Kembalikan Mimbarku! Bukan Podium.

745

Dalam tradisi  Islam pelaksanaan salat Jum’at seharusnya dilaksanakan  di masjid-masjid dengan otorisasi dari umara, yakni para amir atau  sultan. Sebagai imam dan khatib dalam masjid jami’ haruslah orang yang, dengan persyaratan tertentu,  ditunjuk dan diberi wewenang oleh amir atau sultan dan tidak boleh digantikan oleh orang lain tanpa seizinnya, walaupun bukan merupakan rukun sahnya salat berjamaah di masjid tersebut.  Dengan kata lain Salat Jum’at merupakan bagian dari institusi politik dalam Islam.

Salat Jumat juga memiliki beberapa makna penting, bukan sekadar salaht berjamaah biasa. Dalam sebuah pengajarannya yang diberikan kepada murid-muridnya di Cape Town Shaykh Dr Abdalqadir As Sufi menguraikannya dengan jelas.  Salat jum’at mengandung  banyak dimensi. Salat Jum’at memiliki aspek ruhaniah, politik, dan sosial, yang terkandung secara keseluruhan dalam tata cara dan pelaksanaannya, sejak jamaah memasuki halaman masjid  sampai jamaah meninggalkan pintu masjid.

Ia menggambarkan dimensi ruhaniah salat Jum’at berikut ini:

Bagian terpenting dari [salat] Jum’at adalah sesaat sesudah adhan sampai saat ketika imam bergerak masuk, menyalami orang-orang dan duduk di atas mimbar. Rasul, sallallahu ’alayhi wa sallam, mengatakan bahwa pada jarak waktu tersebut malaikat mencatat setiap mukmin atau mukminat yang datang ke masjid untuk [salat] Jum’at.   Jadi saat ruhani yang penting di dalam [salat] Jum’at sesunggunya berakhir saat imam duduk. Itulah  sebabnya, secara tradisional, ketika hal ini dimengerti dan diamati, pada saat itu masjid seperti  berkialauan, dengan cahaya halus keperakan di udara – Anda dapat merasakan kemeriahan spiritual, ruhaniah,  dari setiap masjid pada saat tersebut. Seseorang menegakkan raka’at, seorang lagi membaca Qur’an, yang lain memegang tasbih, yang lainnya lagi bertafakur tentang kemungkinan ia akan  segera mati dan bagaimana ia mempersiapkan kematiannya.

Itulah saat-saat paling berharga dari salat Jum’at. Tetapi, seperti yang kita saksikan di banyak masjid jami’ kita saat ini,  sebelum imam/khatib  melaksanakan khutbah, acap pengurus masjid berpidato atau mengumumkan banyak soal. Ini menghilangkan saat-saat ruhaniah itu.

 Fungsi Publik Salat Jumat

Secara fisik, mimbar khutbah juga telah banyak dibuang, digantikan dengan sebuah podium.   Tentang makna penting sebuah mimbar, dalam penilaian Syekh Abdalqadir:

Seseorang masuk, berdiri di atas podium  kristen dan memberikan ceramah, tapi tidak dari atas mimbar. Mimbar, dari segi Syariah, adalah hal yang paling kuat. Tapi di sini Anda menemukan orang tersebut berceloteh, apa pun yang dikatakannya, tengah merusak saat-saat [kehadiran] malaikat, perjumpaan dengan malaikat, menjadikannya hilang dari kaum mukminin.  Kemudian si imam berdiri dan berbicara dari mimbar, tetapi pengajaran dari atas mimbar tidak terjadi [karena khutbah diberikan sepenuhnya dalam bahasa Arab]. Kekuatan transmisi sosial dalam Islam terletak di atas mimbar.

Ketika  Jalaluddin Rumi, rahimahullah, dan ayahnya, seorang ulama besar, tiba di Baghdad, khalifah di Baghdad mengiriminya sekotak besar pernak-pernik perak buatan tangan, yang biasa dijahitkan para perempuan pada pakaian mereka, untuk para istrinya, dan dia menolaknya.  Sang khalifah berkata, ‘Anda seorang ulama besar, apa yang anda inginkan?’ Ia berkata, ’Berikan pada saya mimbar!’

