Kredit Macet Perbankan Indonesia Cenderung Naik. Tanda Ekonomi Tak Sehat

996

Naiknya kredit macet di perbankan akibat kurang lancarnya arus uang (cashfiow) perusahaan atau perorangan peminjam dana bank (disebut debitur) mencerminkan kondisi lingkungan ekonomi tempat mereka berusaha tidak sehat.
1. TINGKAT KESULITAN PEMBAYARAN UTANG
Kemacetan kredit itu tingkatamya berbeda -beda yang disebut tingkat kolekbilitas berupa lancar tidaknya pembayaran pokok dan bunga pinjaman oleh debitur/peminjam. Tingkat Kolektibilitas dari Tngkat 1 (lancar) sampai 5 (Macet) sbb:
Tingka 1: Pembayaran pokok dan bunga kredit lancar.
Tingkat 2: Satu sampai dua bulan tidak lancar,  status “Perlu Pengawasan/Perhatian Khusus”
Tingkat 3:  Selama 3 bulan tidak teratur pembayarannya atau “Tidak Lancar”
Tingkat 4: Empat bulan atau 90 hari tidak membayar. Status peminjam “Diragukan” kemampuannya melunasi
Tingkat 5: Enam bulan atau 180 hari ke atas tidak bayar. disebut “kredit Macet”.

2. PENYEBAB KREDIT MACET SECARA UMUM.
Ada penyebab khusus yang berbeda beda antar perusahaan. Bisa diakibatkan masalah menajemen, kegagalan strataegi pemasaran atau persoalan teknis lainnya. Tetapi secara umum yang terkait kondisi makro ekonomi. penyebab yang utama adalah:
a. Anjloknnya penjualan karena permintaan atas produk atau jasa perusahaan jatuh, daya beli konsemen turun.
b. Biaya-biaya produks naik sepeti bahan baku naik pembayaran kredit dagang ke pemasok naik, karena jatuhnya nilai rupiah. Hal lain adalah perusahaan pendapatannya dalam rupiah sedangkan pembayaran bahan produksi dalam dolar sehingga arus uang pendapatan makin kecil

3.  KETENTUAN TENTANG KREDIT MACET

Kredit macet itu berbeda-beda tingkatannya di bebagai sektorLjenis industri, jenis usaha, wilayah/propinsi karena kondisi ekonominya berbeda. Tetapi Bank Indonesia menetapkan Kredit Macet tidak boleh melebihi 5 % bagi debitur dan kreditur (bank). Angka 5 % ke atas akan berisiko tinggi menimbulkan hambatan terhadap kelancaran usaha. dan melemahkan industri perbankan sendiri

4. KREDIT MACET SECARA NASIONAL
Di bulan Juli 2016 jumlah kredit yang dikucurkan seluruh bank di Indonesia (188 bank) . Sebesar Rp 4,160 Trilyun,yang macet di Agustus. 2016 sebesar 3,2 % naik dari tahun sebelumnya, 2015 3,18 %. Kondisi sebelumnya di kisaran 1,59 % sampai 2,5 %.

Tetapi menurut data BI sepanjang kuartal 2 (April – Juni 2016) Kredir macet mencapai net 7 % atau gross 11,19 % Yang masuk tingkat kolektibilitas 5 (6 bulan gagal bayar sebesar ) 7 %. Banyak bank telah menjual aset-asey jaminan yang diserahkan debitur.

5. SEKTOR2 BISNIS/ INDUSTRI DENGAN KREDIT MACET TINGGI
Walaupun secara nasional belum mencapai 5 % kredit macetnya beberapa sektor telah mendekati 5 %: yaitu
a.Konstruksi = 4,89 %
b.Pertambangan & Penggalian= 4,63 %
c.Perdagangan Besar & Kecil = 4,22 %
5 Perbankan = 3.1 % (naik 38 basis point dari 2015 sebesar 2,86 %).
Bisnis-bisnis yang terkait sektor di atas seperti alat berat,transportasi juga kena imbasnya.

Naiknya kredit macet di perbankan memberatkan bank karena Bank harus menaikkan dana cadangan untuk mengatasi kerugian akibat kredit macet dan dana cadangan itu harus ada terus dan tidak bisa dikucurkan untuk kredit. Hal ini merugikan bank karena potensi . pendapatan bunga bank berkurang.

KESIMPULAN: Masalaah ekonomi yang dihadapi pemerintah Jokow-JK makin kompleks bukan hanya nilai rupiah, melonjaknya utang, merosotnya penerimaan (ekspor/pajak/bea cukai), defisit anggaran yang makin melebar, pembayaran utang yang naik dan kondisi perbankan yang tertekan.

Demikia ulasan dan analisis dari Dr Sigid Kusumowidagdo.

images