Kembalinya Khazanah Melayu dalam Dirham Tanjung Pura

635

Bangsa Melayu Nusantara memiliki banyak tradisi, termasuk dalam penggunaan alat tukar atau mata uang. Sejumlah kesultanan di tanah Melayu mencetak dan mengedarkan koin-koin emas dan peraknya sebagai alat tukar yang diterima di seluruh muka bumi, dari Merauke sampai Maroko.  Kesultanan Gowa di Timur sampai Kesultanan Aceh di Barat.

Dalam beberapa tahun belakangan tradisi mencetak kembali koin emas dan perak telah kembali. Kesultanan ternate, Kesultanan Kasepuhan, Kesultanan Sulu, Kesultanan Bintan, telah mencetak dan mengedarkan koin Dirham perak dan dinar emas, yang kini telah mulai berlaku kembali di kawasan Nusantara khususnya.

Yang terbaru, adalah koin perak yang dicetak dan mulai diedarkan oleh Mangku Negeri Tanjung Pura Darussalam. Kehadiran Mangkunegri di Kalimantan Barat ini merupakan bahagian pelaksanaan sunnah yang ditunjukkan oleh Rasululah Shallalahu alayhi wa sallam. Pemimpin adalah bahagian terpenting dari amal ahlul Madinah yang merupakan sentral dari Amr untuk menghadirkan kembali syariat dan sunnah di tengah masyarakat Ketapang, Kalimantan Barat.

Para Pemimpin menunjukkan Dirham Ketapang

Mengikuti para pemimpin Islam lainnya di Nusantara seperti Kesultanan Ternate, Kesultanan Kelantan, Kesepuhan Cirebon, Kesultanan Sulu, dan Kesultanan Bintan Darul Masyhur di atas,  Kyai Mangku Negri Haji Morkes Effendi telah menghadirkan Dirham Perak, tapi dengan khasanah Melayu di dalamnya.

Ditandai antara lain dengan kembalinya Aksara Arab Jawi/Pegon dalam koin mata uang. Tercantum pada Dirham nama Kyai Mangku Negeri Haji Morkes Efendi, Mangku Negeri Tanjung Pura Darusssalam. Tahun terbit 1438 Hijrah. Dalam koin ini digunakan khat kufah.
Uang ini juga disebut sebagai 1 Perak, sebagaimana sejak dulu kita menyebut mata uang kita sebagai “perak”, dan sungguhan terbuat dari logam perakmurni.

Koin Perak Tanjung Pura ini sudah bisa diperoleh di berbagai wakala.