Faisal Basri: “Tren Ketimpangan Memburuk!” Kekayaan Numpuk di Segelintir Orang

616

Belum lama ini Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terbaru tentang ketimpangan, dengan menggunakan indeks gini ratio. Dikatakan  pada Maret 2016 Indeks Gini Ratio turun menjadi 0,397. Ini merupakan pertanda tingkat ketimpangan di Indonesia kembali dalam kategori rendah (<0,4). Kategori sedang ada pada angka 0,4-0.5 dan ketegori ketimpangan tinggi atau parah bila >0,5.  Bandingkan dengan angka  pada September 2014, angka tertinggi, ada pada 0,414.

Namun demikian, tren jangka panjang yang merupakan ukuran yang lebih bisa diterima, ternyata memburuk. Demikian, pengamat ekonomi Faisal Basri, menyatakan dalam situs pribadinya,  www.faisalbasri.com, 20 Agustus 2016. Faisal basri menunjukkanya dalam grafik berikut:

ketimpangan penduduk

Selain kedenderungan jangka panjang memburuk, Indonesia juga menunjukkan konsentrasi kekayaan pada segelintir orang.

“Data Bank Dunia tentang konsentrasi kekayaan menunjukkan kondisi ketimpangan yang amat parah. Indonesia menduduki peringkat ketiga terparah setelah Rusia dan Thailand. Satu persen rumah tangga Indonesia menguasai 50,3 persen kekayaan nasional. Semakin parah jika melihat penguasaan 10 persen terkaya yang menguasai 77 persen kekayaan nasional. Jadi 90 persen penduduk sisanya hanya menikmati tidak sampai seperempat kekayaan nasional,” tulis Faisal Basri.

Konsentrasi kekayaan.jpg

Peneliti dan dosen UI ini juga menunjukkan bahwa kekayaan yang menumpukitu merupakan hasil kapitalisme perkoncoan (crony capitalism).  “Sekitar dua pertiga kekayaan yang dikuasai orang kaya Indonesia diperoleh karena kedekatannya dengan penguasa. Crony-capitalism index Indonesia menduduki peringkat ketujuh,” ujarnya. Grafik di bawah ini menunjukkan pernyataan Faisal Basri tersebut.

Kroni Kapitalisme.jpg