Kewajiban Zakat Fitrah pada Makanan, Tak Terkait dengan Harta

595

Lebaran masih sekitar dua pekan lagi, tapi perbincangan tentang zakat fitrah sudah mulai ramai. Memang dari segi ketaatan dalam membayar zakat fitrah ini kaum Muslim, sejak zaman dulu hingga kini, agaknya tidak pernah ada masalah. Berbeda halnya dengan zakat mal, yang diwajibkan pada harta uang (dinar dan dirham), hewan peternakan, serta hasil pertanian dan perkebunan tertentu, yang sejak sepeninggal Rasulullah, sallalahu alayhi wa sallam,, telah banyak yang membangkang.

Boleh dikatakan, bagi umat Islam di Indonesia, membayarkan zakat fitrah bahkan dirasakan sebagai bagian kegembiraan mengakhiri Ramadhan dan menyambut Idul Fitri. Hanya belakangan ini zakat fitrah suka ramai dibincangkan terutama kaitannya dengan boleh tidaknya dibayar dengan uang.

Sampai beberapa tahun lalu masyarakat muslim di Indonesia membayarkan zakat fitrah dengan beras, karena makanan pokok kita umumnya adalah beras, kecuali di daerah tertentu seperti Madura atau sebagian Indonesia Timur, yang makanan pokoknya jagung atau sagu. Di sana zakat fitrahnya mengikuti makanan pokoknya, jagung atau sagu. Tetapi, entah siapa yang memulai, dan kapan terjadinya, semakin kebelakang, semakin banyak orang membayarkan zakat fitrah tidak dengan makanan, melainkan diganti dengan uang (rupiah).

Saat ini, misalnya, banyak panitia penerima zakat fitrah menyetarakan kewajiban berzakat fitrah dengan uang senilai Rp.25.000 – Rp.30.000 /kepala. Ini merupakan penyimpangan dari ketentuan fikih. Karena itu, tulisan ini ingin mengingatkan agar umat Islam kembali mentaati ketetapan tentang zakat fitrah: dibayarkan hanya dengan makanan, sesuai dengan yang dikonsumsi masyarakat setempat. Dari Imam Malik sampai Syekh Al Banjari

Dalam Kitab Al Muwatta, Imam Malik, meriwayatkan:

Yahya meriwayatkan kepadaku dari Malik dari Zaid bin Aslam dari Iyadl bin Abdullah bin Sa’d bin Abu Sarh Al ‘Amiri, Bahwasanya ia mendengar Abu Sa’id al Khudri berkata, ‘Kami mengeluarkan zakat fitrah satu sa’ barley [sejenis gandum], atau satu sha’ gandum, atau satu sha’ kurma, atau satu sha’ keju, atau satu sha’ kismis. Itu berdasarkan ukuran sha’ nabi sallallahu ‘alayhi wasallam.’

Dalam Sahih Bukhari juga diriwayatkan hadits berikut:

Ibnu Umar RA bahwa,’Rasulullah, sallalahu alayhi wa sallam, telah mewajibkan zakat fitrah berupa satu sha’ kurma atau satu sha’ jewawut (sya’ir) atas budak dan orang merdeka, laki-laki dan perempuan, anak-anak dan orang dewasa, dari kaum muslimin.’ (HR Bukhari, no 1503).

Dari riwayat ini, dan yang menjadi amal umat Islam dari zaman dahulu, jelas bahwa zakat fitrah hanya dikenakan pada makanan, sesuai kondisi setempat. Di Madinah, atau di Hijaz umumnya, barley dan gandum, yang merupakan golongan tepung-tepungan dan biji-bijian, adalah makanan utama; selain itu kurma dan kismis, dua jenis makanan golongan buah-buahan kering; lalu keju, sebagai bentuk pembayar zakat fitrah lain, dari golongan produk susu.

Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, ulama kita di abad 18, artinya hidup 1100 tahun sesudah Imam Malik, dalam kitab fikih Sabil al-Muhtadin, sebuah kitab fikih yang luas dipakai di Nusantara, Thailand, bahkan sampai Kamboja, menyebutkan benda yang dikenai kewajiban zakat fitrah ini dengan istilah qut artinya ‘makanan yang mengenyangkan’, jadi tidak sepenuhnya hanya ‘makanan pokok’, sebagaimana yang kita kenal sekarang. Syekh Al Banjari menyebutkan,

‘Dan wajib keadaan fitrah itu daripada jenis qut [makanan yang mengenyangkan] yang ghalib [lazim] pada tempat yang difitrahi ia.’

Jadi, zakat fitrah tidak ada urusannya sama sekali dengan harta uang, baik itu dinar emas, dirham perak, ataupun uang kertas, yang lazim kita kenal sekarang. Zakat fitrah adalah zakat pada badan. Tepatnya penamaan zakat ini pun, adalah al-fithr, yang mengacu kepada kata fithr yang artinya adalah makan Baik di zaman Imam Malik maupun zaman Syekh Al Banjari selalu dibayarkan dengan bahan makanan. Maka, sangat jelas bahwa membayarkan zakat fitrah dengan uang kertas, merupakan sebuah absurditas, karena kita melaksanakan sesuatu yang tidak ada relevansinya sama sekali dengan yang ditetapkan. Ini merupakan penyimpangan yang sangat fatal.

