Fatwa NU: “Haram Membayar Zakat dengan Uang Kertas”

579

Menjelang memasuki Abad ke-20, uang kertas yang semula tak dikenal di kalangan umat Islam, mulai diberlakukan di Mesir. Mufti Al Azhar saat itu (sebelum digantikan oleh Muhammad Abduh), Shaykh Muhammad Illysh, ditanya tentang posisi uang kertas dalam kaitannya dengan kewajiban zakat.  Pendapatnya:

Jika zakat menjadi wajib karena pertimbangan substansinya sebagai barang berharga (merchandise) maka nisabnya tidak ditetapkan berdasarkan nilai (nominal)-nya, tetapi atas dasar substansi dan jumlahnya, sebagaimana pada perak, emas, biji-bijian atau buah-buahan. Karena substansi (uang kertas) tidak relevan (dalam nilai) dalam hal zakat maka ia harus diperlakukan sebagaimana tembaga, besi atau substansi sejenis lainnya.

Itu berarti uang kertas tidak bisa digunakan sebagai alat pembayar zakat mal. Shyakh Muhammad Illysh adalah ulama bermadhhab Maliki. Pendapat serupa diberikan oleh ulama dari Madhhab Hanafi, Imam al Kasani, menyatakan bahwa zakat mal tidak boleh dibayar dengan dayn atau janji utang dan hanya sah dibayar dengan ‘ayn. Uang kertas bermula sebagai dayn.

Bagaimanja dengan posisi ulama madhhab Syafi’i? Ternyata serupa juga. Dan ini tidak jauh-jauh dapat kita temukan di Indonesia, dan berasal dari sebuah Fatwa resmi dari Nahdhatul Ulama (NU).

Drs Nurman Kholis MA, peneliti di  Lektur Keagamaan Balitbang Kementrian Agama RI, menemukan fatwa tersebut dalam buku Solusi Problematika Aktual Hukum Islam Nahdhatul Ulama. Fatwa tersebut merupakan bagian dari  Keputusan Muktamar Nahdhatul Ulama ke-4 di Semarang pada tanggal 14 Rabiuts Tsani 1348 H/ 19 September 1929 M.

Dalam buku tersebut tertulis sebuah pertanyaan dan jawabannya sbb:

S: Bolehkah uang kertas dipergunakan untuk menjadi zakat uang kertas juga?
J: Tidak boleh

Jelaslah bahwa zakat mal hanya sah dibayar dengan nuqud, yaitu dinar emas atau dirham perakk. Saat ini Dinar dan Dirham telah kembali dicetak dan diedarkan di tengah masyrakat. Maka pembayaran zakat harus kembali dilakukan hanya dengan koin-koin tersebut.

Informasi mengenai Dinar dan Dirham serta penggunaannya dapat dilihat melalui www.wakalaindukbintan.com.