Kemerdekaan Palsoe

2255

“Kemerdekaan” sebuah negara bangsa adalah kemerekaan palsu. Ini tidak lain hanya perubahan bentuk kolonialisme. Substansi penindasannya tidak berubah: perampasan hak dasar memiliki harta dan kebebasan memilih alat tukar. Negara nasional adalah Debtorship.

  1. Pada tanggal tertentu setiap negara memperingati ”Hari Kemerdekaan”. Dikisahkan kemerdekaan itu dicapai melalui berbagai perjuangan panjang
  2. Ditulislah “Gerakan Kebangkitan Nasional’. Ada bukti-bukti rentetan peristiwa menuju merdeka: organisasi pergerakan, supah pemuda, dll
  3. Lalu diciptakanlah lambang-lambang dan simbol negara, berpuncak pada sebuah konstitusi atau Undang Undang Dasar, sebagai landasan “negara mereka’.
  4. Garis pemisah zaman pun ditarik tegas. Sebelum proklamasi disebut zaman ’prakemerdekaan’, dan sesudahnya adalah zaman ’kemerdekaan’.
  5. Lalu dilabeli: yang pertama adalah penindasan dan penderitaan, kebodohan dan keterbelakangan; yang kedua kebebasan, kemajuan dan pembangunan
  6. Kehidupan bangsa kemudian seolah baru dimulai dari titik itu. Kehidupan sebelumnya beserta seluruh peradaban yang dihasilkan seolah berhenti.
  7. Peradaban lama masuk tong sampah sejarah. Kita mulai mengenali, dan mengakui, tokoh-tokoh baru, pergerakan nasional. Disebut ‘Pendiri bangsa”
  8. Pemimpin-pemimpin masyarakat, para Pengeran dan Sultan, di luar tokoh-tokoh pergerakan nasional itu, terlempar ke latar belakang sejarah.
  9. Wajah mereka sekadar menghiasi museum, atau lembar uang kertas, yang juga menjadi penanda utama lahirnya sebuah negara bangsa baru itu.
  10. Istana-oistana mereka dirampas, direndahkan derajatnya menjadi musium, bersamaan dengan itu terkubur pula tradisi masa lalu dan tumpas sudah masa depan
  11. Sultan-sultan yang kini masih ada secara politik ”ditiadakan”, dijadikan bagian dari ajang ”pariwisata dan budaya” semata.
  12. Lebih jauh dari itu kehidupan pun dibelah dua: zaman modern yang konon didasarkan kepada kebebasan, persamaan, dan persaudaraan
  13. Dan zaman tradisional yang digambarkan sebagai terbelakang, feodalistik, dan penuh dengan aneka penindasan.
  14. Era Kesultanan telah berakhir, Era Republik telah menggantikannya. Zaman pun terus bergerak maju secara linier. Kemerdekaan dan Pembangunan
  15. Tapi apa arti menjadi sebuah “Republik”? Arti menjadi “negara bangsa”? Betulkan “merdeka”?
  16. Kemerdekaan bangsa2, yg hampir serempak awal abad ke-20, terjadi di berbagai belahan bumi, sesungguhnya bukanlah sebuah gerakan spontan
  17. ”Kemerdekaan politik” yang susul-menyusul ini hanyalah perubahan bentuk dari sistem yang sama menindasnya, sejak dua abad sebelumnya.
  18. Revolusi Perancis (1789), menandai berakhirnya Kepemimpinan Personal (Personal Rule) digantikan Kekuasaan Sistem (System Rule)
  19. Ini juga bergantinya kekayaan, yang semula aset riil berupa tanah, serta koin emas/perak, njadi kekayaan semu, berupa uang kertas,
  20. Perubahan itu bukan sekadar pergantian bentuk, tapi juga pemilikan. Kekayaan riil semula dimiliki masyarakat kini numpuk di segelintir orang
  21. Dalam sistem ini, segelintir bankir ini, diberi hak menyulap kekayaan riil itu menjadi kertas dan bit kumputer yang seolah bernilai
  22. Dengan uang bit komputer yang mereka cetak dan dipaksakan berlaku umum para bankir dapat menguasai hampir seluruh sumber daya alami dunia
  23. Kebangkitan Nasional, diikuti lahirnya satu-persatu negara bangsa abad ke-20, termasuk NKRI, pengukuhan sistem baru yang menindas ini

