Sihir Bankir: Dipertukarkannya Nilai Kertas dan Koin

519

Ini cara lain memahami sihir bankir: peganglah koin recehan terkecil dan lembar kertas rupiah terbesar.  Sebutlah  uang kertas Rp 100.000 dan koin aluminium Rp 10.

Mengapa uang bernilai 100.000 unit dibuat dari kertas, dan 10 unit tersebut  berupa koin aluminium, dan bukan sebaliknya? Yakni 10 unit  dari kertas, dan 100.000 unit berupa koin aluminium? Sedangkan sekeping aluminium itu riilnya lebih mahal dari secarik kertasnya.

Jawabnya adalah: karena uang fiat ini  sesungguhnya  tak ada nilainya. Bohongan belaka. Kalau koin aluminium itu yang diberi nilai Rp 100.000, kata orang Medan “Ketahuan kali bohongnya”, bukan? Siswa SD pun akan mampu memahaminya dengan mudah.

Karena seharusnya hanya logam perak dan emaslah yang menjadi bahan uang, dengan nilai fitrahnya, yang berharga itu. Bukan sekeping beberapa gram aluminium atau cupro nikel, atau secarik kertas, dengan angka nominal 50.000 atau 100.000.

Dinar emas dan dirham peraklah uang sejati. Tanpa perlu angka nominal, bernilai seekor kambing (per 1 dinar emas) dan seekor ayam (per 1 dirham perak)

Bukankan terang-benderang fakta dan fiksinya?

Marilah kita kembalikepada koin emas dan koin perak. Agar kejujuran dan keadilan kembali tegak.