Kesultanan Luwu Diajak Kembali Bermuamalah dalam Sunnah

560

Kesultanan Luwu merupakan kesultanan tertua di Sulawesi Selatan dan mengalami kejayannya antara abad ke-10 dan ke-14.  Para pemimpin Kesultanan Luwu bergelar Datu, dan saat ini ada di tangan Datu Luwu ke-40, Andi Maradang Mackulau, yang bertahta sejak akhir Desember 2012.  Seperti pada umumnya kesultanan di Nusantara  hari  ini, Kesultanan  Luwu saat ini dalam keadaan “tertidur”, dan lebih bersifat simbolis dalam masyarakat.

Untuk  lebih memberikan makna dan peranan nyata dalam kehidupan bermasyarakat para sultan harus kembali menjalankan peran dan fungsinya sebagai para pemimpin, terutama dalam menjalankan sunnah-sunnah Rasul SAW. Untuk itulah, Sultan Haji Huzrin Hood, Sultan Kesultanan Bintan Darul Masyhur (KBDM) mengenalkan kembali beberapa sunnah muamalah yang kini dijalankan di KBDM kepada Datu Luwuke-40, Datu Andi Maradang Mackulau,  khususnya pencetakan dan pengedaran koin Dinar emas dan Dirham perak, penarikan dan pembagian zakat atas keduanya, dan penyelenggaraan pasar-pasar rakyat yang tanpa sewa, tanpa pajak dan tanpa riba.

Kedua Sultan berbincang cukup panjang lebar dalam sebuah jamuan kemarin malam, di Tanjung Pinang. Kedua kesultanan, bagaimana pun, ada keterkaitan sejarah, karena banyaknya kerabat berdarah Bugis yang menetap dan turut membangun sejumlah kesultanan Melayu di masa lalu. Termasuk beberapa kesultanan di Kepulauanh Riau.

“Alhamdulillah, sambutan Datu Luwu sangat positif. Kepadanya juga telah saya serahkan buku Sesat di Ujang Jalan, Balik ke Pangkal Jalan, serta koin Dirham KBDM,” ujar Sultan Haji Huzrin Hood. Buku ini berisikan rekam jejak Sultan Huzrin Hood dan KBDM dalam menjalankan sejumlah sunnah Rasul SAW, sejak beberapa tahun lalu.

Serahkan Buku Datu Luwu

Pada akhir Mei 2016 nanti Sultan Huzrin Hood merencanakan akan melakukan kunjungan balasan ke Kesultanan Luwu, sambil menghadiri palantikan Sultan Gowa yang baru. Semoga kebangkitan sejumlah kesultanan di Sulawesi ini disertai dengan kesadaran dan kebangkitan untuk kembali menerapkan syariat Islam, sebagaimana dilakukan para sultan pendahulu mereka di masa lau.