Kita Hidup di Tengah Lautan Riba

1931

Dalam satu haditsnya yang diriwayatkan oleh  Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Suatu saat nanti manusia akan mengalami suatu masa, yang ketika itu semua orang memakan riba. Mereka yang tidak makan secara langsung, akan terkena debunya.” (HR. Nasa’i). Inilah zaman itu, saat kita hidup di dalamnya, karena riba telah menjadi sistem. Semua orang terlibat dengan riba dari berbagai bentuknya.

Dengan membayar sangat mahal, sebuah bank BUMN, yakni BRI, suatu kali, pernah menyebarluaskan iklan yang menggambarkan merajalelanyariba tersebut.  Dalam halaman-halaman besar di koran-koran nasional BRI menunjukkan bahwa seluruh lini kehidupan masyarakat telah dikuasainya melalui riba yang dikendalikannya.
Dari tepi jalanan, gedung-gedung yang dibangunnya, seisi jalanan tersebut yakni kendaraan yang berlalu lalang; ketika masyarakat bepergian, makan di restoran, sampai pergi berekreasi semuanya – tanpa kecuali – difasilitasi melalui sarana ribawi. Mau kredit apa pun ada. Mau utang berapa pun bisa. Asal membayarkan ribanya.
Dari polosok tengah kota sampai pinggir pantai. Semuanya telah menjadi lautan riba. Tapi ini tidak membuatnya menjadi halal. Merajalelanya riba ini hanya bermakna bahwa umat Islam harus hijrah darinya. Harus meninggalkan riba. Saya, Anda, kita semua, harus bebas dari riba.
Untuk bisa meninggalkan riba, maka muamalah yang halal harus dijalankan. Sarana dan prasaranya harus disediakan: mata uang yang halal (koin emas dan koin perak), pasar-pasar terbuka,  sistem pembayaran dan deposit emas dan perak, baitul mal, kontrak-kontrak kemitraan dagang (qirad) dan produksi (shirkat), semua perlu diadakan.
Pengajaran tentang kaidah dan syariat muamalat harus dilakukan di pengajian, di sekolah, di rumah-rumah. Meninggalkan riba adalah wajib hukumnya. Bermuamalah secara halal juga wajib hukumnya. Bergabunglah dengan komunitas-komunitas yang menjalankan muamalah. Agar membesar dan meluas, dan menjadi kelaziman, hingga kita bisa meninggalkan riba. Hingga kita bisa bebas dari kezaliman.
Riba adalah kezaliman yang telah menjadi kelaziman.