Johann Wolfgang von Goethe: Muslim Eropa Pertama

839

 

Johann Wolfgang von Goethe dikenal di penjuru dunia, termasuk di Indonesia,  karena diabadikan pada nama Goethe Institut, lembaga  kebudayaan Republik Federal Jerman yang mengembangkan pengetahuan mengenai bahasa dan budaya Jerman di luar Jerman. Bagi bangsa Jerman sendiri Goethe bukan cuma seorang tokoh serbabisa, tetapi pahlawan besar. Goethe adalah ilmuwan, filosof, yuris, sastrawan, ekonom, arsitek, matematikawan, agamawan, juga  ahli militer. Salah satu karya besarnya yang sampai di Indonesia adalah drama  Faust (diterjemahkan oleh Abdulhadi WM, Balai Pustaka, 1990). Namun, berapa banyak orang yang mengetahui bahwa Wolfgang von Goethe, Sang Jenius, kemungkinan besar  wafat sebagai seorang muslim?

Kemusliman Goethe terungkap melalui penelitian mendalam oleh ulama Eropa masa kini, Shaykh Dr Abdalqadir as Sufi (lahir sebagai Ian Dallas asal Skotlandia), bersama salah satu muridnya asal Jerman, Abu Bakr Rieger, kini Presiden Uni Muslim Eropa dan Sekjen Asosiasi Pengacara Muslim  Eropa. Mereka berdua, pada 1995, menerbitkan sebuah dokumen  ”Fatwa on The Acceptance of Goethe as Being Muslim” (Fatwa über die Anerkennung Goethes als Muslim), yang dicetak dan disebarluaskan oleh Weimar Institut, Jerman (19 Desember 1995).  Kemusliman seorang Goethe, khususnya dalam konteks Eropa, memiliki implikasi yang sangat penting, terutama  saat gejala islamofobia di dunia Barat terus  dibesar-besarkan, seperti yang terjadi akhir-akhir ini.

Minat Goethe pada  Islam

Drs Nurman Kholis, M. Hum, peneliti muda Puslitbang Lektur Keagamaan, Balitbang Departemen Agama, menyebutkan bahwa perkenalan Goethe pada Islam dimulai dari minatnya pada studi tentang ketimuran. Ini didorong oleh persentuhan Goethe dengan syair-syair karya Saadi dan  ajaran tasauf Jalaluddin Rumi. Sejak usia muda, pada umur 20-an awal, Goethe  mulai belajar membaca dan menulis bahasa Arab, dan menelaah  al-Quran dan menyalin ayat-ayat pendek dengan tulisan tangannya. Goethe mulai mengenal al-Quran melalui terjemahan karya JV Hammer (bahasa Jerman) dan karya G. Sale (bahasa Inggris).

Dengan  kemahiran menulis dan membaca bahasa Arab Goethe mulai mengkopi doa-doa pendek berbahasa Arab, dan mengatakan, ”Tidak ada dalam spirit bahasa lain, kata dan huruf mampu ditampung sedemikian orisinalnya.” Keyakinan Goethe terhadap kebenaran Islam, ia tuangkan dalam buku  syairnya West-östliche Divan, yang juga ia beri judul bahasa  Arab Al-Diwan Al-Syarqiyyu li Al-Muallifi Al-Gharbiyyi.  Tantang al Qur’an Goethe  menulis: ”Tak bakal seorang pun ragu tentang kebesaran efisiensi Kitab ini. Itu sebabnya ia dinyatakan sebagai bukan sebuah ciptaan oleh para pendukungnya…Kitab ini akan abadi ampuh selamanya.” Pada usia 70  tahun ia menulis tentang lailatul qadar secara afektif, ia “ingin memperingati dengan takzim malam ketika Rasul dianugerahi Qur’an secara lengkap dari atas.”

Suatu ketika Goethe membacakan dengan keras terjemahan sejumlah ayat Qur’an dalam bahasa Jerman di hadapan keluarga dan tetamu bangsawan (Duke) Weimar. Tetapi ia merasa tak pernah puas dengan segala bentuk terjemahan (ia memahami bahasa Latin, Inggris, Jerman dan Perancis), dan selalu mencari terjemahan baru. Dalam suatu karyanya ia berkata tentang Qur’an: ”Apakah Qur’an adalah keabadian?/Saya tidak meragukannya!…/Itu Buku segala buku/Saya meyakininya sebagai kewajiban seorang muslim.” Dalam surat yang dikirim kepada anak tunggalnya August, 17 Januari 1814, Goethe mengatakan ”Beberapa agama telah mengecoh kita sampai kemudian datang al-Quran ke perpustakaan kita”.

