Inilah Sejumlah Kekeliruan Umum Soal Emas

313

Dalam perjalanan upaya pengembalian mata uang dinar dan dirham acap muncul keberatan, atau kritik atas kelemahan emas dan perak, dari para penolaknya. Kritik yang sama praktis diulang-ulang, meskipun sejumlah bantahan yang meyakinkan telah diberikan. Kritik ini muncul akibat kekeliruan pengertian atas keadaan obyektif emas dan perak. Beberapa keberatan tersebut antara lain adalah:

  • Jumlah emas tidak akan cukup;
  • Sistem ini akan menguntungkan Rusia dan Afrika Selatan, sebagai penghasil utama emas;
  • Emas akan sangat dipengaruhi oleh spekulasi dan menimbulkan ketidakstabilan harga.
  • Memakai dan menyimpan emas repot, tidak aman.
  • Mata uang dinar adalah benda primitif.
  • Kualitas emas berbeda-beda antara satu negara dan negara lainnya.

Keberatan pertama, bahwa di dunia ini tidak cukup emas, didasarkan pada kesalahpahaman akan harga emas. Hal ini berasal dari asumsi bahwa rasio nilai tukar antara berat emas dan uang kertas yang berlaku saat ini harus berlanjut saat emas menjadi alat tukar. Tentu tidak demikian halnya. Sebab, untuk menyederhanakannya, harga-harga yang murah dalam uang emas akan mengurangi kebutuhan emas dalam jumlah besar. Ingat, setelah sepenuhnya berlaku, emas tidak akan lagi diukur dengan uang kertas melainkan dengan komoditas lain.

Selain itu bukankah ekonomi modern sekarang ini adalah gelembung belaka? Ekonomi riel hanyalah 2 persen dari perekonomian dunia, selebihnya 98 persen adalah ekonomi finansial. Dalam hal ini, jelaslah, karena uang (kertas) itu sendiri menjadi komoditas berapapun Anda mencetaknya tidak akan mencukupi kebutuhan. Jelas bahwa jumlah emas dan perak di muka bumi ini terbatas, sebagaimana sumberdaya lain apapun. Demikian pula kebutuhan umat manusia. Yang tidak terbatas adalah nafsu, ketamakan, dan keserakahan umat manusia. Sistem uang kertas diciptakan bukan untukmemenuhi kebutuhan semua umat manusia, tetapi untuk meladeni keserakahan dan ketamakan segolongan umat manusia yang lain tersebut. Lihat hasilnya: ekonomi balon yang setiap saat meledak itu.

Keberatan kedua, juga tidak masuk akal. Memang benar Rusia dan Afrika Selatan memiliki deposito emas besar. Tapi, seperti negara-negara yang memiliki minyak terbesar di dunia juga tidak lantas menguasai seluruh jagad. Demikian pula pemilik deposit emas. Timbunan emas di satu negara justru akan beredar ke negara lain karena perdagangan. Tampaknya keberatan ini tidak lepas dari persoalan ideologis dan bukan pada soal teknis. Sebagaimana kita ketahui Rusia dan Afrika Selatan merupakan dua bangsa yang, di masa lalu, diisolasi dunia Barat. Rusia karena rezim komunisnya, Afrika Selatan karena rezim aparteidnya Sekarang dua sistem itu telah runtuh.

Keberatan ketiga, emas merupakan dunia spekulatif, tidak terbukti dalam sejarah. Telah diuraikan di atas nilai tukar emas tidak pernah berubah sepanjang sejarah. Inflasinya 0, dan karenanya tahan atas segala badai krisis moneter. Benar karena harga emas, dan karena itu harga dinarnya berubah-ubah, mengikuti harga pasar. Tapi, itu dalam nominal uang kertas. Dinar tidak mengenal nilai nominal, karena nilainya ditentukan oleh nilai intrinsiknya itu sendiri. Maka, yang relevan di sisi, untuk memahami nilai dinar bukan soal harga emas itu an sich, melainkan nilai yang disimpannya yang dicerminkan dari nilai tukar dinar tersebut terhadap komoditas lainnya.

Gold bars
Gold bars

Tanpa memerlukan penjelasan teoritis yang rumitpun, pengalaman empiris menunjukkan, dinar tidak mengenal inflasi atau depresiasi. Sejak zaman Rasulullah Saw, sejak 15 abad lalu, sesaat sebelum krisis moneter 1997 sebagai titik perbandingan lain, sampai hari ini, pertengahan 2016, nilai tukar satu dinar adalah sama dengan seekor, atau kalau beruntung kadan bisa dua ekor,  kambing dewasa.