Kredit Macet Perbankan di Indonesia Meningkat

1186

Kredit macet (Non Performing Loans) di perbankan indonesia meningkat. Dan, bukan cuma meningkat macetnya, tapi bidang industri yang mengalami kemacetan kredit juga  bertambah banyak sektornya. Awalnya di sektor pertambangan kemudian menjalar  di sektor-sektor lain di perdagangan dan industri pengolahan (manufaktur).

Demikian Dr Sigid Kusumowidagdo, pengamat ekonomi di Jakarta, menyampaikan sejumlah data baru.  Berikut ini data kredit dari total dana yang dipinjamkan, tingkat kemacetannya mencapai:

JANUARI 2017 = 3,1 %

DESEMBER 2016 = 2,93 %

DESEMBER 2015 = 2,49 %

Tingkat kredit macet jika melebihi 4% dari total pinjaman secara umum bisa dikatagorikan berbahaya bagi kelangsungan usaha perbankan, akan menggerus cadangan dan modal bank.

Kredit dikatakan macet jika dalam sedikitnya 90 hari tidak ada pembayaran sesuai jadwalnya dari nasabah bank. Dalam keadaan itu nasbah mengalami Default (gagal bayar) atau “Close to Being Default’ (hampir gagal bayar).

Jika kredit macet terjadi banyak bank menunjukan ekonomi secara umum (ekonomi negara) dalam keadaan tidak baik atau kondisnys merosot.

Suatu contoh  Bank BUMN terbesar sekaligus bank terbesar di indonesai, Bank Mandir di kuartal 1 2017 kredit macetnya mencapai 3,98 % naik dibadingkan dengan tingkat Kuartal 1 2016 sebesar 3,18 %.

(Sumber data  Indonesiainvestment, 8 Maret 2017)

Banyaknya kredit macet juga disebabkan karena negara kurang bisa mengatasi dampak fluktuasi ekonomi dunia, fluktuasi nilai rupiah. Dalam kondisi seperti ini maka bank-bank disarankan untuk tidak membagi deviden (keuntungan usaha) karena akan memperlemah sumber dana bank.  Kebijakan. Pemurunan bunga bank akan menambah kredit yang berkualitas rendah berpotensi untuk macet.

Untuk memperbaiki keadaan ini tidak bisa diharapkan dari perbaikan nasabah, nasabah atau sektor industri ke sektor industri, bank ke bank tetapi perbaikan menjemen ekonomi negara secara menyeluruh. Kepemimpinan Pemerintah dalam kehidupan ekonomi perlu diperbaiki.