Anda lihat, ini sangatlah penting. Maka khalifah berkata, ‘Bismillah,’ dan dia berikan mimbar kepadanya, dan ia melaksanakan salat Jum’at di masjid besar Baghdad. Di sana ia memberi tahu para jama’ah, ‘Kaum Moghul tengah datang dan mereka akan   membinasakan Anda dan Anda harus bertobat dan berpaling kepada Allah, kalau tidak Anda semua akan dihancurkan,’ dan mereka menertawainya.

Ia berkata, ‘Saya mohon perlindungan pada Allah,’ dan ia pergi, dan itu yang membuat ia  sampai di Konya.

 Mimbar adalah sesuatu yang sangat penting, dan hal-hal yang dikatakan di atas mimbar memiliki bobot. Allah memberi mimbar bobot, karena padanya, pada jenjang yang berbeda, duduk  Abu Bakar as-Siddiq, ’Umar bin Khatab dan Usman, maka ini sangat penting.  Bahkan jenjang tempat mereka duduk pun [kini] telah lenyap, semua telah berubah. Semua ini bagian dari Dien, dan Dien ini telah dienyahkan. Di Masjid Pusat London yang ada adalah sebuah podium (pulpit)! Di separuh  masjid-masjid di Timur Tengah yang ada adalah podium  kristen. Di sana tidak ada mimbar, ia  telah dimusnakan. Bahkan jenjang tempat Anda duduk – bahkan tak seorang pun duduk di sini, semuanya naik ke atas.  Persis mengikuti adab Khulafaur Rashidin, bahwa mereka menurunkan satu jenjang, menuruti adab,  untuk tidak memposisikan mereka sendiri di atas pendahulunya, Khulafaur Rashidin.  Semua ini telah hilang, sedang semua ini sangat penting. Semua ini yang memberi bobot salat Jum’at. Salat Jum’at  adalah  soal berbobot.

 Mimbar, dengan demikian, bukan sekadar bermakna simbolik dan tanpa makna, hingga dengan mudah bisa dibuang begitu saja.  Di atas mimbar juga para pemimpin menyerukan urusan-urusan publiknya. Dan ini, bersamaan dengan hilangnya mimbar, kini juga dilupakan oleh umat Islam, dan diganti dengan podium  – yang berasal dari gereja. Mimbar dan khutbah Jum’at adalah  satu forum kepemimpinan. Khutbah Juma’t bukan forum seorang ulama memberi nasehat pribadi, tetapi forum seorang pemimpin menyampaikan hal-hal publik, dan  pada soal-soal yang kongkrit dan relevan, bukan persoalan yang jauh dan tidak relevan dengan jamaahnya. Shaykh Abdalqadir menyatakan:

[D]an di sini bukan [tempat] pengajaran Sufi, di sini adalah  ujaran kemasyarakatan (civic address). Di sini bukan  [membahas] soal Palestina, di sini adalah soal yang tengah terjadi di tempat Jama’ah berada – tentang apa yang salah,  dan seruan kepada kebaikan dan peringatan atas perbuatan maksiat menurut perintah Allah, subhanahu wa ta’ala, di dalam  Qur’an. Itulah Syariat.

mimbar2-horz

 Fungsi Sosial Salat Jumat

Selanjutnya Syekh Abdalqadir juga mengajarkan betapa pentingnya saat sesudah salat Jum’at, dalam dimensi sosialnya. Sebagai satu kesatuan yang utuh, ia menjelaskannya sebagai berikut:

Menurut  ‘Amal  Madinah  tidak ada salat sunat [ba’da  salat Jum’at] – para pengikut Imam Abu Hanifah menjalankan salat sunat sesudah salat Jum’at dan saya tidak mendebat soal ini, tapi yang saya perlihatkan pada Anda adalah bagaimana [salat Jum’at dilaksanakan]  pada saat awalnya, di Madinah. Intinya adalah sesudah raka’at Jum’at, [menurut] sunnah di Madinah, adalah orang-orang langsung berdiri dan meninggalkan masjid. Mengapa? Seperti bagian pertama salat Jum’at, saat ini adalah hakikat, sesuatu yang tersembunyi. Ini merupakan kontrak Anda bahwa malaikat telah mencatat nama Anda. Anda telah menaruhnya di timbangan, Anda ada di sana. Kita tidak sedang  mencoblos [Pemilu], kita sedang menghadiri salat Jum’at! Kita sedang memanfaatkan hak istimewa kita sebagai Muslim.

