Kemeriahan Pasar Muamalah Tanah Baru, Tempat Dinar Dirham Berlaku.

426

Nabi SAW mengajarkan bahwa pasar itu serupa dengan jalan umum atau masjid tempat orang bersholat:  bukan milik pribadi, tidak boleh disewakan, tidak boleh di pajaki dan tidak boleh dibatasi/disekat-sekat.  Penyelenggaraaan pasar adalahtanggung jawab para ulil amri, para amir dan sultan, demi kesejahteran rakyatnya. Karena itu Muslim harus kembali berjamaah agar masalah-masalah kepentingan umum dapat  kembali dijalankan sesuai sunnah.

Di Kesultanan Bintan Darul Masyhur sekarang ada Pasar Sultan. Di Mangku Negeri Tanjungpura Darussalam ada Pasar Mangku Negeri. Di situlah sunnah pasar dijalankan, di bawah kepemimpinan seorang sultan. Di tempat yang belum tegak Sultaniyya, umat Islam haru smulai kembali berjamaah, menunjuk salah satunya menjadi Amir. Tugas para amir lah menyelenggarakan sunnah-sunnah Nabi di wilayah publik. Salah satunya menyelenggarakan pasar ini.

Sunnahpenting lain berkaitan dengan pasar adalah dicetaknya Dinar emas dan Dirham perak, sebagai alat transaksi. Ini juga merupakan wewenang dan tugas ulil amri. Dengan adany apasar, serta dinar dan dirham, muamalah bisa dijalankan secara adil. Masyarakat perlahan bisa bebas dari sistem riba ini.

Dengan adanya beberapa contoh “pasar muamalah” ini umat Islam di maana saja bisa menyelenggarakannya.  Para pedagang bebas berjualbeli di pasar ini. Masyarakat, pemilik Dinar dan Dirham, membelanjakannya di pasar. Masyarakat fakir dan miskin bisa mendapatkan Dirhamnya atau dinarnya dari pembagian zakat. Menjadi tugas para amir dan sultan pula untuk menarik dan membagikan zakat dalam nuqud, atau dinar dirham ini.

IMG-20160626-WA0039

Ahad, 26 Juni 2016 lalu, pasar serupa itu juga berlangsung di Tanah Baru Depok.  Koin-koin Dirham perak, puluhan jumlahnya – mungkin sekitar 150-200 Dirham –  bertukar dengan berbagai barang di pasar. Berpindah dari tangan ke tangan. Bebas riba.

IMG-20160626-WA0030

IMG-20160626-WA0036

IMG-20160626-WA0038