Hijrah dari Riba ke Muamalah

1866

Foto di samping adalah pose di dekat patung “Yesus Sang Penebus”, Rio de Janeiro, Brazil, yang diambil di sela-sela KTT Bumi (Earth Summit) PBB. Itu berlangsung pada 1992. Inilah salah satu ‘puncak prestasi’ yang saya capai sebagai aktivis LSM, mewakili “Sektor III” (Masyarakat). Sebelumnya juga menghadiri beberapai Preparatiry Meeting-nya, di Paris, dan New York.

Lebih dari 20 tahun, saya berkiprah di dunia LSM, dengan segudang idealisme “berpihak kepada rakyat kecil, perjuangkan lingkungan hidup, lindungi konsumen,” dst. Gaji aktivis LSM memang tak besar, tapi banyak hal diperoleh. Perjalanan menjelajah 5 benua, menghadiri konferensi-konferensi bergengsi, bertemu tokoh-tojoh dunia. Tiket pesawat disediakan, kadang kelas bisnis, dibayari menginap hotel mewah, dengan uang saku US dolar. Plus, kemudahan mendapatkan besiswa kuliah di luar negeri.

Saya telah mendapatkan semua itu. Beasiswa yang saya dapat bahkan sangat istimewa: hadiah 50 th Kemerdekaan RI yang hanya diberikan kepada 10 orang Indonesia selama 10 tahun dari Pemerintah Australia. Hanya diberikan untuk satu orang/tahun. Namanya “Merdeka Fellowship”. Ya, dan saya diberi kemerdekaan membuat program sendiri dengan beasiswa itu. Nilainya pun spesial, tunjangan bulanannya saja 4 kali lipat dari beasiswa umumnya.

Belakangan saya memahami bahwa itu semua cuma sandiwara. “Kekuatan pengimbang” yang dinisbahkan kepada “sektor III” (sektor I adalah bisnis, sektor II adalah pemerintah), hanyalah cara untuk melestarikan sistem kapitalis ribawi itu sendiri – bukan mengubahnya. Sistem ini butuh ‘katup pengaman’, untuk membuang kemungkinan ‘meledak’, dan LSM ada untuk itu. Serupa dengan demonstrasi yang ditolerir sekadar untuk katarsis, bukan untuk mengakomodasi perubahan sebenarnya.

Hari-hari ini pun saya masih sering bepergian. Tapi tidak ke lima benua, melainkan ke daerah-daerah, dari masjid ke masjid, untuk menyampaikan antitesa yang dulu saya lakukan: menegakkan muamalah yang haq agar kapitalisme ribawi yang batil musna. Bedanya, kini tiket harus beli sendiri, penginapan diurus dan bayar sendiri, bahkan in fokus pun sering harus bawa sendiri.

Begitulah salah satu modus sistem ini bekerja: semakin dekat Anda ke pusat sistem ribawi ini makin besar insentif yang Anda dapat. Sampai titik Anda menyadari itu sangat berbahaya dan memutuskan berhijrah. Dan berupaya menghadirkan yang haq agar kita bisa meninggalkan yang batil.