Merdeka palsu

  1. Sistem menindas ini dibangun, dijalankan, melalui lima teknik, hasilnya adalah kesadaran palsu “telah merdeka”.
  2. Pertama, pemberian ‘kemerdekaan politik’ dan memberikan kehormatan kepada ‘mantan kaum terjajah’ ini sebagai ’bangsa-nasional’ baru,
  3. Nomos Nusantara dicincang-cincang jadi belasan ”negara nasional” melalui btsn geografis artifisial: Malaysia, Indonesia, Singapura, dll
  4. Nomos Utsmaniah dicincang2 hasilkan negara2 bangsa di Timur Tengah dan Afrika – Lybia, Aljazair, Maroko, Sudan, Mesir, dll
  5. Nomos Moghul, di anak Benua India, tercabik menjadi minoritas di sebuah negeri penyembah batu dan gajah.
  6. Tidak lupa, pilitik minoritas, diciptakan, sbg bibit masalah di sejumlah negara: Muslim di Vietnam, thailand, Kamboja, Filipina, Burma
  7. Demi status dn kebanggaan, pada tiap ‘bangsa merdeka’ dibangun mitos dan ritus2 serupa: lagu kebangsaan, bndera nasional, lmbg negara
  8. Identitas nasional yg memecah belah gantikan identitas agama yg memeprsatukan. Konstitusi gantikan wahyu ilahi
  9. Teknik kedua pendefinisian ‘bangsa-bangsa baru’ ini, meski merdeka, sebagai ‘ bangsa terbelakang, miskin, berpenyakit, dan bodoh’.
  10. Maka, selain ilusi gelora nasionalisme diwariskan kepada bangsa baru ini dua sihir lain, uang kertas dan bank sentral,
  11. Uang kertas dan bank sentral – warisan RevolusiPerancis di atas – mengganti bedil, meriam, serta serdadu2 beserta Gubernur Jenderalnya
  12. Inilah modus baru untuk ekspansi kapital, yang tidak lagi berupa koin emas dan perak, melainkan uang kertas – melalui cara-cara ribawi.
  13. Neokolonialisme, menemukan bentuknya yang lebih tak kentara tetapi efektifit hampir sempurna. Kita dapat menyebutnya sebagai bankisme.
  14. NKRI, mengalami hal yang sama, dibuktikan dg kelahiran BI dan rupiah, gantikan BNI 46 dan ORI . Detilnya baca http://t.co/WrtKiK2V1F
  15. Teknik ketiga pemberian ‘paket bantuan pembangunan’, agar terbebas dr kondisi ‘terbelakang, miskin dan bodoh’. Dilabel Dunia Ketiga
  16. Disediakan ‘paket bantuan’, termasuk beasiwa segelintir elit untuk belajr ‘ekonomi pembangunan’, ‘manajemen pemerintahan’; ‪#‎MafiaBerkeley
  17. Pinjaman lunak dan bantuan pembangunan’, lewat lokomotifnya IMF dan Bank Pembangunan/Bank Dunia), menjadi rutin buat APBN
  18. Dengan dipaksa mengambilalih utang Hindia Belanda, yang cuma 4 Milyar dollar, hari ini sdh jadi 300 Milyar USD. Utang kita di atas 4000 T
  19. Sementara kurs USD dulu Rp 3.8/USD, sekarang Rp10.000. Emas dulku Rp 2/gr, hari ini Rp 570.000/gr.
  20. Teknik keempat pengukuhan pada aras politik. Untuk memastikan tatanan status quo maka demokrasi diterapkan sebagai mesin kekuasaan
  21. Demokrasi memastikan pemerintahan tanpa otoritas, pembatasan domain politik pd tingkat ‘nasional’ hilang kontrol atas sumber kekuasaan
  22. Sumber kekuasaan yang sebenarnya, yakni uang yang berada dalam wilayah supranasional, di tangan jaringan oligarki bankir
  23. Presiden atau Perdana Menteri, dan DPR, yang dipilih secara demokratis, tak lain sepenuhnya boneka Oligarki Bankir internasional itu
  24. Tugas pemerintah hanya menyerap utang-berbunga bank (dan habiskan lewat APBN ) dan memajaki rakyat untuk mencicil utang-abadi ‪#‎Rp4000T
  25. Teknik kelima adalah perbudakan itu sendiri. Tiap warga negara dikontrol penuh pengadministrasian penduduk, tuk bayr pajak dan utang
  26. Didahului dg penjualan aset, swastanisasi layanan sosial, ringkasnya transformasi pemilikan sosial kepada pemilikan oligarki bankirWarga negara ditransformasikan bertahap, dari manusia2 otonom merdeka dengan kebebasan individu berubah menjadi buruh yang bergaji rendah,Lantas jadi konsumen tuk serap semua produk yang dibuatnya sendiri selaku buruh tadi, dan terakhir menjadi debitur ‪#‎UtangPublik
  27. Dan tentu saja, pada saat bersamaan, sebagai wajib pajak. Inilah penindasan baru, debtorship, dibalik mitos kemerdekaan sebagai bangsa
  28. Pada titik ini negara-bangsa itu sendiri telah menjadi tidak relevan. Selurh penduduk dunia dikendalikan oligarki bankir internasional
  29. Presiden, perdana menteri, ’wakil rakyat’, sepenuhnya menjadi benteng pelindung bagi penguasa sejati di balik layar: segelintir bankir
  30. So, selamat rayakan ‘ilusi kebebasan’ ‘kemerdekaan palsu’. Mau merdeka sejati? Tusuk jantungnya. Tinggalkan uang kertas dan bank. End