Kisah Rupiah yang Makin Susah

473

Dalam beberapa pekan terakhir rupiah semakin melemah. Posisi terakhir pekan ini telah melewati angka Rp 14.200/dolar AS. Rupiah jelas semakin susah. Mari kembali kita ingat kisah sang rupiah, mata uang Bank Indonesia.

Lahir sebagai negara fiskal baru, 1946, Republik Indonesia mengadopsi model yang sama dengan negara lainnya. Yakni memastikan adanya bank sentral, dengan monopoli hak mencetak uang kertas, serta penerapan utang publik untukmembiayai hidupnya.  Para pendiri NKRI  menetapkan BNI 46 sebagai Bank Sentral,  secara monopoli menerbitkan Oeang Repoeblik Indonesia (ORI), berbagai uang kertas lain sebelumnya dinyatakan tidak berlaku, dan ORI ini diterbitkan dengan janji tiap Rp 2 bernilai satu gram emas.

Bankir internasonal menolak BNI 46, sebagai bank negara nasional NKRI. NKRI dipaksa berunding dengan dunia internasional. Setelah menyerah dalam Konferensi Meja Bundar (KMB, 1949), sebagai syarat pengakuan atas RI, BNI 46 diganti oleh bank swasta milik beberapa pribadi Belanda, De Javasche Bank, yang  mulai 1951 diubah jadi Bank Indonesia. ORI pun diganti dengan UBI (Uang Bank Indonesia).

Tidak ada yang tahu siapa saja kemudian pemegang saham De Javasche Bank yang telah menjadi Bank Indonesia itu. Yang pasti saat ini  Bank Indonesia, sebagai otoritas moneter,  tidak ada sangkut pautnya dengan Pemerintah RI lagi. Disisakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dibentuk kemudian untuk urusan teknis-teknis dan tetek bengek pengadministrasian dan pengawasan lembaga jasa keuangan.

Begitu diakui (1949) rupiah dipatok Rp 3.8 per dolar AS. Saat ORI jadi UBI (1952) rupiah melorot ke Rp 11.4 per dolar. Sepanjang waktu kemudian rupiah terus melorot sampai Rp 45 (1959), sempat melesat ke Rp 0,25 (1965), berkat sanering (Rp 1000 menjadi Rp 1) oleh Presiden Soekarno.

Selama Orde Baru atas order IMF dan Bank Dunia rupiah berkali-kali didevaluasi. Pada 1970 jadi Rp 378, 1971 jadi Rp 415, 1978 merosot lagi 55%, jadi Rp 625; didevaluasi lagi pada September 1983, 45%, jadi Rp 970 per dolar AS. Pada 1986 bertengger di Rp 1.660/dolar AS.

Masuk akal gak sih, para pemimpin memiskinkan rakyatnya sendiri, dengan sengaja? Tapi itu berkali-kali terjadi. Karena harus nuruti ndoro-ndoro bankir internasional, para penguasa yang sesungguhnya.

Dari waktu ke waktu nilai tukar rupiah terus terdepresiasi, mencapai Rp 2.200 per dolar AS sebelum ’Krismon’ 1997. Rupiah kemudian ’terjun bebas’ pertengahan 1997, dan sejak itu terus terombang-ambing – lagi-lagi atas kemauan bendoro tuan IMF dan Bank Dunia – dalam sistem kurs mengambang, dengan titik terendah Rp 16.000, awal 1998. Saat ini melewati Rp 14.200. Tidak mustahil, menuju kembali ke titik terendah saat Krismon 1998 atau lebih rendah lagi.

Siapa takut? Agus Martowardoyo, sejenak sebelum diganti sebagai Gubernur BI, bilang: “Tak akan sampai Rp 17.000”. Artinya ya bisa Rp 16.999!

Sementara dolar AS sendiri, yang berlaku sebagai jangkar, telah kehilangan lebih dari 95 persen daya belinya sejak berlaku pada 1913. Rupiah telah kehilangan 99 persen daya belinya sejak 1946. Inilah kisah rupiah.

Tapi Anda punya kebebasan memilih alat tukar. Kini ada yang lebih baik: dinar emas dan dirham perak. Semakin rupiah melemah, dinar emas semakin kuat. Pada saat ORI terbit, 1 dinar hanya Rp 8.5 per koin. Hari ini Rp 2.550.000/dinar.  Miliki dan gunakan dinar emas sebagai alat tukar syar’i dan secara sukarela gunakan dalam transaksi.