Satu butir yang juga ditunjukkan oleh Shaykh Abdalqadir dalam Fatwa-nya adalah  indikasi dari Goethe sendiri bahwa ia adalah seorang muslim.  Pada 24 Februari 1816 ia mempublikasikan sebuah pernyataan: “Sang Penyair [Goethe]… tidak menolak kecurigaan bahwa ia sendiri adalah seorang Muslim.”  Dan dalam salah satu syairnya yang lain, dalam Divan, Goethe berkata: “Sungguh bodoh setiap orang, dalam setiap urusan/Memuja-muji pendapatnya sendiri!/Bila Islam bermakna kepatuhan kepada Tuhan,/Kita semua hidup dan mati dalam Islam./

Bukti Kemusliman  Goethe

Fatwa Penerimaan Goethe sebagai Muslim diawali dengan kutipan pernyataan Goethe dalam percakapannya dengan  sahabatnya, penyair J.P Eckermann,  11 Maret 1832, bahwa  “banyak nonsense dalam doktrin gereja [kristen].”  Dalam Divan  Goethe menolak pandangan kristiani tentang Jesus di satu sisi dan mengkonfirmasi keesaan Allah SWT di sisi lain: “Jesus merasa murni dan dengan lembut berpikir/Hanya Satu Tuhan/Siapa yang menjadikannya sebagai tuhan/Menghina kehendak sucinya/Dan karenanya kebenaran harus  memancar/Apa yang juga telah dicapai oleh Muhammad;/Hanya dengan kata ”Yang Satu”/Ia menguasai seluruh dunia/. Di bagian lain Goethe menyatakan bahwa Jesus, Isa alaihisalam, hanyalah seorang Rasul, seperti halnya Nabi Ibrahim, Musa, dan Dawud, sebagai ”perwakilan dari Keesaan Tuhan.”

Selain pernyataan  Goethe yang  menunjukkan pengakuannya tentang Allah SWT ini, sebagai syahadat pertama,  Shaykh Abdalqadir mengemukakan sejumlah bukti lain. Goethe juga berkata  “Keimanan tentang satu Tuhan selalu membawa dampak memperbaiki ruhani sebab ini mengindikasikan pada seseorang ketauhidan dalam dirinya sendiri.” Goethe juga dikenali menolak konsep kebetulan, dengan kata lain ia meyakini adanya qadha dan takdir. Pada 12 Agustus 1827, ia menulis, : ”Kalau Allah menghendaki aku menjadi seekor cacing;/Ia akan telah menciptakan aku sebagai seekor cacing.”

Bagaimana dengan pengakuannya akan Kerasulan Muhammad SAW, sebagai pernyataan syahadat kedua?

Goethe banyak menulis tentang Nabi Muhammad SAW dalam syair-syairnya, Mohamets Gesang. Tentang kerasulannya  ia berkata: “Dia adalah seorang rasul dan bukan  penyair dan karenanya Qur’an yang dibawanya adalah hukum ilahi dan bukan buku karya manusia, yang dibuat untuk mendidik atau menghibur.”  Salah satu bait Gesang berbunyi:”Juga kalian, mari/ Dan kini lebih ajaib dia membesar-meluas/Seluruh ras menyanjung pangeran ini.” Dalam manuskrip tulisan tangannya, dalam naskah  Paralipomena III, 31 dalam Divan,  Goethe menulis,  27 Januari 1816: “Imam segala makhluk ciptaan/Muhammad”. Goethe juga mengonfirmasi penolakan Rasulullah SAW atas tantangan kaum kafirin untuk mempertontonkan mukjizat, dengan mengatakan: “Keajaiban tak dapat kuperbuat kata sang Rasul,/Mukjizat terbesar inilah aku.”/

Kesimpulan

Dengan berbagai bukti yang ada, yang sebagian telah dikutipkan dalam tulisan ini, Shaykh Abdalqadir dan Abu Bakr Rieger, menyatakan dapat disimpulkan dengan meyakinkan dan tanpa keraguan, bahwa Johann Wolfgang von Goethe adalah seorang muslim. Meski ia hidup di tengah negeri non-Muslim, Goethe dengan sepenuh hati menyatakan dan memegang teguh dua kalimah syahadat, dan mengkonfirmasi Tiada tuhan  Selain Allah, yang Tunggal, dan bahwa Rasul terakhir adalah  Muhammad, salallahualaihi wassalam.

Dan meski tidak  pernah mendapatkan pengajaran salat, zakat, puasa, dan haji, dia bangga dan dengan penuh emosi menghadiri salat Jum’at. Ini menunjukkan sikap Goethe memperlihatkan bahwa Islam adalah dien yang dianutnya. Karena itu, Shaykh Abdalqadir menegaskan bahwa pujangga kebesaran Eropa ini dapat diterima sebagai  Muslim pertama Eropa Modern, yang menghidupkan hati masyarakat Eropa untuk mempelajari Tauhid dan Muhammad SAW, sebagai utusan-Nya.

Shaykh Abdalqadir menutup Fatwa-nya dengan pernyataan:  ”Dengan pengakuannya yang menakjubkan atas kerasulan, salallahualaihi wassalam,  ia selayaknya kita kenali di kalangan Muslim  sebagai  Muhammad Johann Wolfgang Goethe”.

