Kokohnya Dasar Hukum Penggunaan Dinar Emas dan Dirham Perak di Indonesia

2953

Penerapan koin emas Dinar dan koin perak Dirham di Indonesia sepenuhnya legal dan memiliki dasar hukum yang sangat kuat.  Sebagai benda, atau komoditi, koin emas dan koin perak tidak bedanya dengan benda lain yang legal. Hanya koin emas dan koin perak memiliki nilai ekonomi tinggi. Keduanya adalah masuk kategori “barang berharga”.

Dalam hal penggunaannya, emas dan perak, secara khusus telah masuk ke dalam satu undang-undang yang mengaturnya.  Undang-undang dimaksud adalah UU no  23  tahun  2011 tentang Pengelolaan Zakat.

Pasal 1 ayat 2 UU no 23 tahun 2011 menyebutkan: “Zakat adalah harta yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim atau badan usaha untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya sesuai dengan syariat Islam.”

Pasal 2 ayat 4a  menyebutkan: “Zakat mal sebagaimana dimaksud pada ayat (1)  meliputi: a.  emas, perak, dan logam mulia lainnya.”

Pasal 4 ayat 4 menyebutkan: “Syarat dan tata cara penghitungan zakat mal dan zakat fitrah dilaksanakan sesuai dengan syariat Islam.”

Jelaskan UU no 23 tahun 2011 ini memberikan landasan hukum yang sangat kokoh bagi peredaran dan penggunaan kembali koin emas Dinar dan koin perak Dirham.  Tanpa kedua koin sunnah ini justru UU Zakat tersebut tidak bisa dijalankan. Segala urusan zakat dalam UU itu dinyatakan harus sesuai dengan syariat Islam.

“Syarat dan tata cara perhitungan zakat mal” yang dimaksud antara lain tentu saja adalah nisab dan haul. Sedangkan nisab  zakat mal telah ditetapkan sebanyak 20 dinar emas atau 200 dirham perak. Itulah yang “sesuai dengan syariat Islam” sebagaimana dimaksud oleh Pasal 4 ayat 4 di atas.

Dalam kitab Muwatta Imam Malik berkata, “Sunnah yang tidak ada perbedaan pendapat tentangnya di antara  kita  adalah, bahwa zakat diwajibkan pada emas senilai dua puluh dinar, sebagaimana pada (perak) senilai dua ratus dirham.”  Inilah nisab zakat yang merupakan konsensus ulama, acuannya dalah Dinar dan Dirham, bukan satuan gram emas dan perak. Ini penting dipahami karena Dinar dan Dirham tidak identik dengan emas dan perak lantakan, khususnya sebagai acuan penetapan nisab dan nilai serta harga (dalam hudud, mahar, diyat, dsb).

Demikian pula sebagai alat bayar zakat mal dan harta perniagaan, fiqih empat madhab, semuanya menyatakan harus dibayar dengan dinar emas dan dirham perak.  Imam Syafi’i, dalam kitabnya Risalah (1987:165) menyatakan:  ”Rasulullah memerintahkan pembayaran zakat dalam perak, dan kaum Muslim mengikuti presedennya dalam emas, baik berdasarkan [kekuatan] hadits yang diriwayatkan kepada kita atau berdasarkan [kekuatan] analogi bahwa emas dan perak adalah penakar harga yang digunakan manusia untuk menimbun atau membayar komoditas di berbagai negeri sebelum kebangkitan Islam dan sesudahnya.”

Syekh Muhammad Illysh, Mufti Al Azhar, mewakili posisi Madhhab Maliki, secara tegas mengharamkan uang kertas sebagai alat pembayar zakat. Pendapatnya:  ”Kalau zakat menjadi wajib karena pertimbangan substansinya sebagai barang berharga (merchandise), maka nisabnya tidak ditetapkan berdasarkan nilai [nominal] nya melainkan atas dasar substansi dan jumlahnya, sebagaimana pada perak, emas, biji-bijian atau buah-buahan. Karena substansi [uang kertas] tidak relevan [dalam nilai] dalam hal zakat, maka ia harus diperlakukan sebagaimana tembaga, besi atau substansi sejenis lainnya.”

Adapun  Imam Abu Yusuf,  fakih dan satu di antara dua murid utama Imam Abu Hanifah, menulis surat kepada Sultan Harun Al Rashid, (memerintah 170H/786M-193H/809M), menegaskan keharaman uang selain emas dan perak sebagai alat pembayaran. Ia menulis:  ”Haram hukumnya bagi seorang Khalifah untuk mengambil uang selain emas dan perak, yakni koin yang disebut Sutuqa, dari para pemilik tanah sebagai alat pembayaran kharaj dan ushr mereka. Sebab walaupun koin-koin ini merupakan koin resmi dan semua orang menerimanya, ia tidak terbuat dari emas melainkan tembaga. Haram hukumnya menerima uang yang bukan emas dan perak sebagai zakat atau kharaj.”

Dengan mengacu kepada UU no 23 tahun 2011 marilah kita galakkan pembayaran zakat hanya dengan Dinar emas dan Dirham perak.