cek, atau dengan mengetik beberapa bit komputer saja. Tetapi dengan dinar emas atau dirham perak, transaksi itu tidak bisa dilakukan, dan tentu saja emas dan perak tidak akan cukup jumlahnya untuk membeli separuh bumi saja.

Bukankah menjadi cukup mudah dipahami bumi dan isinya saat ini semakin rusak karena kita menggunakan uang kertas? Dengan dinar emas atau dirham perak, dan sumber daya lain sebagai alat tukar, transaksi akan terjadi sebatas fitrah, sebatas anugerah Allah SWT kepada manusia. Sebatas kebutuhan manusia. Uang kertas adalah ekspresi nafsu manusia yang tak terbatas itu. Hingga Goethe, Pujangga Besar Jerman, dalam drama terkenalnya, Dr Faust, menyebutkan uang kertas sebagai ciptaan setan.

tumpukan emas

Terakhir, jangan lupa bahwa selain dinar emas dan dirham perak, kita juga akan menerapkan fulus, yakni koin tembaga, untuk keperluan jual beli benda-benda atau barang yang kecil nilainya. Yakni di bawah nilai koin dirham perak terkecil. Kalau di Indonesia fulus tidak akan digunakan untuk belanja barang dengan harga mulai dari 0.5 Dirham. Jumlah tembaga ini, yang jauh lebih banyak dari emas dan perak, akan mengkover sebagian traksaksi kecil-kecil dan harian.

Bisa ditambahkan bukti empiris pertumbuhan produksi emas di dunia ini, rata-rata, adalah sekitar 2-3% per tahun. Pertumbuhan jumlah manusia di dunia ini, rata-rata, juga sekitar 2-3%. Nilai perdagangan riil di seluruh muka bumi ini juga tercatat sekitar 2-3%. Boleh jadi inilah gambaran fitrah yang ada dalam kehidupan ini.

Ketidakpahaman sejumlah orang dalam memahami hakekat alat tukar berbasis komoditi ini adalah akibat keracunan doktrin-doktrin menyesatkan yang diajarkan di sekolah-sekolah, yang kita sebut sebagai “ilmu ekonomi”. Ini bukan ilmu, tapi formula untuk posisi ideologi tertentu, yakni ideologi riba. Jadi, ilmu ekonomi kalau mau disebut sebagai ilmu tak lain adalah ilmu riba atau ilmu tuyul. Sarjana dan guru besar ekonomi adalah para sarjana dan guru besar tuyul.