Pengaruh Pikiran Goethe di Indonesia

Sekitar setahun lalu,  4 September 2009, di ruang pertemuan The Habibie Center, Kemang, Jakarta, berlangsung seminar kecil: Pemikiran Goethe tentang Islam dan Uang serta Pengaruhnya terhadap Penggunaan Dinar Emas  dan Dirham Perak di Indonesia. Pembicara utamanya Nurman Kholis, peneliti Puslitbang Lektur Keagamaan, Balitbang Depag.  Goethe, lahir 29 Agustus 1749 dan wafat 22 Maret 1832,  memang  hidup dalam masa transisi pemberlakuan uang kertas,  menggantikan uang emas dan perak.

Menakjubkan, sebagaimana ditunjukkan oleh Nurman, Goethe  menulis  46 buku yang mengekspresikan sikap skeptisnya terhadap pemberlakuan uang kertas. Khususnya dalam  Faust II,  saat ia mengisahkan seorang ilmuwan kimia bernama Faust, yang berusaha membuat emas dari logam biasa demi meraih pengetahuan tertinggi dan memuaskan kesenangan manusia. Untuk mencapai tujuan ini ia mengikat janji dengan iblis,  Mephistopheles. Keduanya kemudian bertemu  Kaisar yang kehabisan dana untuk menggaji tentara serta para  pelayan. Mephistopheles kemudian menawarinya jalan pintas dengan mencetak kertas yang ditandatangani Kaisar dan diedarkan kepada masyarakat.

Menurut Nurman, Goethe telah melihat ekonomi uang modern yang didasarkan pada uang kertas sebagai  ”kelanjutan cara kimiawi dengan cara lain”, artinya penciptaan uang dari ketiadaan, sebuah pemalsuan nilai riil harta. Meskipun menulis dalam dekade awal abad ke-19, ia sudah meramalkan banyak pencapaian industrial pada abad berikutnya, akan sangat dipengaruhi oleh modus baru ini. Goethe sudah melihat sebelum waktunya capaian besar industri yang akan didanai dengan sistem gelembung  uang kertas ini.

Peneliti muda yang Juli 2010 lalu  meraih gelar Master Humaniora, dengan tesis Kajian Filologis Al Adawiyatu Asy-Syafiyatu fi Bayani Salati al Hajati wal-Istikharati wa Daf’i al Kurbati, karya K.H Ahmad Sanusi: Cara Mengatasi Kegelisahan dan Kaitannya dengan Krisis Ekonomi Dunia, dari Unpad (cum laude) ini,  juga mengorelasikan pernyataan Goethe bahwa ”uang kertas adalah ciptaan setan” dengan pemikiran Imam al-Ghazali yang menyatakan ”hikmah penciptaan dinar dan dirham tidak akan ditemukan di dalam hati yang berisi sampah hawa nafsu dan tempat permainan setan.”

Dengan demikian, kata Nurman, Islam yang dipahami oleh Imam Ghazali dan Goethe membuahkan pemahaman yang sama, yaitu dinar dan dirham sebagai mata uang adil yang diciptakan oleh Allah sedang uang kertas ciptaan setan. Dalam perjalanannya menemukan  Islam, Goethe memang banyak mempelajari aspek muamalat, tentang riba, uang, jual-beli, pembebasan hamba sahaya, dsb.  Karenanya, sebagaimana ia sampaikan melalui Faust, ia mengecam praktek penggunaan uang kertas, penerapan riba secara umum, sebagai  bentuk perjanjian dengan setan.

Kini Dinar emas dan Dirham perak  kembali digunakan di Indonesia, tentu tidak langsung dari Goethe, tapi melalui pengajaran dari ulama Eropa mutakhir, Shaykh Abdalqadir as Sufi (www.shaykhabdalqadir.com).  Ulama terlahir dengan nama Ian Dallas ini dapat dikatakan  salah satu penafsir Goethe, selain sejumlah pemikir Eropa sejaman lainnya seperti Frederich Nietzsche, sampai Martin Heidegger dan Erns Junger,  yang  kemudian juga membuktikan bahwa pujangga besar dunia itu adalah seorang Muslim.

Melalui Shaykh Abdalqadir-lah,  yang menemukan pintu Islam dari para pemikir Eropa dan mendapatkan  isinya dari ulama-ulama besar Maroko (Shaykh Muhammad Habib, Shaykh Al Fauyturi, dan Shaykh Al Alawi),  kemudian diterjemahkan kembali dalam tingkat kepraktisan oleh muridnya yang lain, warga Spanyol,  Umar Ibrahim Vadillo,  kembalinya Dinar dan Dirham sebagai  mata uang yang adil menjadi kenyataan. Salah satunya yang paling luas dan berkembang adalah di Indonesia.