Hijrah!

787

Hijrah adalah sunnah Rasul SAW.  Dan umat Islam melakukannya sepanjang sejarah.

Dalam Kitab Muwatta, Imam Malik, meriwayatkan: “Malik meriwayatkan kepadaku bahwa Yahya ibn Said mendengar Said ibn Al Musayyah mengatakan, ‘Jika kalian datang ke daerah yang orang-orangnya memberikan takaran dan timbangan secara penuh, bermukimlah di sana. Kalau kalian datang ke daerah yang orang-orangnya mencurangi timbangan dan takaran, maka jangan tinggal di sana terlalu lama.'”

Mencurangi timbangan bisa bermakna harfiah yaitu menguranginya – sebuah praktek yang cukup lazim di pasar-pasar kita hari ini: barang 1 Kg, ternyata hanya 9 atau bahkan 8 ons saja. Ini adalah kejahatan besar di hadapan Allah SWT.

Namun demikian, mencurangi timbangan, dapat bermakna lebih mendasar dan luas, yakni mencurangi standar nilai atau harga – berarti timbangan untuk semua transaksi – yaitu mencurangi daya beli alat takar atau uang. Ini akibat dari penggunaan uang kertas menggantikan alat takar bernilai intinsik, antara lain #Dinar emas dan #Dirham perak. Kecurangan itu bukan berupa selisih 1-2 ons, tapi kemerosotan daya beli yang terus-menerus: Inflasi!

Imam Malik telah menyatakan tinggallah di bumi di mana timbangan dijaga penuh.Itu juga bermakna, di negeri di mana #Dinar dan #Dirham digunakan. Itu berarti negeri yang dipimpin oleh seorang sultan yang menegakkan syariat Islam, yang mencetak dan mengedarkan Dinar dan Dirham, menarik dan membagikan zakat keduanya, menyelenggarakan pasar-pasar terbuka.

Adakah negeri seperti itu kini? Jawabnya tidak ada. Maka menjadi tugas kitalah untuk membuatnya ada. Atas izin Allah SWT negeri ini sedang dalam proses kelahirannya: Mangku Negeri ATanjungpura Darussalam (Klaimantan Barat) dan Kesultanan Bintan Darul Masyhur (Pulau Bintan).

Di bawah kepemimpinan Sultan Huzrin Hood, di belahan Bumi Melayu, dan Kyai Mangku Negeri Haji Morkes Effendi,  tempat-tempat syariat Islam dulunya pernah dijalankan di bawah para sultan terdahulu, kini Dinar Dirham telah mulai dicetak dan diterapkan kembali, zakat ditarik dan dibagikan dengan keduanya, pasar-pasar tlah mulai dirintis. Sejumlah Muslim telah pula mulai berhijrah dan bermukim di negeri itu, untuk memperluas dan memperkokoh tegaknya syariat Islam. Kesultanan Bintan, dalam waktu tak lama lagi, In Sha Allah, akan menjadi negeri yang layak untuk dimukimi, sebagaimana dinasehatkan oleh salafus salih, sebagaimana riwayat Imam Malik.

Berhijrahlah, wahai Muslim ke Kesultanan Bentan Darul Masyhur atau Mangku Negeri Tanjungpura Darussalam.

Jadilah seperti Abdurrahman bin Auf, berhijrah, memasuki pasar, memakmurkan perdagangan di Darul Hijrah. Pedagang yang kini belum sampai 100 orang yang menerima Dinar Dirham di Bintan dan Tanjungpura  kita gandakan menjadi 1000 pedagang. Lalu menjadi 10.000 – yang akan membuat seluruh pedagang di Bintan dan Tanjungpura secara spontan akan mengikuti di belakang, bermuamalah dengan Dinar dan Dirham!

Dan rukun zakat ditegakkan. Mimbar masjid didirikan. Dan Amr Islam kembali berjalan.

Bismillah.