Kisah Toko “5Sodara”

724

kisah-toko

Ukurannya cuma 2×2 meter persegi saja. Letaknya di dekat pertigaan Jalan Raden Sanim- Jalan Curug Agung, tanah baru, Depok. Namanya, sebagaimana terpampang dalam neon box yang menghiasi toko mungil ini, adalah “Toko 5Sodara”. Isinya keperluan sehar-hari seperti sabun, bedak, minyak angin, obat batuk, sampo, lipstik, koyok, dan sejenisnya. Ya, sekadar untuk memenuhi keperluan penduduk sekitar, bukan sesuatu yang muluk-muluk.

Toko ini sudah berjalan sekitar 20 bulan lamanya, bahkan sempat berganti nama, yang semula bernama Toko Moya, menjadi Toko 5Sodara. Saat ini omsetnya ada di sekitar Rp 500 ribu/ hari. Ini, tentu saja, sangat jauh, ibarat bumi dan langit malah, dari honor saya kalau sedang menjadi seorang konsultan, yang bisa mencapai 200-250 dolar AS/ hari ( Rp 3-3.5 juta/hari).

Sebagai seorang konsultan, modalnya ya hanya omong-omong dan menulis, atau salah satunya saja. Sedang untuk mengisi kios mungil ini perlu modal berupa uang sekitar Rp 35 juta. Dengan omset, omset bukan laba, Rp 500 ribu/hari, berarti hanya 1.4% saja dari modal, uang berputar setiapharinya

Ringkasnya secara bisnis kegiatan warungan ini sama sekali tidak memadai. Tapi usaha kecil ini tetap saya teruskan. Beberapa alasannya adalah:

  1. Dengan membuka kios ini saya bisa telah mengeluarkan uang sebanyak Rp 35 juta dari jerat riba perbankan. Harta itu berputar dalam masyarakat. Produktif.
  2. Dengan mengelola warung itu saya telah menghidupi satu orang pegawai, meski dengan gaji yang belum ideal. Satu tenaga kerja telah tertampung.
  3. Dengan adanya Toko 5Sodara saya menambah satu kios usaha lagi yang menerima pembayaran dengan Dirham. Bermuamalah dengan halal bagi masyarakat menjadi semakin mudah. Dan sejak awal dibuka secara rutin ada saja pembeli yang membayar dengan Dirham.
  4. Kios ini menjadi sarana belajar, laboratorium nyata, bagi anak-anak saya untuk berpikir dan hidup merdeka, yakni menjadi jadi pedagang. Saya tidak ingin anak saya hanya berorientasi ijazah sekolah. Dan kelak hanya mondar-mandir menentent-nentengnya untuk mencari pekerjaan. Mereka harus pandai menciptakan pekerjaan.
  5. Dengan mengelola warung kecil ini saya dapat menyelami banyak pelajaran tentang rezeki, sabar, syukur, dan lain sebagainya, sebagai kehendak Allah SWT. Bersabar saat dagangan sepi. Bersyukur saat ramai.

Lebih dari semua hal di atas, warung mungil ini telah enjadi sumber pengetahuan tentang betapa zalimnya sistem riba ini bagi masyarakat, khususnya masyarakat kecil. Warung-warung kecil harus bertarung sesamanya, demi mempertahankan hidup pemilik dan keluarganya, sementara para pemilik modal besar ongkang-ongkang kaki. Uang mereka yang bekerja mencarikan uang berikutnya! Kalau mereka mengoiperasikan warung besar, bernama mini sampai supermarket, yang memerlukan modal ratusan juta sampai milyaran rupiah, tujuannya bukan untuk bertahan hidup, tapi memperbanyak kekayaan yang sudah banyak mereka miliki.

Maka saudara-saudaraku, berdaganglah, dan berdagang sambil menegakkan muamalah yang haq. Agar sistem Riba yang zalim ini bisa kita tinggalkan. Tanpa menegakkan muamalah, kalau pun kita betdagang, hanya akan menjadi bagian sistem riba ini. Bahkan memperkuatnya.

Allah SWT telah menghalalkan perdagangan, dan mengharamkan riba.