Memang ada ulama yang membolehkan pembayaran fitrah dengan uang, yakni dari Madhhab Hanafi, tapi  uang yang dimaksud adalah Dirham perak, yang memiliki nilai intrinsik. Bukan uang kertas yang tak bernilai, dan merupakan nota hutang. Tapi harus dipahami bahwa di zaman ketika kita hidup sepenhnya di bawah sistem riba, mengambil fatwa yang dasarnya adalah qiyas, sebagaimana ditempuh madhhab Hanafi, untuk kasus zakat fitrah, sangat fatal akibatnya.  Sebab kita membiarkan sistem riba merasuk ke dalam ibadah.

Lagi pula, sementara pihak yang hari ini mensahkan uang kertas sebagai alat bayar zakat fitrah acap mendasarkannya pada opini sendiri.  Memberikan alasan yang tampaknya dibuat-buat untuk membenarkan pembayaran zakat fitrah dengan uang, semisal kepraktisan, apalagi membawa-bawa kepentingan si mustahik, semisal ‘biar ada keleluasaan dalam menggunakannya, karena kebutuhannya kan tidak selalu berupa beras.’

Tetapi, persoalan kita adalah, dalam urusan ibadah semacam ini, apa yang hendak kita lakukan: mentaati perintah Allah, subhana hu wa ta’ala, dan RasulNya, sallalahu alayhi wa sallam, dengan menjalankan perintah dan contoh amal yang telah ada, ataukah mengikuti kemauan dari nafs kita sendiri, dengan alasan apa pun?

Hilangnya Pengetahuan dan Amal Muamalat

Tanpa kita sadari, sikap menggampangkan sebuah ketetapan syariat seperti halnya dalam soal zakat fitrah ini, membuat kita semakin jauh meninggalkan Islam sebagaimana diajarkan oleh Rasul , sallalahu alayhi wa sallam,. Praktek menguangkan zakat fitrah ini membawa implikasi luas, bukan sekadar penyimpangan hukum saja, tetapi dalam kehidupan sosial politik umat Islam secara mendasar. Mulailah dari yang sederhana. Ketika zakat fitrah dirupiahkan umat Islam kehilangan satu pengetahuan mendasar dalam muamalat yakni soal takaran (dan timbangan). Berapa banyak di antara Muslim saat ini yang mengetahui makna 1 sha’ itu?

Satu sha’, yang oleh Nabi, sallalahu alayhi wa sallam,, disebut sebagai ‘takaran Madinah’, adalah 4 mudd. Satu mudd adalah setangkup dua tangan orang dewasa. Di Nusantara dulu 1 sha’ disebut sebagai 1 gantang. Kalau disetarakan dengan takaran modern, yakni liter, 1 sha’ setara sekitar 2.035 liter. Ada juga yang menyetarakan sampai sekitar 2.5 liter.

Hilangnya pengetahuan tentang takaran, dan sudah pasti diikuti dengan hilangnya pengetahuan tentang timbangan, yang oleh Rasul, sallalahu alayhi wa sallam, disebutkan sebaga ‘timbangan Mekah’, memberikan implikasi lanjutan yang sangat serius. Umat Islam kehilangan pengetahuan mendasar tentang ‘nilai’ dan cara mengevaluasi atau mengukur nilai, yang hanya diajarkan melalui dua cara tadi, yaitu: ‘ditakar dengan takaran Madinah’ atau ‘ditimbang dengan timbangan Mekah.’

Berapa banyak Muslim yang masih mengerti makna mengukur nilai dengan ‘takaran Madinah dan timbangan Mekah’ ini? Dan bahwa, dari ketentuan ini, kita akan sampai pada pengetahuan bahwa nilai, bila dipertukarkan kita sebut sebagai harga, haruslah diukur hanya dengan (dinar) emas dan (dirham) perak, yakni unit yang dimaksud dengan ‘timbangan Mekah’?

Dari pengetahuan dasar ini masyarakat akan sampai pada pengetahuan bahwa uang, sebagai alat tukar, haruslah memiliki nilai intrinsik, agar keadilan pertukaran (perdagangan) dapat dicapai. Dan dari sini umat Islam akan tahu bahwa nilai nominal (pada uang kertas) adalah fantasi, yang jadi alat mengelabui, semata Dan, lebih jauh lagi, dengan pengetahuan ini semua umat Islam akan kembali mengerti yang dimaksud dengan riba secara benar.

Panitia amil zakat mengumpulkan zakat fitrah dari warga di Masjid Al-Hilal Katangka, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Senin (13/7). Menjelang hari raya Idul Fitri, umat muslim mulai mendatangi masjid atau panitia amil zakat untuk membayar zakat fitrah berupa beras atau uang yang nantinya akan dibagikan kepada yang berhak. ANTARA FOTO/Abriawan Abhe/asf/foc/15.

Secara fitrah pengetahuan datang, bertahan, dan diwariskan melalui amal. Karena itu, ketika amalnya dihentikan, pengetahuan itu pun ikut hilang. Karena itu, sekali lagi, dalam hal zakat fitrah, marilah kita kembalikan amalnya seperti semula, agar pengetahun yang telah hilang ini kembali. Meskipun, atau justru karena itulah, ada pihak-pihak tertentu yang menghendaki hilangnya amal dan pengetahuan ini.