Islam Akan Kembali di Nusantara.

292

Dalam lebih dari sekali kesempatan Shaykh Dr Abdalqadir as-Sufi pernah mengindikasikan bahwa Islam akan kembali di Nusantara.

Islam kembali? Di Nusantara?

Benar, Islam akan ‘kembali”, karena saat ini, selama sekitar 100 tahun ini, Islam memang telah hilang di bumi. Kaum Muslimin hidup tanpa Islam. Sebab, Islam memiliki lima rukun – shahadat, salat, zakat, puasa, dan haji – yang tanpa satu di antaranya berarti tiada Islam.

Dalam masa 100 tahun terakhir, sejak runtuhnya Daulah Utsmani, Islam tidak ada lagi karena satu pilarnya, zakat, telah tidak dilaksanakan sesuai dengan rukunnya.

Zakat, berbeda dari sedekah sukarela, adalah wajib, dan harus ditegakkan dengan ‘amr, dengan kepemimpinan, dan ketaatan atas kepemimpinan tersebut. Dengan dua hal ini, kepemimpinan dan ketaatan, seluruh syariat Islam baru bisa ditegakkan. Karena untukmemulai berpuasa, penetapan awal Ramadhan, haru spula ditentukan melaluiketetapan seorang Amir.  Perjalanan haji juga harus dalam pengawalan para ulil amri.

Selain harus ditarik dengan ‘amr, zakat juga hanya sah dibayarkan dengan ‘ayn, yakni aset sesuai dengan ketetapannya. Hewan ternak dizakati dengan hewan ternak, hasil pertanian dibayar dengan hasil pertanian, dan harta moneter dan stok dagangan, harus ditunaikan dengan Dinar emas dan Dirham perak. Zakat, termasuk zakat uang dan dagangan, tidak dapat dibayarkan dengan dayn, atau nota hutang, yang kinib erwujud sebagai uang kertas itu.

Dan untuk pencetakan dan pengedaran Dinar dan Dirham, seperti halnya untuk penarikan dan pembagian zakat, juga memerlukan ‘amr. Dan itu bermakna memerlukan seorang amir, atau sultan, yang berwenang – dan ditaati – dalam urusan ini. Bukan asal tauke yang mampu mencetak koin lalu mencetak Dinar dan Dirham.

Nusantara, kita pahami, terdiri atas rangkaian nomokrasi – syariat Islam dengan ‘amr – yang secara otonom, selama ratusan tahun, sejak masuknya Islam di wilayah ini, menjalankan syariat Islam. Di bawah kepemimpinan para Sultan, dari Pattani di Utara, sampai Raja Ampat di Selatan, hidup damai, tentram dan sejahtera di bawah bendera Islam. Sampai datanglah anasir asing itu, membawa kapitalisme, dan dengan itu menanamkan nasioalisme, dan dengan itu memaksakan uang kertas dan perbankan – esensi dari riba yang zalim dan haram.

Nasionalisme dilandasi oleh opini dan nafsu manusia. Konstitusi menggantikan Wahyu Ilahi.

Perlahan, tapi pasti, hilanglah Sultaniyya, hilanglah koin-koin emas dan perak Nusantara, hilanglah zakat, dan ‘amr. Dan dengan itu hilanglah Islam. Tapi Islam tak hilang di bumi.  Hanya terhenti sejenak.

Masa jeda panjang ini kini mulai berakhir. Islam telah mulai kembali di Nusantara. Ditandai dengan kembalinya Dinar dan Dirham, kembalinya zakat dan pasar, kembalinya para sultan yang menegakkannya. Sultaniyya telah bersemi kembali di Nusantara.

Shaykh Dr. Abdalqadir as-Sufi bukan cuma memberikan indikasi. Beliau juga mengajarkan, membukakan pintu-pintunya, bagi Muslimin Nusantara, untuk kembali menegakkan Nomokrasi Islam ini. Satu demi satu, dari Pattani, Malaya, Tumasik dan Indonesia, lahir dan muncul para pemuda Muslim, membawa obor, dan meluaskan cahaya yang diberikan oleh Shaykh Abdalqadir, bersama murid utamanya Shaykh Umar Ibrahim Vadillo, mengupayakan kembalinya Islam di bumi ini.

Ilmu itu kini telah bersemi menjadi ‘amal.

Dinar dan Dirham, muamalah dan zakat, pasar dan baitulmal, dan ‘amr, para amir dan sultan, adalah pondasi-pondasi dasar yang kini mulai tegak berdiri di Nusantara. Dan inilah, para fuqara, yang hanya dengan ketaatan kepada perintah Allah SWT dan Rasul-Nya SAW, terus bergerak memperkuat dan menegakkan pondasi itu, sampai nanti terbangun rumah yang seutuhnya bagi Nomokrasi Islam, untuk sekali lagi, tegak dan terlaksana di bumi ini.

‘Ilmu, ‘Amal, dan ‘Amr.

Wahai Muslimin, ikutlah berbaris bersama mereka. Inilah waktunya. Sistem riba yang batil tengah membusuk, dan perlahan runtuh, maka agar kita tidak ikut runtuh di dalamnya, bangun dan tegakkan, rumah kita sendiri, model kita sendiri, Islam dengan kelengkapan Lima Rukunnya: shahadat, salat, puasa, zakat dan haji.

Waktunya adalah hari ini. Dan tempatnya adalah di sini, di Nusantara kita.

La ghaliba ilallah.Acara di Bintan