Islam Tak Mengenal Negara

3225

Dalam kurun beberapa dekade terakhir ini  setiap gerakan yang mengidentifikasikan dirinya dengan Islam, terutama yang dilengkapi dengan sayap militer, dan ingin memisahkan diri dari entitas negara, selalu disebut sebagai (ingin mendirikan) Negara Islam (Islamic State).  Baik pendukung, dan terutama,  penentangnya menyatakan demikian.  Belakangan, gerakan semacam ini, meskipun hanya dilakukan secara individual, asal pelakunya seorang Muslim akan disebut sebagai Terorisme.

Jadi, telah terjadi pergeseran identifikasi, dari  seorang  Islam  ke Negara Islam kepada Teroris. Termasuk, dan khususnya, taktik “bom bunuh diri”, seolah menjadi ciri Teroris (Muslim). Padahal bunuh diri dalam Islam adalah haram hukumnya. Taktik bunuh diri diketahui juga ada pada kalangan hindu dan kelompok radikal lainnya, dan akarnya bisa dilacak pada gerakan sempalan Isma’ilisme.

Secara lebih mendasar identifikasi, matau cita-cita, “Negara Islam” adalah sangat keliru. Islam tidak mengenal negara, baik secara konseptual maupun pengalaman empiris , sejak zaman Rasululalh SAW. Negara adalah konsep dan realitas politik baru, hanya dikenal setelah Revolusi Perancis, abad ke-18. Gerakan nasionalisme, sebagai puncak dari konsepsi negara (bangsa), bahkan baru subur di abad ke-20.

Tiga pondasi  pokok negara modern adalah konstitusi, kelas politisi, dan perbankan nasional  (dengan  uang kertas,  utang publik, dan kemudian pemajakan). Ketiganya tidak dikenal dalam Islam, bahkan tidak dimungkinkan. Secara syar’i ketiganya adalah haram hukumnya atau sama sekali tidak dikenali.

Kaum Muslimin harus mendasarkan diri kepada hukum syariat, bukan hukum buatan manusia, yakni berpegang kepada Qur’an dan Sunnah. Ini diejawantahkan melalui fiqih dan perangkatnya:  amir, mufti, qadi, muhtasib,  dan sebagainya. Muslim hanya mengenal para eksekutif dan yudikatif, tidak ada legislatif. Jadi, dalam masyarakat Muslim, tidak dikenal kelas politisi (yang dipilih melalui kekuatan uang, di  balik Pemilu).

Dan, pondasi lainnya, adalah diharamkannya riba. Jadi, mustahil dikenal lembaga riba massif, bank sentral, denmgan uang kertas dan utang public ribawinya. Utang dengan bunga ber bunga inilahyang kemudian melahirkan pemajakan yang sangat zalim. Sistem uang kertas, atau fiat, itu sendiri adalah kezaliman.  Simbol  aritmatik tanpa nilai tapi dipaksakan sebagai alat tukar bernilai.

Muslim tidak memerlukan negara, apalagi terorisme. Muslim, di bawah syariat Islam, akan hidup sesuai dengan fitrah, harmoni alam, sesuai dengan Rububiyah Allah SWT.  Tinggalkan RIba. Hapuskan pajak. Hidupkan zakat, infak dan sedekah, serta wakaf. Tegakkan muamalah. Terorisme bukan umat Islam yang memerlukan, melainkan institusi negara itu sendiri, untuk berbagai kepentingannya.

Saatnya kaum Muslim   kembali,  berhijrah, mengikuti model-model kehidupan fitrah yang dijalankan sejak zaman Rasul SAW, hingga lahirnya sistem negara itu sendiri!  Bukan dengan mendirikan, tapi meninggalkan negara.