Dimensi sosial salat Jaumat dijelaskan sebagai berikut:

Bagian ketiga adalah saat meninggalkan masjid. Ingat, Anda memasuki masjid dimulai dengan kaki kanan dan sebuah do’a. Anda meninggalkan masjid dimulai dengan kaki kiri dan sebuah do’a. Anda melihat seseorang, dan bila Anda mampu, Anda mengundang mereka ke rumah dan makan bersama, atau seseorang yang Anda lihat tidak mampu, Anda ajak mereka untuk makan bersama Anda.

Sunnah-nya adalah Anda tidak berjalan di tengah jalan, tapi berjalan [seolah] menyenderi  tembok, agak miring ke depan sedikit, sebagaimana Rasul,  sallallahu ’alayhi wa sallam, berjalan. Ia hampir  menyenderi tembok, miring ke depan.  Jadi, Anda dapat mengatakan bahwa bagian pertama adalah, sejak meninggalkan rumah setelah mandi, dan Anda bersih dan mengenakan pakaian yang baik, untuk pergi ke masjid.  Anda memiliki tatakrama untuk pergi ke masjid, Anda disebarkan dengan murah hati di kalangan orang miskin, Anda tiba di masjid, dan kemudian rahasia ruhani itu  terjadi pada tiap orang mukmin.  Lalu, [bagian kedua] kebesaran Syariat dengan mimbar, lalu [bagian ketiga] saat meninggalkan masjid, dan lagi, kedermawanan sosial dengan kemurahatian Anda terhadap orang miskin,  juga  kemurahatian yang Anda miliki untuk  teman dan untuk orang-orang yang Anda ingin jalin hubungan dengannya, dengan mengundang mereka ke rumah Anda, atau Anda diundang ke rumah mereka. Inilah [salat] Jum’at. Inilah mengapa ada Masjid Jami’.

 Salat Jumat di Nusantara

Ada sebuah ilustrasi yang kiranya perlu dituliskan di sini mengenai makna otoritas dalam pelaksaaan salat Jum’at, yang relevan. Ilustrasi ini relevan  disebutkan karena menyangkut umat Islam di Nusantara, yang pada abad 16, telah berhubungan dengan Daulah Utsmani. Dalam suatu catatan hubungan antara kaum Muslim Nusantara dengan kaum Muslim di Turki ini telah terjalin dalam bentuk kerjasama perdagangan sejak abad ke-16. Kapal  dagang dari Kesultanan Pasai, Aceh,  yang mengangkut  lada pertama kali mengarungi Laut Merah, pada 1530.   Sebaliknya, pemerintahan Daulah Utsmani (di bawah Sultan Suleyman Pasha) mendapat hak dan izin  dari pemerintahan Pasai, di bawah Sultan Alaeddin, untuk membagun gudang dan tempat pengolahan lada di pelabuhan Pasai.

Hubungan dagang tersebut kemudian juga ditingkatkan dalam hubungan politik dan deplomasi, terutama dalam periode 1560-1580. Pada tahun 1566  secara resmi Sultan Pasai mengirimkan surat pengakuan atas kedaulatan Daulah Utsmani sebagai pelindung Kesultanan Aceh, yang salah satunya dibuktikan dengan cara selalu disebutkannya nama Sultan Utsmani dalam setiap khutbah Jum’at yang dilakukan di wilayah Kesultanan Pasai. Di sisi lain Kesultanan Pasai meminta perlindungan kepada sultan dari Daulah Utsmani untuk ikut menjaga keamanan jalur perdagangan, dan rute perjalanan kapal haji, di Lautan Hindia   dari gangguan orang-orang Portugis.

Pada masa awal hubungan politik Aceh-Istambul itu secara kongkrit telah diwujudkan, antara lain, dengan dikirimnya 300 orang dari angkatan bersenjata   Utsmani ke Pasai.  Hal ini sangat membantu Sultan Alaeddin dalam percobaan pengusiran  kaum kolonialis Portugis di Selat Malaka, pada 1537.  Walaupun di masa-masa selanjutnya, pada 1568 dan 1570, pasukan Alaeddin dengan bantuan militer dari Utsmani, terus mengalami kegagalan dalam upaya mengusir kaum Portugis ini. Bantuan dari Istambul, berupa dua kapal perang, dengan 500  anggota pasukan yang dilengkapi dengan teknisi dan penembak meriam, serta  senapan, yang dikirimkan pada 1567 sebagai persiapan dua kali misi penyerangan tersebut, ternyata tidak mampu mengalahkan kaum penjajah.