Imam Ghazali: Dirham dan Dinar Hanyalah Batu Tak Bermanfaat

1314

Imam Ghazali (semoga Allah memberkahinya) menuliskan beberapa perenungan dan pemikiran tentang dirham dan dinar. Barangsiapa yang membacanya, memahaminya, dan menjalankan ajarannya, Allah SWT akan memberkahi seluruh hidupnya. Barang siapa mengingkarinya, bakal kehilangan keberkahan dari Allah SWT, dan telah berbuat ketidakadilan.

Berikut adalah cuplikan dari Imam Ghazali tentang dirham dan dinar:

“Penciptaan dirham dan dinar (uang) adalah salah satu berkah dari Allah. Keduanya adalah batu yang tidak memiliki faidah atau manfaat  intrinsik, tapi semua manusia membutuhkannya, karena setiap orang membutuhkan sejumlah besar komoditas untuk makan, sandang, dan seringkali dia tidak memiliki apa yang dia butuhkan dan  memiliki apa yang tidak dia butuhkan. Oleh karena itu, transaksi pertukaran tidak bisa dihindari. Tapi harus ada suatu ukuran yang bisa menjadi dasar  untuk menetukan harga, karena komoditas yang diperdagangkan bukan dari jenis yang sama, atau dari ukuran yang sama yang dapat menentukan berapa banyak kuantitas satu komoditi merupakan  harga yang adil bagi komoditi yang lain.

Oleh karena itu, semua komoditas ini membutuhkan suatu mediator untuk mengukur nilai sejati masing-masing. Allah Yang Maha Perkasa, oleh karena itu, menciptakan dinar dan dirham (uang) sebagai hakim dan perantara antara semua komoditas sehingga semua benda kekayaan diukur melalui keduanya dan ukuran nilai semua komoditas tersebut adalah berdasarkan fakta bahwa keduanya [dirham dan dinar]  bukan menjadi  suatu tujuan bagi  diri mereka sendiri.

Kalau saja keduanya ada tujuan dalam diri mereka sendiri, seseorang dapat memiliki tujuan tertentu untuk menyimpan-nyimpannya yang dapat memberi mereka sesuatu  lebih baik menurut niyatnya sementara  orang yang tidak memiliki tujuan semacam itu tidak akan memberi keduanya  nilai kepentingan seperti itu dan dengan demikian keseluruhan sistem akan terganggu.

Itulah sebabnya Allah telah menciptakan keduanya, sehingga mereka dapat diedarkan dari tangan ke tangan dan bertindak sebagai hakim yang adil antara komoditas yang berbeda dan bekerja sebagai media untuk memperoleh hal-hal lain. Jadi, orang yang memilikinya adalah pemilik segala sesuatu, tidak seperti seseorang yang memilikipakaian, karena dia hanya memiliki pakaian, oleh karena itu, jika dia membutuhkan makanan, pemilik makanan mungkin tidak tertarik untuk menukar makanannya dengan pakaian, karena ia mungkin memerlukan hewan misalnya. Karena itu, dibutuhkan sesuatu yang dalam penampilannya bukan  apa-apa, tapi dalam intinya adalah segalanya.

Benda yang  tidak memiliki bentuk tertentu mungkin memiliki bentuk-bentuk  yang berbeda dalam kaitannya dengan benda-benda lain seperti cermin yang tidak berwarna, namun ia merefleksikan seluruh warna. Hal yang sama untuk kasus uang. Uang bukan untuk tujuannya tersendiri, tapi ini adalah instrumen untuk mencapai semua tujuan. Jadi, orang yang menggunakan uang dengan cara yang bertentangan dengan tujuan dasarnya adalah, pada kenyataannya, mengabaikan keberkahan  Allah.

Akibatnya, siapa pun yang menimbun uang [dinar dan dirham] melakukan ketidakadilan terhadapnya dan mengalahkan tujuan sebenarnya dari keduanya.  Dia seperti orang yang menahan seorang penguasa di penjara. Dan barang siapa yang membuat transaksi dengan bunga atas uang, sebenarnya, membuang berkah  Allah dan melakukan ketidakadilan, karena uang diciptakan untuk hal-hal lain,  bukan untuk dirinya sendiri.

Jadi, orang yang telah memulai perdagangan uang itu sendiri telah membuatnya menjadi tujuan yang bertentangan dengan hikmah  awal  di balik penciptaannya, karena merupakan ketidakadilan untuk menggunakan uang untuk tujuan selain tujuan diciptakannya. Jika diperbolehkan baginya untuk memperdagangkan uang itu sendiri, uang akan menjadi tujuan utamanya dan akan tetap ditahan olehnya seperi  uang yang ditimbun. Dan memenjarakan seorang penguasa atau membatasi tukang pos untuk menyampaikan pesan tidak lain  adalah suatu  ketidakadilan.

… sama halnya dengan membatasinya [peredaran] adalah ketidakadilan. Akibatnya, penjualan mata uang untuk mata uang tidak ada artinya kecuali perolehan mata uang untuk penimbunan, yang merupakan ketidakadilan. Jika Anda mengatakan: Mengapa penjualan satu mata uang diizinkan untuk mata uang  lain, dan mengapa penjualan dirham diizinkan untuk dirham lain (secara kontan)? Ketahuilah bahwa mata uang (tercetak) itu mungkin berbeda dari yang lain sehubungan dengan tujuan memperoleh benda-benda  lain, karena akuisisinya dapat difasilitasi oleh salah satu nya karena kelebihan jumlahnya. Hal ini seperti dirham yang hanya sangat sedikit berbeda satu dari lainnya.  Dengan demikian, mencegah pertukaran mereka akan menggagalkan tujuan yang spesifik bagi mereka, yang merupakan fasilitas untuk mencapai hal-hal lain melaluinya.

Sedangkan untuk penjualan dirham dengan dirham yang identik, hal itu diperbolehkan karena tidak ada orang rasional yang menginginkannya  selama keduanya sama dan seperti halnya tak aka nada seorang pedagang pun yang sedia melakukan transaksi ini. Hal ini mirip dengan tindakan meletakkan  dirham di lantai dan mengambil dirham yang sama.

Kita  tidak takut bahwa ada orang-orang yang masuk akal akan menghabiskan waktu untuk menempatkan dirham mereka ke tanah dan memungutnya kembali. Oleh karena itu, kita  tidak melarang sesuatu yang tidak diinginkan oleh orang-orang. Kecuali, satu memiliki kualitas yang lebih baik daripada yang lain, tapi ini juga tidak bisa dibayangkan dalam praktik. Alasannya adalah pemilik kualitas yang baik tidak akan setuju untuk menukarnya dengan jumlah yang sama untuk  kualitas buruk. Kontrak itu dengan demikian  tidak terjadi ….

Namun, jika dia menjual dirham untuk dirham yang  identik dengan penundaan, maka ini tidak diijinkan karena dia belum menawarkan ini ke orang  lain dengan izin (penggunaan) yang diniyatkan sebagai  ihsan melalui qard yang merupakan  kemurahan hati dan tindakan yang patut dipuji dari pihaknya dan ini adalah bentuk transaksi yang menghasilkan pujian dan pahala  (spiritual) bagi orang yang memberikan izin. Menawarkan ini dengan jalan yang tidak memberikan pujian maupun penghargaan (spiritual) juga menjadi ketidakadilan karena ia kehilangan  nilai atas izin (penggunaan) dan mengubahnya menjadi transaksi  komutatif.”