Kemenangan Kaum Yang Sedikit

703

Kalau suatu kali Anda menghadiri kegiatan Komunitas Pengguna Dinar Dirham boleh jadi hanya akan menjumpai segelintir orang. Kalau dalam Pasar Muamalah, yang merupakan salah satu kegiatanpenerapan bertransaksi dengan Dinar dan Dirham, hadir 20 pedagang atau lebih, itu sudah termasuk ramai.

Tidak jarang dalam kegiatan di kalangan penggerak muamalah ini  Anda hanya akan bertemu dengan 10 orang, bahkan kurang. Jumlah mereka masih sangat sedikit.

Agak berbeda halnya kalau acaranya sekadar mendengarkan ceramah, atau tausyiah, atau seminar, dan sejenisnya. Puluhan orang, bahkan bisa ratusan orang, bersedia turut mendengarkan penjelasan tentang pentingnya kembali menegakkan muamalah, dan menerapkan Dinar dan Dirham. Atau tentang merajalelanya riba. Bagi kebanyakan orang masalah ini umumnya memang masih merupakan hal baru.

“Sosialisasi’, ‘edukasi’, dan penyebarluasan informasi dan pengetahuan tentangnya, tentu  harus terus dilakukan.  Tetapi  dua hal di atas juga menunjukkan betapa jauhnya jarak antara mempelajari dan mengerti.  Antara mendengar dan menjalankan. Antara meng-iya-kan secara lisan  dan membuktikan dalam perbuatan.

Betapa banyaknya orang yang menyerukan bahwa riba itu haram, tapi sambil tidak berbuat apa-apa untuk memeranginya. Bahkan terus membiarkan seluruh praktek ribawi itu merasuk kedalam kehidupan, termasuk kehidupan pribadi  dan keluarganya. Ini ibarat seseorang yang melihat kebakaran tapi hanya berteriak-teriak: “Kabakaran….kebakaran…!”, tanpa berupaya memadamkannya. Orang ini jelas tidak memahami sedang terjadi kebakaran.

Boleh jadi ini juga merupakan bagian dari fakta atas pernyataan Rasulullah SAW bahwa umat Islam, meski banyak,  ibarat buih: jumlahnya melimpah, tapi tidak berarti, tidak berguna, dan tidak menakutkan musuh. Semantara, di atas kelemahan ini, “Kaum kafir menindas mereka bagai orang yang menghadapi hidangan dan siap menyantapnya”.

Ya, ibarat seonggok daging mati yang siap diterkam harimau!

Oleh karena itu, meski jumlahnya sedikit, para anggota pelopor muamalah itu,  adalah orang-orang yang mengerti. Mereka tidak cuma mendengarkan, tapi juga mentaati – dengan cara berbuat, bertindak, atas apa yang mereka dengarkan dan pahami, yakni bahwa riba itu haram dan harus diperangi. Tentu, di tengah riba yang menggurita sebagai sistem, melakukan perubahan tidaklah segampang membalik telapak tangan. Tapi harus sudah dimulai dan dilakukan.

Sebab muamalah adalah tindakan setiap orang. Anda adalah muamalah itu sendiri. Jangan tergantung kepada sistem, menunggu sampai semua berubah, baru akan turut menjalankannya. Justru karena sistem yang berlaku saat ini adalah kekuatan yang melumpuhkan. Bertransaksilah dengan sesama kita, meski hanya 0.5 Dirham. Lakukan sesering mungkin, hingga setiap kita terbiasa melakukannya, seterbiasa  bertransaksi dengan uang kertas.  Dan orang lain akan mengikuti Anda.

Jangan  berkecil hati dengan jumlah yang sedikit. Allah SWT sendiri yang telah memberikan jaminan-Nya: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 249). Bersabar adalah kuncinya. Istiqomah. Konsisten. Inilah resepnya. Sumber kekuatan kita adalah “La haula wala quwwata illa billah.” Tugas kita hanyalah menghadirkan yang haq, agar yang bathil  musnah.

Rahasia yang diungkapkan Allah dalam al-Qur’an ini sangat penting.  Sebab, tanpa menyandarkan diri kepada Allah SWT semata, kita akan merasa lemah, sementara sistem riba, kapitalisme, akan nampak  sangat kuat. Itu tidak lain karena ilusi kita sendiri. Riba adalah kebathilan, maka dengan sendirinya sangatlah rapuh. Hanya selama  kita berada di dalamnya, kita mencintainya, dia akan nampak kuat, dan kita merasa lemah.

Karena itu, meski jumlah Anda sedikit, wahai para penggerak  Muamalah: “Janganlah bersikap lemah, dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi,  jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali Imran: 139)

Teruslah bergerak. Dengan kesabaran. Dengan keyakinan. Dengan ketaqwaan, bergantung sepenuhnya kepada Allah SWT. Dan kemenangan pasti akan Anda raih. Karena kemenangan hanyalah milik Allah SWT.  Tugas kita hanya mentaati-NYA.

Kawat Berduri